Universitas Negeri Semarang (UNNES) melalui Tim Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK ORMAWA) Penal Study Club (PSC) Fakultas Hukum (FH) menggelar kelas perdana Sekolah Konservasi dan Tangguh Bencana (SEKONTAN) di Desa Keji, Kecamatan Ungaran Barat, Kabupaten Semarang, Minggu (19/7/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya meningkatkan pengetahuan dan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi potensi bencana, khususnya tanah longsor.
Kelas perdana yang berlangsung di Ruang PKK Desa Keji tersebut diikuti sekitar 80 peserta yang terdiri atas pemuda Karang Taruna, anggota Linmas, dan perangkat desa. Kegiatan mengusung program “Penguatan Kapasitas Masyarakat melalui Pendidikan Konservasi, Mitigasi Bencana, dan Pemanfaatan Teknologi sebagai Upaya Mewujudkan Desa Keji Tangguh Bencana Longsor”.
Ketua Tim PPK ORMAWA PSC FH UNNES, Ahmad Kamalludin Sihombing, menjelaskan SEKONTAN dirancang sebagai ruang edukasi bagi masyarakat untuk meningkatkan pemahaman mengenai konservasi dan mitigasi bencana secara bertahap. Kelas perdana difokuskan pada penguatan pengetahuan dasar mengenai kesiapsiagaan sebelum materi pemetaan dan pemanfaatan teknologi diberikan pada pertemuan berikutnya.
“Melalui SEKONTAN, kami ingin membangun kesadaran masyarakat bahwa kesiapsiagaan bencana perlu dimulai dari tingkat individu dan keluarga. Pengetahuan dasar yang diberikan diharapkan dapat menjadi bekal masyarakat untuk menghadapi potensi bencana, khususnya longsor,” ujarnya.
Untuk memperkuat materi, Tim PPK ORMAWA PSC FH UNNES menghadirkan praktisi kebencanaan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Semarang, Muhammad Farkhan, S.E., selaku Penata Penanggulangan Bencana.
Dalam pemaparannya, Farkhan menguraikan pentingnya kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi kondisi darurat. Materi mencakup langkah evakuasi mandiri, persiapan tas siaga bencana yang berisi dokumen penting, obat-obatan, dan kebutuhan darurat, serta pentingnya mengenali kondisi lingkungan sebagai bagian dari upaya penyelamatan diri.
Penata Penanggulangan Bencana BPBD Kabupaten Semarang, Muhammad Farkhan, S.E., menegaskan bahwa kesiapsiagaan masyarakat menjadi salah satu aspek penting dalam mengurangi risiko ketika bencana terjadi. Menurutnya, pemahaman yang baik dapat membantu masyarakat mengambil keputusan secara lebih cepat dan tepat dalam situasi darurat.
“Kesiapsiagaan di level individu adalah benteng pertama. Jika warga sudah memahami barang yang perlu disiapkan dan arah evakuasi yang benar, kepanikan saat bencana dapat ditekan,” tegasnya.
Kegiatan berlangsung secara interaktif melalui penyampaian materi dan diskusi bersama peserta. Pemuda Karang Taruna, Linmas, dan perangkat desa diberikan ruang untuk menyampaikan pertanyaan serta berdiskusi mengenai kondisi dan potensi kebencanaan yang ada di lingkungan Desa Keji.
Disisi lain, Kepala Desa Keji, Siswanto menilai edukasi kebencanaan yang diberikan melalui SEKONTAN dapat menjadi bagian dari upaya meningkatkan kapasitas masyarakat dalam menghadapi potensi bencana, khususnya ancaman longsor di wilayah Desa Keji.
“Kami menyambut baik peluncuran SEKONTAN ini. Harapannya, kelas edukasi yang terstruktur dapat membantu warga meningkatkan kesiapsiagaan dan melakukan mitigasi secara proaktif, khususnya terhadap ancaman longsor di Desa Keji,” ungkapnya
Kelas perdana SEKONTAN menjadi tahap awal dari rangkaian program PPK ORMAWA PSC FH UNNES di Desa Keji. Pada pelaksanaan selanjutnya, materi akan dikembangkan melalui pendidikan konservasi, pemetaan potensi risiko bencana, serta pemanfaatan teknologi untuk mendukung kesiapsiagaan masyarakat.
Melalui program tersebut, mahasiswa UNNES berupaya mengambil peran dalam meningkatkan kapasitas masyarakat sekaligus mendorong keterlibatan warga dalam membangun lingkungan yang lebih tangguh terhadap bencana.
Keberlanjutan program diharapkan dapat membentuk masyarakat yang memiliki pengetahuan, keterampilan, dan kepedulian terhadap mitigasi bencana sehingga warga Desa Keji mampu menjadi bagian aktif dalam upaya pengurangan risiko bencana di lingkungannya.




