Upaya mengenalkan dan melestarikan kekayaan alam serta budaya Nusantara terus dilakukan melalui kegiatan Nusantara Treasure Expedition Chapter 1 Bawean, sebuah inisiatif yang berfokus pada pendokumentasian kekayaan bio-cultural diversity Indonesia. Kegiatan ini menghadirkan kolaborasi lintas bidang untuk menggali potensi Pulau Bawean, Kabupaten Gresik, Jawa Timur, melalui kajian sosial budaya, konservasi alam, dan ekonomi maritim.
CEO Likur Production, Reyhan Agung Wicaksono, S.Km, menjelaskan bahwa Nusantara Treasure Expedition hadir sebagai langkah untuk mendokumentasikan berbagai kekayaan Nusantara yang selama ini belum banyak terekspos kepada publik.
“Nusantara Treasure Expedition adalah sebuah inisiatif untuk mendokumentasikan kekayaan bio-cultural diversity Nusantara. Dokumentasi ini diwujudkan melalui karya ilmiah berupa artikel ilmiah dan book chapter, serta karya kreatif audio visual seperti film dokumenter dan konten media sosial. Harapannya, dokumentasi ini dapat membantu upaya preservasi kekayaan bio-cultural diversity yang jarang terekspos, sekaligus membuka peluang penelitian dan pendayagunaan lebih lanjut bagi masyarakat luas, khususnya masyarakat yang tinggal di wilayah tersebut,” ujar Reyhan.
Pemilihan Pulau Bawean sebagai lokasi ekspedisi pertama bukan tanpa alasan. Pulau yang berada di wilayah Kabupaten Gresik tersebut memiliki kekayaan biodiversitas serta narasi sosial budaya yang kuat, namun menghadapi tantangan berupa keterbatasan akses, perubahan sosial, dan perkembangan digitalisasi yang dapat memengaruhi keberlanjutan pengetahuan lokal.
Dalam proposal kegiatan, Pulau Bawean disebut memiliki kekayaan bentang alam, kehidupan masyarakat pesisir, tradisi, pengetahuan lokal, serta keanekaragaman hayati yang penting untuk dikenal dan didokumentasikan. Kekayaan tersebut tidak hanya dipandang sebagai potensi wisata, tetapi juga sebagai ruang hidup yang menunjukkan hubungan erat antara manusia, budaya, dan lingkungan.
Ekspedisi ini melibatkan delapan peneliti lintas sektor yang terbagi dalam tiga bidang utama, yaitu eksplorasi sosial budaya, konservasi ekologi, dan ekonomi maritim. Kajian yang dilakukan mencakup hubungan manusia dengan lingkungan, pelestarian satwa endemik, dinamika masyarakat pesisir, peran gender, hingga potensi pemberdayaan ekonomi lokal. Proposal Nustantara Treasure.
Salah satu penelitian yang menjadi perhatian dalam ekspedisi ini adalah kajian mengenai perempuan pesisir. Menurut Sanita Carolina Sasea, peneliti sosial budaya yang terlibat dalam kegiatan tersebut, ekspedisi ini tidak hanya menjadi perjalanan ilmiah, tetapi juga ruang kolaborasi untuk memahami berbagai persoalan sosial yang berkembang di wilayah pesisir.
“Kegiatan ini tidak hanya menjadi sebuah perjalanan ilmiah yang telah dipersiapkan secara matang, tetapi juga menjadi wadah kolaborasi bagi para peneliti untuk menggali berbagai isu sosial yang berkembang di wilayah pesisir. Salah satu kajian yang dilakukan berfokus pada perempuan pesisir sebagai kelompok sosial yang memiliki peran penting dalam keberlanjutan kehidupan masyarakat pesisir,” jelas Sanita.
Menurutnya, penelitian tersebut melihat kontribusi perempuan pesisir dalam berbagai aspek, mulai dari ekonomi keluarga, budaya, ketahanan sosial, hingga pengelolaan lingkungan. Kajian ini memiliki keterkaitan erat dengan agenda Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDGs 5 tentang Kesetaraan Gender dan SDGs 14 tentang Ekosistem Laut, serta mendukung pembangunan masyarakat pesisir yang inklusif dan berkelanjutan.
Selain aspek sosial, kegiatan ini juga memberikan perhatian terhadap konservasi lingkungan. Perwakilan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Timur, Nurhayyan Jahansyah, S.Kom, yang saat ini diperbantukan di RKW 09 Gresik Bawean, menyampaikan bahwa kegiatan seperti Nusantara Treasure Expedition memiliki peran penting dalam meningkatkan edukasi masyarakat mengenai perlindungan lingkungan.
“Dengan adanya kegiatan seperti ini tentunya dapat menambah edukasi kepada masyarakat, terutama mengenai pentingnya menjaga lingkungan. Masyarakat perlu memahami agar tidak melakukan penebangan pohon secara sembarangan karena dapat merusak kawasan cagar alam serta mengancam keberadaan hewan-hewan yang dilindungi seperti Rusa Bawean (Axis kuhlii),” ungkap Nurhayyan.
Rusa Bawean (Axis Kuhlii) merupakan salah satu satwa endemik yang menjadi bagian penting dari kekayaan biodiversitas Pulau Bawean. Melalui kegiatan ini, upaya konservasi tidak hanya dilakukan melalui perlindungan habitat, tetapi juga melalui peningkatan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem.
Nusantara Treasure Expedition Chapter 1 Bawean menghasilkan berbagai bentuk dokumentasi, mulai dari video dokumenter, konten media sosial, foto dokumentasi, digital storybook/e-book, hingga laporan kegiatan. Dokumentasi tersebut diharapkan menjadi dasar untuk pengembangan penelitian, edukasi lingkungan, kampanye pelestarian, dan program pemberdayaan masyarakat secara berkelanjutan. Melalui pendekatan kolaboratif antara peneliti, masyarakat lokal, dan lembaga konservasi, kegiatan ini menjadi salah satu bentuk kontribusi nyata dalam mendukung pencapaian SDGs. Nusantara Treasure Expedition menunjukkan bahwa pelestarian alam dan budaya tidak dapat dipisahkan dari upaya membangun masyarakat yang lebih inklusif, berdaya, dan berkelanjutan.









