Related to SDGs



Kementerian Kehutanan bersama mitra konservasi yang tergabung dalam kolaborasi multipihak Lacak Jejak Elang Jawa—seperti Burung Indonesia, RAIN, PILI Green Network, dan PT Djarum—menggelar Konsultasi Publik Penyusunan Strategi dan Rencana Aksi Konservasi (SRAK) Elang Jawa 2026–2036 untuk wilayah Jawa bagian tengah. Berlangsung di Hotel Padma Semarang pada Jumat, 7 Agustus 2026, forum ini menghimpun pemangku kepentingan dari Jawa Tengah dan DI Yogyakarta guna menyempurnakan pedoman konservasi Elang Jawa untuk satu dekade mendatang. Kegiatan ini menghadirkan perwakilan pemerintah, perguruan tinggi, akademisi, peneliti, organisasi masyarakat sipil, hingga sektor swasta.
Profesor Bidang Keanekaragaman Hayati, Ekologi Burung, dan Konservasi Alam Universitas Negeri Semarang (UNNES), Prof. Dr. Margareta Rahayuningsih, S.Si., M.Si., menegaskan bahwa pelestarian Elang Jawa memerlukan keterlibatan lintas sektor melalui pendekatan heksaheliks. “Kolaborasi antara Pemerintah, akademisi, masyarakat, NGO, media, swasta dalam kaidah heksaheliks sangat diperlukan dalam pelestarian Elang Jawa,” paparnya. Margareta menyoroti kawasan Gunung Ungaran sebagai salah satu kantong populasi penting Elang Jawa sejak pertama kali tercatat pada 1994 di Gonoharjo, Limbangan. Pemantauan periode 2010–2026 menunjukkan keberadaan Elang Jawa melintas di pelbagai tipe habitat, mulai dari hutan primer hingga kebun teh. Upaya pemantauan terkini juga mengintegrasikan teknologi modern seperti camera trap, bioakustik, drone, hingga kecerdasan buatan (AI) dan GIS untuk mendukung riset serta pengabdian masyarakat.
Pelaksanaan konsultasi publik dan riset konservasi Elang Jawa ini mendukung pencapaian tiga pilar utama Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Pertama, kegiatan ini menjaga Ekosistem Daratan (SDG 15) melalui perlindungan spesies terancam punah dan pelestarian keanekaragaman hayati di kawasan Gunung Ungaran. Kedua, program ini mendorong Kemitraan untuk Mencapai Tujuan (SDG 17) dengan memadukan sinergi heksaheliks antara pemerintah, akademisi, swasta, NGO, dan masyarakat. Terakhir, inisiatif ini berkontribusi pada Pendidikan Berkualitas (SDG 4) melalui pemanfaatan hasil penelitian berbasis teknologi modern dalam mendukung Tridharma Perguruan Tinggi.



