Kearifan lokal Gusjigang yang selama ini lekat dengan identitas masyarakat Kudus dapat dikembangkan menjadi fondasi pendidikan karakter bagi calon guru. Nilai gus atau bagus akhlaknya, ji atau ngaji dan mencintai ilmu, serta gang atau dagang dan menciptakan nilai tambah tidak berhenti sebagai filosofi budaya, tetapi dapat dihidupkan dalam ekosistem pendidikan tinggi.
Temuan tersebut menjadi salah satu hasil penelitian Santoso dalam disertasinya yang berjudul “Penguatan Pendidikan Karakter Berbasis Kearifan Lokal Gusjigang”. Disertasi itu diuji dalam Sidang Terbuka Doktor Program Doktor Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Negeri Semarang di Aula FISIP UNNES, Sekaran, Gunungpati, Semarang, Rabu (12/8/2026).
Penelitian Santoso berangkat dari persoalan pendidikan karakter calon guru di tengah globalisasi, disrupsi digital, dan budaya instan. Menurut penelitian tersebut, mahasiswa PGSD membutuhkan fondasi karakter yang tidak hanya religius, tetapi juga ilmiah, kreatif, mandiri, dan memiliki integritas.
Penelitian dilakukan dengan pendekatan kualitatif dan tipe fenomenologi di Program Studi PGSD FKIP Universitas Muria Kudus. Informan penelitian meliputi pimpinan program studi, dosen, pembina, dan mahasiswa. Data diperoleh melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi, kemudian dianalisis secara tematik-fenomenologis.
Hasil penelitian memperlihatkan bahwa pendidikan karakter berbasis Gusjigang tidak efektif apabila ditempatkan sebagai program yang berdiri sendiri. Nilai tersebut justru perlu diintegrasikan ke dalam kurikulum, RPS, metode pembelajaran, budaya akademik, kegiatan mahasiswa, interaksi sosial, keteladanan dosen, hingga pengalaman mahasiswa di sekolah mitra.
“Gus” dalam penelitian Santoso dimaknai sebagai pembentukan akhlak dan etika. Nilai itu diwujudkan melalui kesantunan, disiplin, tanggung jawab, integritas, budaya 5S, serta penghormatan kepada dosen. Pembiasaan dan keteladanan kemudian diharapkan mengubah kepatuhan mahasiswa yang semula bersifat eksternal menjadi kesadaran moral sebagai calon guru.
Adapun “ji” tidak hanya dimaknai sebagai aktivitas mengaji dalam pengertian keagamaan. Dalam konteks pendidikan tinggi, nilai tersebut diperluas menjadi perpaduan spiritualitas dan literasi ilmiah. Mahasiswa didorong untuk berdoa, melakukan refleksi, membaca jurnal, berdiskusi secara kritis, memverifikasi sumber, serta menggunakan teknologi dan kecerdasan artifisial secara etis.
Sementara itu, “gang” diterjemahkan sebagai kemampuan menciptakan nilai melalui kreativitas dan kewirausahaan pendidikan. Mahasiswa tidak hanya diarahkan untuk memahami persoalan pembelajaran, tetapi juga mampu mengubah persoalan tersebut menjadi produk media, alat bantu, ataupun program pendidikan yang bermanfaat bagi peserta didik dan masyarakat.
“Gang” dengan demikian tidak dimaknai secara sempit sebagai aktivitas berdagang. Penelitian menemukan bahwa nilai tersebut dapat diwujudkan melalui project-based learning, inovasi media pembelajaran, produk edukatif, bazar, dan edupreneurship.
Dari berbagai temuan tersebut, Lelaki kelahiran Kudus 41 tahun lalu ini merumuskan Gusjigang sebagai sebuah “ekologi moral” bagi pendidikan calon guru. Nilai lokal bertemu dengan sistem akademik, pengalaman autentik, dan refleksi mahasiswa hingga membentuk habitus profesional calon guru.
Nilai gus membangun moralitas dan etika sosial. Nilai ji menghubungkan spiritualitas dengan literasi ilmiah dan etika akademik. Adapun gang mendorong kreativitas, inovasi, kemandirian, dan edupreneurship. Ketiganya dinilai efektif ketika dijalankan dalam ekosistem pendidikan yang konsisten.
Penelitian juga menemukan adanya struktur nilai yang bersifat hierarkis. “Ngaji” atau ji menjadi fondasi keilmuan dan spiritualitas. Pengetahuan tersebut kemudian diwujudkan dalam perilaku berakhlak melalui nilai gus. Selanjutnya, perpaduan keduanya menjadi landasan tindakan produktif melalui nilai gang, termasuk pembuatan media pembelajaran dan kewirausahaan pendidikan yang berorientasi pada kemanfaatan sosial.
Bapak dari satu orang putra ini menilai temuan tersebut penting karena calon guru tidak cukup hanya menguasai pengetahuan akademik. Mereka juga perlu memiliki karakter, kemampuan berpikir kritis, kreativitas, kemandirian, serta kemampuan menciptakan solusi pendidikan.
Ketua Tim Penguji, Prof. Arif Purnomo, mengatakan ujian terbuka tersebut merupakan tahap kedua ujian disertasi pada Program Doktor Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial. Berdasarkan keputusan tim penguji, Santoso dinyatakan diterima dan lulus sebagai doktor.
Santoso menjadi doktor ke-16 lulusan FISIP UNNES. Ia menyelesaikan studi doktoralnya dalam waktu enam tahun 11 bulan. Disertasinya memperoleh nilai 3,86 dengan predikat sangat memuaskan.
Dalam kesempatan tersebut, Prof. Arif juga menyoroti perjalanan panjang yang ditempuh Santoso selama menyelesaikan pendidikan doktor. Menurut dia, waktu panjang tersebut harus menghasilkan karya yang dapat ditorehkan dan memberikan manfaat lebih luas. “Yang penting sekarang bagaimana hasil itu ditorehkan untuk bersama. Kearifan lokal yang bermutu dan berkualitas bisa mewarnai PGSD,” ujar Prof. Arif dalam pesan kepada Santoso.
Ia berharap gagasan tersebut tidak berhenti pada lingkungan perguruan tinggi tempat penelitian dilakukan. Menurut dia, pendidikan calon guru SD perlu memiliki terobosan yang dapat dikembangkan secara lebih luas, termasuk melalui pengalaman konkret di sekolah.
Prof. Arif juga menekankan pentingnya keseimbangan antara penguasaan keilmuan dan pembentukan moral. Calon guru, menurut dia, harus memiliki substansi keilmuan dan penguasaan teknologi, tetapi tetap menjadikan nilai moral sebagai landasan perilaku.
Pesan tersebut sejalan dengan temuan penelitian Santoso yang menempatkan Gusjigang sebagai ekologi moral kontemporer. Dalam model yang dikembangkan, karakter calon guru yang diharapkan meliputi religius, santun, kritis, berintegritas, kreatif, dan mandiri.
Promotor Prof. Suyahmo mengatakan, kelulusan doktoral tersebut merupakan hasil dari perjuangan panjang yang tidak terlepas dari dukungan keluarga. Menurut dia, keluarga menjadi salah satu kunci yang mendorong Santoso menyelesaikan pendidikan doktoralnya. “Mulai saat ini Santoso sudah resmi menggunakan gelar doktor. Perjuangan demikian ini tidak lepas dari dorongan keluarga,” kata Prof. Suyahmo.
Ia menilai Santoso telah menunjukkan kesungguhan dalam meningkatkan kualitas pendidikan dan karya ilmiahnya. Berbagai kendala yang muncul selama proses pendidikan dihadapi dengan kesabaran dan ketawakalan.
Bagi Prof. Suyahmo, perjalanan akademik Santoso sekaligus dapat dibaca sebagai praktik nilai Gusjigang. Peningkatan kualitas ilmu dan karya ilmiah menunjukkan dimensi ji, sedangkan upaya membangun karakter dan perilaku mencerminkan dimensi gus. “Sepanjang hayat di kandung badan, jangan berhenti,” ujar Prof. Suyahmo.
Santoso sendiri dikenal memiliki latar belakang pendidikan yang dekat dengan dunia pendidikan. Ia menyelesaikan pendidikan S1 di Universitas Negeri Semarang pada bidang PPKn. Ia kemudian melanjutkan pengembangan keilmuan yang berkaitan dengan pendidikan IPS dan PGSD. Lahir pada 8 Maret 1985, Santoso juga memiliki pengalaman di lembaga pendidikan yang mencakup jenjang SD hingga SMA.
Di luar aktivitas akademiknya, Santoso dikenal memiliki kegemaran minum kopi dan aktif di Masjid Baiturroh. Perjalanan akademik hingga jenjang doktor tersebut, menurutnya, merupakan bagian dari keinginan untuk terus meningkatkan kapasitas diri.
Disertasinya pada akhirnya menawarkan satu pesan utama: kearifan lokal tidak harus berhenti sebagai simbol budaya. Ketika diterjemahkan ke dalam kurikulum, pembelajaran, keteladanan, pengalaman mahasiswa, dan budaya akademik, Gusjigang dapat menjadi cara untuk membentuk calon guru yang tidak hanya cakap secara keilmuan, tetapi juga memiliki akhlak, integritas, kreativitas, dan kepedulian terhadap kemanfaatan pendidikan.
Temuan ini juga membuka peluang pengembangan lebih lanjut melalui instrumen pengukuran karakter Gusjigang, penelitian dengan pendekatan mixed methods, studi longitudinal, serta perbandingan penerapannya di berbagai perguruan tinggi.




