Tantangan lulusan perguruan tinggi tidak berhenti ketika mereka memperoleh gelar akademik. Di tengah persoalan lingkungan dan derasnya arus informasi, kemampuan menggunakan ilmu secara bertanggung jawab menjadi hal yang tidak kalah penting.
Dalam sambutannya pada Wisuda ke-143 di Gedung Prof. Wuryanto UNNES, Sabtu (17/10), Rektor UNNES Prof. Dr. S. Martono, M.Si. menekankan bahwa ilmu pengetahuan perlu diiringi tanggung jawab dalam penerapannya.
Rektor mengingatkan bahwa gelar akademik membawa tanggung jawab sosial sekaligus mencerminkan kemampuan keilmuan yang perlu terus dikembangkan. Karena itu, lulusan perguruan tinggi diharapkan mampu berpikir, berbicara, dan bertindak berdasarkan pengetahuan serta nilai-nilai akademik yang telah dipelajari.
Tanggung jawab tersebut, menurutnya, perlu diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Ilmu tidak semestinya berhenti pada penguasaan teori atau menjadi kebanggaan pribadi, tetapi perlu diterapkan untuk memberikan manfaat bagi orang lain.
“Ilmu itu kelakone kanthi laku, terwujud dalam tindakan,” demikian salah satu pesan Rektor kepada para wisudawan.
Ia kemudian mengajak para lulusan mencermati persoalan lingkungan yang tengah dihadapi, termasuk kebakaran hutan dan kebakaran di sejumlah daerah, seperti Semarang, akibat musim kemarau panjang.
Peristiwa tersebut menimbulkan berbagai kerugian, mulai dari hancurnya vegetasi hutan dan meningkatnya produksi karbon hingga rusaknya ekosistem gambut.
Rektor mengajak masyarakat untuk tidak hanya melihat kebakaran sebagai bencana, tetapi juga menjadikannya bahan refleksi tentang hubungan manusia dengan alam. Ia mempertanyakan apakah hubungan tersebut selama ini telah berlangsung secara harmonis atau justru cenderung eksploitatif.
Kepedulian terhadap lingkungan menjadi salah satu hal yang perlu menyertai penguasaan ilmu pengetahuan. Para lulusan diharapkan mampu menggunakan bekal akademiknya untuk memahami persoalan di sekitar dan mengambil peran sesuai dengan bidang keahlian serta kapasitas masing-masing.
Selain persoalan ekologis, hal lain yang disorot adalah pentingnya kecermatan dalam menerima dan menyampaikan informasi. Menurutnya, masyarakat terdidik perlu memiliki kemampuan untuk membedakan sumber yang valid dan dapat dipercaya dari rumor, gosip, maupun kabar yang belum jelas kebenarannya.
Kemampuan tersebut juga mencakup kesadaran untuk menentukan informasi yang layak dipublikasikan dan yang sebaiknya tidak disebarluaskan. Dengan demikian, pendidikan tinggi tidak hanya membentuk kemampuan intelektual, tetapi juga tanggung jawab dalam menggunakan pengetahuan dan menyampaikan informasi kepada orang lain.
Rektor juga mengingatkan bahwa setiap orang memiliki kesempatan untuk memberi manfaat, tanpa harus selalu menjadi yang paling menonjol. Ia mengibaratkan peran tersebut melalui pesan agar para lulusan tetap dapat memberikan arah dan pedoman bagi orang lain.
“Jika kita tidak mampu menjadi bulan, maka jadilah bintang yang mampu memberikan arah dan pedoman untuk orang lain,” tuturnya.
Wisuda ke-143 UNNES diikuti 1.500 lulusan dari berbagai jenjang pendidikan, terdiri atas 32 doktor, 91 magister, satu lulusan profesi, 1.344 sarjana, dan 32 diploma.
Melalui wisuda ini, para lulusan memasuki tahap baru dengan pilihan dan tantangan masing-masing. Bekal pendidikan yang telah diperoleh diharapkan menjadi landasan untuk terus belajar, bersikap bertanggung jawab, dan mengambil bagian dalam menjawab berbagai persoalan di masyarakat.




