Pembelajaran mitigasi bencana di sekolah dasar di kawasan rawan erupsi Gunung Merapi tidak cukup hanya mengenalkan konsep kebencanaan. Pengetahuan tersebut perlu dihubungkan dengan pengalaman hidup siswa, lingkungan tempat tinggal, serta kearifan lokal masyarakat yang hidup di lereng Merapi.
Temuan tersebut menjadi salah satu dasar pengembangan Model EduMERAPI yang dikembangkan Mukhlis Mustofa dalam penelitian doktoralnya pada Program Studi Doktor Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (PIPS) FISIP Universitas Negeri Semarang (UNNES).
Penelitian itu mengembangkan model pembelajaran tematik bencana erupsi gunungapi yang mengintegrasikan pendidikan mitigasi bencana dengan kearifan lokal masyarakat Merapi. Model tersebut dirancang untuk meningkatkan kesadaran dan kepedulian siswa sekolah dasar terhadap mitigasi bencana sejak dini.
Mukhlis memaparkan hasil penelitiannya dalam ujian terbuka Program Doktor PIPS yang berlangsung di Aula FISIP UNNES, Sekaran, Gunungpati, Semarang, Rabu (12/8/2026).
Menurut Mukhlis, kebaruan penelitian terletak pada upaya memasukkan kondisi sosial dan budaya masyarakat di lereng Merapi ke dalam pembelajaran kebencanaan. Selama ini, pembelajaran terkait muatan lokal dan aspek kehidupan masyarakat di kawasan tersebut belum banyak disentuh dalam pembelajaran mitigasi bencana.“Kebaruan pada EduMERAPI adalah melihat kondisi masyarakat dan budaya yang dianut masyarakat di lereng Merapi, aktivitas belajar siswa, serta penelitian yang berkaitan dengan muatan lokal. Sentuhan dengan kearifan lokal ini yang saya angkat,” kata Mukhlis.
Ia juga menelaah kurikulum yang berlaku, termasuk Kurikulum 2013, serta perangkat pembelajaran yang digunakan di sekolah dasar di kawasan penelitian. Salah satunya adalah RPP di SD Tlogolele yang telah menunjukkan keterkaitan pembelajaran dengan lingkungan melalui tema “Bumiku Sayang, Bumiku Malang”.
Penelitian dilakukan di kawasan rawan bencana Gunung Merapi, khususnya Desa Jrakah, Klakah, dan Tlogolele, Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali. Kawasan tersebut memiliki pengalaman langsung menghadapi aktivitas Merapi, termasuk peningkatan aktivitas gunung pada 2020 dan berbagai kejadian kegempaan pada tahun-tahun berikutnya. Kondisi erupsi yang waktunya tidak selalu dapat diprediksi menjadi pertimbangan penting dalam pembelajaran kebencanaan di sekolah.
Dari penelitian tersebut, Mukhlis menghasilkan Modul Pembelajaran Tematik Erupsi Gunungapi untuk siswa sekolah dasar serta Model EduMERAPI. Modul tersebut menempatkan kearifan lokal masyarakat Merapi sebagai salah satu sumber belajar.
Model yang dikembangkan tidak berhenti pada penguasaan pengetahuan mengenai erupsi. Berdasarkan landasan konstruktivisme, pembelajaran dirancang melalui tahapan orientasi fenomena erupsi, eksplorasi pengetahuan awal, pembelajaran tematik berbasis masalah, integrasi kearifan lokal, simulasi mitigasi, refleksi nilai kepedulian, dan aksi nyata kesiapsiagaan.
Model tersebut juga menggunakan perspektif teori sistem ekologi. Artinya, kepedulian dan kesiapsiagaan anak terhadap bencana tidak hanya dibentuk melalui pembelajaran di kelas, tetapi juga melalui interaksi dengan keluarga, kebijakan pemerintah daerah, sekolah, serta nilai budaya masyarakat di lingkungan tempat tinggal mereka.
Dalam sidang, Prof. Eva Banowati, salah satu penguji, menyoroti pentingnya memastikan model dan modul benar-benar dapat digunakan dalam pembelajaran di sekolah dasar. Menurut dia, pembelajaran tematik tersebut didukung oleh tiga bidang ilmu dan dikembangkan dalam bentuk modul pembelajaran erupsi Merapi untuk siswa kelas V.
Modul itu dapat ditempatkan sebagai suplemen pembelajaran yang melengkapi buku teks utama maupun buku pendamping. Agar penggunaannya efektif, guru perlu memahami isi modul sebelum diberikan kepada siswa.
Pertanyaan lain dalam sidang berkaitan dengan praktik mitigasi. Penggunaan modul diharapkan tidak hanya berhenti pada membaca materi, tetapi dapat diterjemahkan dalam aktivitas pembelajaran seperti simulasi evakuasi dan bermain peran. Mukhlis menjelaskan bahwa implementasi model juga berkaitan dengan keberadaan tim siaga sekolah dan metode pembelajaran yang digunakan.
Aspek bahasa dalam modul juga menjadi perhatian. Mukhlis menjelaskan bahwa sebelum modul dicetak, materi telah dimintakan masukan dari berbagai pihak untuk memastikan kelayakan penggunaannya, termasuk kesesuaiannya dengan karakteristik siswa sekolah dasar kelas V.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran mitigasi bencana erupsi Gunungapi di sekolah dasar Kecamatan Selo sebelumnya belum dilaksanakan secara optimal. Penerapan Model MERAPI-EDU kemudian menunjukkan peningkatan kesadaran dan kepedulian peserta didik terhadap mitigasi bencana.
Model tersebut dinilai layak, praktis, dan efektif sebagai alternatif pembelajaran di sekolah dasar kawasan rawan bencana. Kontribusi utamanya adalah mengintegrasikan pembelajaran tematik, pendidikan mitigasi bencana, dan kearifan lokal dalam satu kerangka pembelajaran.
Ketua tim penguji, Prof. Arif Purnomo, mengapresiasi penelitian Mukhlis yang dinilai memiliki kedekatan dengan realitas kehidupan masyarakat di kawasan rawan bencana. “Doktor Mukhlis merupakan doktor ke-18 lulusan FISIP. Sidang berjalan lancar dan beliau menjawab pertanyaan dengan semangat serta lancar. Saya sungguh sangat bangga hadir hari ini,” ujar Prof. Arif.
Ia juga menilai ketertarikan Mukhlis pada pendidikan kebencanaan memiliki relevansi kuat dengan latar belakangnya sebagai guru Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) sekaligus dengan kondisi wilayah tempat tinggal masyarakat di lereng gunungapi yang menghadapi ancaman erupsi.
Dengan model EduMERAPI, pendidikan kebencanaan ditempatkan bukan sekadar sebagai pengetahuan tentang bencana, tetapi sebagai bagian dari upaya membangun budaya sadar dan siaga bencana sejak usia dini. Penelitian Mukhlis juga membuka peluang pengembangan model serupa untuk jenis bencana lain dan jenjang pendidikan yang berbeda.
Pendekatan ini turut berkontribusi pada pencapaian SDGs, khususnya SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas, melalui penguatan pendidikan kebencanaan dan kesiapsiagaan berbasis konteks serta kearifan lokal. Integrasi kearifan lokal dalam pembelajaran mitigasi bencana juga mendukung SDG 11 tentang Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan, terutama dalam membangun masyarakat yang tangguh di wilayah rawan bencana.




