Batang – Universitas Negeri Semarang (UNNES) terus menunjukkan komitmennya dalam mendorong pembangunan masyarakat berbasis potensi lokal melalui program Pengabdian kepada Masyarakat skema Pemberdayaan Wilayah (PW). Memasuki tahun kedua pelaksanaan program multiyear 2025–2027, tim pengabdian UNNES kembali melaksanakan pendampingan pengembangan agrowisata berbasis komunitas di Desa Pesantren, Kecamatan Blado, Kabupaten Batang.
Program yang didanai oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi ini bertujuan meningkatkan kapasitas masyarakat desa dalam mengelola sumber daya lokal secara mandiri, produktif, dan berkelanjutan. Kegiatan melibatkan dua kelompok masyarakat sebagai mitra utama, yaitu Kelompok Tani Melati Sejahtera dan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) SADESA, dengan dukungan penuh Pemerintah Desa Pesantren yang dipimpin oleh Kepala Desa Sukirno.
Tim pelaksana program dipimpin oleh Dr. Moh. Solehatul Mustofa, M.A., bersama Prof. Dr. Ir. Amin Retnoningsih, M.Si., Dr. Hartati Sulistyo Rini, S.Sos., M.A., serta Dr. Erik Aditia Ismaya, S.Pd., M.A. dari Universitas Muria Kudus. Sejumlah mahasiswa dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) serta Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) UNNES juga terlibat aktif dalam proses pendampingan masyarakat.
Keberhasilan program pada tahun pertama menjadi fondasi penting bagi pengembangan agrowisata di Desa Pesantren. Berbagai capaian telah dihasilkan, antara lain pembangunan demplot tanaman unggulan, pengembangan produk olahan hasil pertanian dan suvenir lokal, penguatan kelembagaan kelompok masyarakat, penyusunan standar operasional prosedur (SOP), pengembangan desain kemasan produk, hingga optimalisasi media promosi digital sebagai sarana pemasaran.
Pada tahun kedua, pendampingan difokuskan pada penguatan hilirisasi produk pertanian, penataan kawasan wisata, diversifikasi komoditas unggulan, penyusunan rute dan paket wisata edukatif, serta pengembangan strategi pemasaran digital yang lebih luas. Komoditas yang dikembangkan meliputi labu Butternut Jacqueline dan Kabocha, selada, markisa Red Panama dan Golden Panama, serta talas Pratama 2 yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan berpotensi menjadi daya tarik wisata edukasi.
Selain sektor pertanian, program ini juga mengintegrasikan potensi alam Desa Pesantren berupa sungai berbatu dengan aliran air yang jernih ke dalam konsep kawasan wisata. Potensi tersebut akan dipadukan dengan kebun edukatif sehingga menghadirkan pengalaman wisata yang menggabungkan pembelajaran pertanian, pelestarian lingkungan, dan penguatan ekonomi masyarakat berbasis potensi lokal.
Melalui program ini, masyarakat tidak hanya didorong untuk meningkatkan produktivitas pertanian, tetapi juga memperoleh keterampilan dalam pengelolaan wisata, pemasaran digital, dan pengembangan usaha berbasis komunitas. Pendekatan tersebut diharapkan mampu menciptakan sumber-sumber ekonomi baru yang berkelanjutan sekaligus memperkuat kemandirian desa.
Pelaksanaan program ini sejalan dengan komitmen UNNES dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). Pertama, SDG 8 (Decent Work and Economic Growth) melalui penciptaan peluang usaha produktif, peningkatan kapasitas ekonomi masyarakat, dan pengembangan kewirausahaan berbasis desa. Kedua, SDG 11 (Sustainable Cities and Communities) melalui pengembangan desa wisata yang berkelanjutan, partisipatif, dan berbasis komunitas. Ketiga, SDG 12 (Responsible Consumption and Production) melalui penguatan hilirisasi hasil pertanian lokal dan pemanfaatan sumber daya secara efisien. Selain itu, pemanfaatan potensi alam dan edukasi lingkungan dalam kawasan agrowisata juga berkontribusi terhadap SDG 15 (Life on Land) melalui upaya pelestarian lingkungan dan pengelolaan sumber daya alam secara berkelanjutan.
Melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah desa, kelompok tani, dan masyarakat, program ini diharapkan dapat menjadi model pengembangan agrowisata berbasis komunitas yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekaligus memperkuat pembangunan desa yang inklusif, mandiri, dan berkelanjutan.




