Lebaran bukan semata seremoni mudik atau euforia silaturahmi. Ia menjadi ajakan halus namun mendalam untuk pulang—bukan hanya secara fisik, tetapi juga secara batin. Kembali ke fitrah, ke asal, dan pada jati diri manusia yang hakiki.
Pemaknaan itu menjadi benang merah dalam Sarasehan Selasa Legen ke-115 yang digelar Universitas Negeri Semarang (UNNES), Senin (24/3/2025) malam. Bertempat di Kampung Budaya UNNES, Sekaran, Gunungpati, Semarang, sarasehan bertema “Berlebaran, Kembali ke Sangkan Paran” itu berlangsung pukul 20.30 hingga 23.00 WIB.
Dua narasumber akan hadir untuk menggali sisi filosofis dan kultural Lebaran, yakni Ki Sigid Ariyanto, S.Sn., dalang asal Rembang, serta Dr. Indah Sri Utari, dosen Fakultas Hukum UNNES. Acara akan dipandu oleh Titis Sambodo, S.Pd., penyiar Radio Republik Indonesia (RRI) Semarang.
Dalam tradisi Jawa, sangkan paraning dumadi bukan sekadar konsep filsafat. Ia merupakan ajakan reflektif untuk kembali bertanya: siapa kita, dari mana kita berasal, dan ke mana kita akan kembali. Sarasehan ini menjadi ruang dialektika spiritual dan budaya di tengah gegap gempita Lebaran yang kerap terjebak dalam simbol dan seremoni.(DHZ)