Indonesia memiliki kekayaan sumber daya pangan yang beragam, termasuk berbagai jenis biji-bijian lokal yang berpotensi menjadi sumber pangan bernilai gizi. Potensi tersebut mendorong mahasiswa Universitas Negeri Semarang (UNNES) mengembangkan inovasi pangan berbasis bahan lokal melalui Program Kreativitas Mahasiswa Kewirausahaan (PKM-K).
Melalui program tersebut, mahasiswa UNNES mengembangkan Grainloka, inovasi granola fungsional berbasis biji-bijian lokal Indonesia. Grainloka mengusung konsep Seri Lumbung Jawa dengan mengangkat kembali potensi pangan nusantara melalui pengolahan bahan lokal menjadi produk modern bernilai tambah.
Pengembangan Grainloka juga hadir di tengah meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pola hidup sehat dan kebutuhan terhadap produk pangan yang praktis serta bergizi. Melalui pengolahan menjadi granola, berbagai komoditas lokal dihadirkan dalam bentuk pangan yang lebih praktis untuk dikonsumsi.
Grainloka memanfaatkan sejumlah komoditas lokal, yaitu sorgum, jali-jali, jewawut, kacang tholo, kacang gude, kacang mete, dan biji nangka sebagai bahan utama. Pemilihan bahan tersebut didasarkan pada potensi kandungan nutrisi serta ketersediaannya sebagai sumber pangan lokal Indonesia.
Sorgum dipilih karena memiliki kandungan serat dan protein, sedangkan jali-jali dan jewawut menjadi sumber karbohidrat kompleks, serat, protein, mineral, serta senyawa bioaktif. Kacang tholo dan kacang gude turut digunakan sebagai sumber protein nabati dalam formulasi produk.
Berbagai bahan tersebut kemudian diolah menjadi granola sehingga pangan lokal yang sebelumnya banyak dimanfaatkan dalam bentuk tradisional dapat dikembangkan menjadi produk pangan modern dengan nilai tambah.
Pemanfaatan sorgum, jewawut, jali-jali, serta kacang lokal menjadi bagian dari upaya diversifikasi pangan dengan mengembangkan sumber pangan yang tersedia di Indonesia. Grainloka menghadirkan alternatif pangan praktis dengan memanfaatkan berbagai komoditas lokal sebagai bahan utama.
Selain itu, pengembangan bahan pangan lokal menjadi produk modern memberikan nilai tambah terhadap sumber daya pangan Indonesia sekaligus mendukung pemanfaatannya secara berkelanjutan.
Dalam proses pengembangannya, Grainloka melalui sejumlah tahapan pengolahan pangan, mulai dari seleksi bahan baku, pencucian, perlakuan awal bahan, pengeringan, pencampuran formulasi, pemanggangan, hingga pengemasan.
Tahapan tersebut dilakukan untuk menghasilkan granola dengan kualitas yang baik serta mempertahankan karakteristik bahan lokal yang digunakan. Grainloka dikembangkan dalam tiga varian rasa, yaitu Vanila, Coklat, dan Pisang, serta dikemas menggunakan standing pouch untuk menjaga mutu dan kerenyahan produk.
Melalui PKM-K, pengembangan Grainloka tidak hanya mencakup proses produksi, tetapi juga pemasaran, manajemen usaha, dan pengembangan strategi bisnis. Inovasi tersebut menjadi salah satu bentuk penerapan ilmu pengetahuan dan kreativitas mahasiswa UNNES dalam mengembangkan potensi pangan lokal.
Grainloka ditujukan bagi masyarakat yang membutuhkan alternatif pangan sehat dan praktis, khususnya kelompok usia produktif seperti mahasiswa, pekerja muda, dan keluarga urban.
Pengembangan Grainloka sendiri berkaitan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 2: Zero Hunger yang berfokus pada ketahanan pangan dan pengembangan sistem pangan berkelanjutan.
Melalui Grainloka, mahasiswa UNNES mengembangkan biji-bijian lokal Indonesia menjadi produk pangan modern sekaligus meningkatkan nilai tambah sumber daya pangan lokal.




