Ilmu pengetahuan tidak seharusnya berhenti setelah seseorang menyelesaikan pendidikan di bangku kuliah. Ilmu perlu diterapkan dan dibagikan agar memberikan manfaat bagi masyarakat.
Pesan diatas disampaikan Jamila Ghani Alwana, S.K.M., wisudawan terbaik Universitas Negeri Semarang (UNNES) Periode 143, dalam wisuda yang berlangsung di Auditorium Prof. Wuryanto UNNES, Sabtu (17/10).
Lulusan Program Studi Kesehatan Masyarakat UNNES dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,99 ini menilai bahwa tantangan kesehatan masyarakat tidak cukup diatasi melalui penanganan penyakit. Upaya pencegahan juga perlu dilakukan melalui edukasi yang mudah dipahami dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam pidatonya, Jamila menyoroti sejumlah persoalan kesehatan, mulai dari stunting, hipertensi, hingga kesehatan mental. Ia mengangkat kondisi di Kabupaten Pemalang, kampung halamannya, sebagai pengingat bahwa edukasi kesehatan masih menjadi bagian penting dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Jamila juga menyinggung kasus perundungan yang mengingatkan pentingnya perhatian terhadap kesehatan mental. Menurutnya, kesehatan tidak hanya berkaitan dengan kondisi fisik, tetapi juga mencakup kesejahteraan mental dan sosial.
Karena itu, pencegahan perundungan perlu dilakukan secara berkelanjutan untuk mewujudkan lingkungan sekolah yang aman dan mendukung kesejahteraan peserta didik.
Ketertarikan Jamila pada upaya pencegahan penyakit sejalan dengan pilihannya mengambil peminatan Promosi Kesehatan selama kuliah. Ia ingin mempelajari cara membantu masyarakat memahami pentingnya menjaga kesehatan dan mencegah penyakit sejak dini.
Minat tersebut diwujudkan melalui berbagai kegiatan selama perkuliahan. Jamila aktif dalam organisasi dan pengabdian kepada masyarakat, mulai dari kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN), edukasi kesehatan di sekolah dan posyandu, hingga keterlibatan dalam upaya penanggulangan demam berdarah dan penanganan stunting bersama Dinas Kesehatan Kabupaten Kendal.
Ia juga mengembangkan berbagai media edukasi kesehatan, seperti poster, permainan edukatif, dan BIQAR DBD (Banner Inovasi QR untuk Pencegahan DBD). Selain itu, Jamila memublikasikan artikel ilmiah pada jurnal terindeks Sinta 3 dan Sinta 4. Pengalaman tersebut mengajarkannya bahwa ilmu kesehatan masyarakat tidak hanya membutuhkan pemahaman teori, tetapi juga pendekatan yang dapat diterapkan sesuai kebutuhan masyarakat.
Perjalanan Jamila hingga meraih prestasi akademik tersebut tidak terlepas dari dukungan kedua orang tuanya. Sejak kecil, ia tumbuh dalam keluarga sederhana yang menempatkan pendidikan sebagai bekal penting untuk masa depan.
Saat SMP, Jamila harus menempuh perjalanan sekitar 12 kilometer untuk bersekolah. Ketika SMA, jarak yang ditempuhnya mencapai sekitar 24 kilometer dari rumah.
Perjuangan itu mengantarkannya diterima di UNNES melalui jalur Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN). Selama menjalani pendidikan tinggi, ia tidak hanya berupaya meraih prestasi akademik, tetapi juga mencari kesempatan untuk mengembangkan diri dan memberikan manfaat melalui ilmu yang dipelajarinya.
Dalam pidatonya, Jamila mengingatkan sesama wisudawan agar tidak membandingkan perjalanan hidup masing-masing. Ia mengajak para lulusan untuk tetap melangkah ketika menghadapi kesulitan, mengambil waktu untuk beristirahat ketika lelah, tetapi tidak menyerah pada tujuan yang ingin dicapai.
Baginya, kelulusan bukanlah akhir dari perjalanan belajar. Gelar yang diperoleh juga membawa tanggung jawab untuk menerapkan pengetahuan dan berkontribusi bagi lingkungan sekitar.
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari capaian akademik, tetapi juga dari manfaat yang dapat diberikan kepada orang lain. Melalui ilmu kesehatan masyarakat, Jamila berharap dapat terus berkontribusi dalam meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya pencegahan penyakit dan menjaga kesehatan secara menyeluruh.




