Semarang — Prestasi internasional kembali ditorehkan Paduan Suara Universitas Negeri Semarang (UNNES) Voice of Conservation dengan meraih Gold Award Level II dalam ajang Penabur International Choir Festival 2026 pada kategori Mixed Choir Level B. Tim paduan suara tersebut memperoleh skor akhir 86,01 dalam kompetisi yang diselenggarakan oleh Penabur Intercultural School.
Capaian tersebut menjadi bukti kemampuan mahasiswa dan anggota Voice of Conservation dalam berkompetisi di tingkat internasional melalui seni paduan suara. Mengusung tema “Harmony in Diversity, One Voice, One World”, festival tersebut menjadi ruang perjumpaan peserta dari beragam latar belakang untuk menampilkan kemampuan musikal sekaligus membangun semangat persatuan melalui musik.
Dalam ajang tersebut, Voice of Conservation tampil pada kategori Mixed Choir Level B, yang mempertemukan kelompok paduan suara dengan komposisi vokal campuran. Perolehan Gold Award Level II dengan skor 86,01 menunjukkan kualitas penampilan yang berhasil memenuhi standar penilaian kompetisi dan mengantarkan Voice of Conservation meraih penghargaan pada ajang internasional tersebut.
Prestasi ini juga tidak terlepas dari kontribusi mahasiswa FISIP UNNES yang menjadi bagian dari Voice of Conservation. Dua di antaranya adalah Syafina Bilqis Ruwahyina Fachmi, mahasiswa Program Studi Pendidikan Sosiologi dan Antropologi, serta Luvena Aurellya Diskananda, mahasiswa Program Studi Geografi.
Keterlibatan kedua mahasiswa tersebut menunjukkan bahwa aktivitas seni dan pengembangan bakat dapat berjalan berdampingan dengan proses akademik. Pengalaman berorganisasi dan berkompetisi melalui paduan suara juga memberikan ruang bagi mahasiswa untuk mengembangkan berbagai kompetensi, seperti kerja sama, disiplin, komunikasi, kepercayaan diri, dan kemampuan beradaptasi dalam lingkungan yang beragam.
Tema “Harmony in Diversity, One Voice, One World” juga memiliki relevansi kuat dengan kehidupan masyarakat yang plural. Paduan suara mempertemukan individu dengan latar belakang yang berbeda untuk menghasilkan satu kesatuan musikal. Proses tersebut menuntut setiap anggota untuk mampu mendengarkan, menghargai perbedaan, serta bekerja bersama demi mencapai tujuan yang sama.
Bagi mahasiswa FISIP, pengalaman tersebut memiliki nilai pembelajaran yang lebih luas karena selaras dengan kompetensi sosial yang dibangun melalui pendidikan. Interaksi dalam kelompok yang beragam dapat menjadi ruang untuk mempraktikkan toleransi, komunikasi, solidaritas, dan kerja kolaboratif, yang merupakan bagian penting dalam kehidupan bermasyarakat.
Capaian Voice of Conservation dalam festival internasional tersebut juga mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), terutama SDG 4: Quality Education (Pendidikan Berkualitas) melalui pengembangan kompetensi, kreativitas, dan pengalaman belajar mahasiswa di luar ruang kelas. Semangat keberagaman dan kebersamaan yang diusung melalui tema festival juga sejalan dengan upaya membangun masyarakat yang inklusif, saling menghargai, dan mampu bekerja sama lintas perbedaan.
Lebih jauh, partisipasi dalam ajang internasional turut memperluas ruang interaksi dan jejaring global bagi mahasiswa UNNES. Melalui seni, mahasiswa dapat memperkenalkan nilai keberagaman sekaligus membangun komunikasi lintas budaya dalam semangat persahabatan dan kolaborasi.
Raihan Gold Award Level II dengan skor 86,01 tersebut menjadi tambahan prestasi bagi UNNES sekaligus menegaskan bahwa pengembangan mahasiswa dapat dilakukan melalui berbagai bidang, termasuk seni dan kebudayaan. Keberhasilan Voice of Conservation bersama mahasiswa FISIP UNNES menjadi cerminan bahwa semangat harmoni dalam keberagaman dapat diwujudkan melalui satu suara, kerja sama, dan komitmen untuk memberikan penampilan terbaik di panggung internasional.




