Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Negeri Semarang (FISIP UNNES) melalui Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) mendampingi masyarakat Desa Taman, Kabupaten Pemalang, mengembangkan pengelolaan sampah berbasis komunitas. Program ini tidak hanya diarahkan untuk menciptakan lingkungan yang lebih bersih, tetapi juga membantu warga mengurangi beban pengeluaran pengangkutan sampah dan memanfaatkan sampah yang masih memiliki nilai ekonomi.
Kegiatan utama dilaksanakan pada Sabtu, 19 Juli 2025, pukul 19.30–22.00 WIB dengan melibatkan perwakilan warga dari setiap RT dan pengurus RW di lingkungan Perumahan Taman Lestari. Kawasan tersebut dihuni sekitar 245 kepala keluarga atau 1.240 jiwa, dengan timbulan sampah rumah tangga diperkirakan mencapai 250–600 kilogram setiap hari.
Program bertajuk “Edukasi dan Pendampingan Tata Kelola Sampah Berbasis Komunitas di Desa Taman untuk Meningkatkan Kesadaran Lingkungan” diketuai oleh Natal Kristiono, S.Pd., M.H. bersama tim dosen dan mahasiswa FISIP UNNES. Program memperoleh dukungan pendanaan dari DPA FISIP UNNES Tahun 2025.
Persoalan sampah sebelumnya cukup membebani masyarakat. Semakin besar volume sampah yang dihasilkan, semakin besar pula biaya yang diperlukan untuk mengangkutnya menuju tempat penampungan. Warga kemudian didorong untuk mengembangkan pengelolaan sampah secara mandiri agar volume sampah dapat ditekan sekaligus mengurangi pengeluaran untuk retribusi sampah.
Melalui pendampingan FISIP UNNES, warga memperoleh bantuan non-tunai berupa edukasi, pelatihan pemilahan sampah, pembuatan kompos, pengenalan bank sampah, pembentukan kelompok pengelola di tingkat RT, serta praktik pengolahan sampah organik. Program juga mendorong penyediaan sarana pemilahan dan pengelolaan sampah sederhana di lingkungan masyarakat. PM Natal
Pendampingan tidak berhenti pada pertemuan pertama. Pada 30 Agustus 2025, warga mengikuti pelatihan lanjutan pembuatan ecoenzim bersama praktisi dari komunitas Eco Enzyme Nusantara perwakilan Pemalang. Kegiatan berlangsung pukul 15.30–17.45 WIB dan memberi kesempatan kepada masyarakat untuk mempraktikkan langsung pemanfaatan sampah organik rumah tangga.
FISIP UNNES merealisasikan anggaran sebesar Rp. 6.000.000 untuk keseluruhan program. Dari jumlah tersebut, terdapat komponen yang berkaitan langsung dengan kegiatan pemberdayaan warga, antara lain Rp. 250.000 untuk materi kegiatan dan Rp. 350.000 untuk bahan pembuatan ecoenzim. Anggaran juga digunakan untuk mendukung pelaksanaan pelatihan, konsumsi peserta, perangkat presentasi, transportasi, dan kebutuhan program lainnya.
Hasil pendampingan mulai terlihat setelah program berjalan. Sampah organik yang sebelumnya diolah sekitar 5 kilogram per hari meningkat menjadi sekitar 20 kilogram per hari. Pada saat yang sama, volume sampah yang harus dibuang ke tempat pembuangan akhir berkurang sekitar 20 persen.
Sampah anorganik yang masih memiliki nilai jual juga mulai diarahkan ke bank sampah di wilayah sekitar. Langkah ini membuka peluang agar sampah tidak berhenti sebagai beban rumah tangga, tetapi dapat masuk dalam rantai ekonomi sirkular. Dalam dokumen kegiatan disebutkan bahwa kerja sama dengan bank sampah berpotensi meningkatkan nilai ekonomi sampah sekaligus membuka peluang kerja baru.
Perubahan juga terlihat dari kebiasaan masyarakat. Sebelum program berjalan, sekitar 30 persen warga memahami pentingnya pemilahan sampah. Setelah edukasi, angkanya meningkat menjadi 75 persen. Partisipasi warga dalam kegiatan gotong royong lingkungan juga meningkat dari rata-rata 10 orang menjadi sekitar 30 orang per kegiatan.
Bagi masyarakat Desa Taman, pengelolaan sampah secara mandiri memberi manfaat ganda. Selain lingkungan menjadi lebih bersih, pengolahan sampah organik menjadi kompos dapat dimanfaatkan untuk tanaman rumah tangga, sementara sampah anorganik bernilai ekonomis dapat disalurkan melalui bank sampah. Langkah tersebut sekaligus membantu menekan biaya pengelolaan sampah yang selama ini harus dikeluarkan warga.
Melalui program berbasis komunitas tersebut, FISIP UNNES mendorong masyarakat tidak hanya menjadi penerima edukasi, tetapi juga memiliki kemampuan untuk mengelola persoalan lingkungan secara mandiri dan memperoleh manfaat ekonomi dari sumber daya yang sebelumnya dianggap sebagai limbah.




