Perjalanan ribuan kilometer dari Kota Sorong, Papua Barat Daya, membawa Salsabila Aqilah Putri menorehkan capaian membanggakan di Universitas Negeri Semarang (UNNES). Lulusan Program Studi Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran tersebut berhasil meraih predikat wisudawan terbaik UNNES pada Wisuda ke-141 dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,99.
Salsabila juga mencatatkan prestasi sebagai peringkat pertama dalam ujian komprehensif Program Studi Kesehatan Masyarakat. Capaian itu menjadi bagian dari perjalanan panjangnya sejak memutuskan meninggalkan keluarga dan kampung halaman di Sorong untuk menempuh pendidikan di Semarang.
Keputusannya memilih bidang kesehatan masyarakat tidak lepas dari lingkungan keluarga yang banyak mengabdikan diri di bidang kesehatan. Selama menempuh studi, pemahamannya terhadap persoalan kesehatan, terutama di daerah asalnya, semakin berkembang.
Menurut Salsabila, masih terdapat tantangan dalam pemerataan akses dan kualitas layanan kesehatan, khususnya bagi masyarakat di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). Hal tersebut mendorongnya tidak hanya mendalami ilmu di ruang kuliah, tetapi juga terlibat dalam berbagai kegiatan yang bersentuhan langsung dengan masyarakat.
Ia pernah memberikan edukasi pemilahan sampah kepada siswa sekolah dasar, penyuluhan mengenai bahaya merokok kepada siswa sekolah menengah, serta edukasi gizi kepada ibu yang memiliki balita. Pengalaman tersebut membuatnya memahami pentingnya edukasi dalam mendorong perubahan perilaku kesehatan masyarakat.
Ketertarikannya pada bidang biostatistik juga membawanya mendalami pengolahan dan analisis data sebagai dasar pengambilan keputusan berbasis bukti. Salsabila terlibat dalam penelitian bersama dosen, mengikuti berbagai kegiatan akademik, hingga memperoleh Hak Kekayaan Intelektual (HKI) melalui policy brief yang disusunnya.
Berbagai kesempatan selama kuliah, menurutnya, menjadi bagian penting dalam proses belajar, baik secara akademik maupun dalam membangun tanggung jawab dan profesionalisme.
“Saya percaya, setiap kesempatan yang diberikan adalah suatu amanah. Karena itu, saya selalu berusaha untuk memberikan yang terbaik di setiap prosesnya,” ungkap Salsabila.
Menempuh pendidikan jauh dari keluarga juga menjadi pengalaman tersendiri bagi Salsabila. Ia harus belajar beradaptasi dengan lingkungan baru, membangun relasi, serta menjalani kehidupan sebagai mahasiswa perantauan. Dukungan dosen, tenaga kependidikan, teman, dan keluarga menjadi bagian penting yang mengiringi perjalanannya hingga menyelesaikan studi tepat waktu.
Bagi Salsabila, predikat wisudawan terbaik bukan menjadi akhir dari proses belajar. Ilmu kesehatan masyarakat yang diperolehnya di UNNES ingin ia bawa kembali ke daerah asal untuk memberikan manfaat yang lebih luas.
“Hari ini, saya pulang membawa gelar sarjana. Tapi lebih dari itu, saya pulang membawa pengalaman, keberanian, dan keyakinan bahwa langkah kecil yang dikerjakan dengan sungguh-sungguh akan membawa kita lebih dekat dengan mimpi,” katanya.
Setelah menyelesaikan pendidikan di UNNES, Salsabila berencana kembali ke Sorong. Ia ingin mengaplikasikan ilmu yang diperolehnya, terutama melalui literasi dan pemberdayaan masyarakat serta pengembangan kebijakan kesehatan berbasis bukti.
“Terima kasih UNNES telah menjadi rumah yang membentuk saya. Setelah ini, saya akan kembali ke Sorong, mengabdikan diri di sana, dan mengaplikasikan ilmu yang telah saya terima,” ujarnya.
Perjalanan dari Sorong menuju Semarang menjadi pengalaman yang membentuk Salsabila untuk terus belajar dan memberi manfaat. Baginya, keberhasilan pendidikan tidak berhenti pada gelar dan capaian akademik, tetapi pada sejauh mana ilmu yang diperoleh dapat digunakan untuk membantu masyarakat.




