Kemudahan memperoleh jawaban melalui kecerdasan buatan ternyata tidak selalu sejalan dengan kemampuan mahasiswa dalam menyelesaikan persoalan secara mandiri. Penelitian Tim Program Kreativitas Mahasiswa Riset Sosial Humaniora (PKM-RSH) AILLUSION Universitas Negeri Semarang (UNNES) menemukan adanya hubungan antara ketergantungan kecerdasan buatan, ilusi kompetensi, dan kemampuan penalaran matematis mahasiswa calon guru matematika.
Penelitian yang dilakukan pada bulan Agustus di UNNES, UPGRIS, dan UIN Walisongo ini melibatkan 200 mahasiswa calon guru matematika. Data kuantitatif diperoleh melalui tes penalaran matematis, angket ketergantungan kecerdasan buatan, dan angket persepsi calon guru matematika, sedangkan data kualitatif diperoleh melalui wawancara.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketergantungan kecerdasan buatan memiliki hubungan negatif dan signifikan dengan penalaran matematis. Artinya, semakin tinggi ketergantungan mahasiswa terhadap kecerdasan buatan, semakin rendah kecenderungan kemampuan penalaran matematis yang ditemukan dalam penelitian.
Ketergantungan kecerdasan buatan juga ditemukan berkaitan dengan meningkatnya ilusi kompetensi. Di sisi lain, ilusi kompetensi berkaitan dengan kemampuan penalaran matematis yang lebih rendah. Hasil analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa ilusi kompetensi turut berperan dalam menjembatani hubungan antara ketergantungan kecerdasan buatan dan penalaran matematis mahasiswa.
Temuan ini memberikan gambaran bahwa persoalan ketergantungan kecerdasan buatan tidak semata-mata ditentukan oleh seberapa sering teknologi digunakan. Hasil kualitatif menunjukkan pola penggunaan yang bergerak dari kecerdasan buatan sebagai alat bantu menjadi penggunaan yang semakin bergantung.
Penggunaan yang awalnya ditujukan untuk mencari informasi, memahami materi, mengembangkan ide, atau memeriksa jawaban dapat bergeser hingga kecerdasan buatan menjadi pengambil alih proses penalaran dan penyelesaian tugas.
Hasil kualitatif juga menunjukkan bahwa penggunaan kecerdasan buatan paling banyak ditemukan untuk menyelesaikan tugas perkuliahan, diikuti menjelaskan dan memahami materi, serta memeriksa jawaban. Penggunaan lainnya meliputi menyusun perangkat ajar, mencari informasi dan referensi, serta mengembangkan ide.
Bagi mahasiswa calon guru matematika, temuan tersebut menjadi perhatian karena kemampuan bernalar merupakan bekal penting bagi seorang pendidik. Kemudahan memperoleh jawaban perlu tetap diimbangi dengan kemampuan memahami proses, memeriksa kebenaran, dan menjelaskan kembali penyelesaian yang diperoleh.
Penelitian ini dilakukan melalui kolaborasi multidisiplin mahasiswa Psikologi, Pendidikan Matematika, serta Pendidikan Sosiologi dan Antropologi, dengan pendampingan dosen pembimbing, Dr. Nuriana Rachmani Dewi (Nino Adhi), M.Pd. Kolaborasi tersebut mempertemukan perspektif psikologis, pendidikan, serta sosial dan budaya dalam melihat penggunaan kecerdasan buatan.
Temuan tersebut menyoroti pentingnya menjaga kemampuan mahasiswa untuk tetap memahami dan mengendalikan proses berpikirnya sendiri di tengah kemudahan teknologi. Hal ini menjadi semakin relevan bagi calon guru matematika yang kelak tidak hanya dituntut mampu memperoleh jawaban, tetapi juga menjelaskan alasan, proses, dan dasar penyelesaian kepada peserta didik.
Penelitian ini sekaligus menjadi bagian dari kontribusi mahasiswa dalam mendukung SDGs ke-4 tentang Pendidikan Berkualitas dan Asta Cita keempat melalui penguatan pendidikan, sains, dan teknologi.




