
PENDEM — Daun kelor yang tumbuh di sekitar masyarakat Desa Pendem, Kabupaten Grobogan, diolah menjadi alternatif makanan bergizi untuk membantu mencegah stunting. Melalui program Dapur Sehat Atasi Stunting (DASHAT), GIAT 16 Kesehatan Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Semarang (UNNES) mengenalkan KELORITA (Kroket Bergizi untuk Kita), olahan daun kelor yang dipadukan dengan ayam, tempe, dan wortel sebagai pilihan Pemberian Makanan Tambahan (PMT) bagi balita.
KELORITA diperkenalkan setelah ibu balita mendapat penguatan mengenai gizi seimbang, pentingnya protein hewani dan nabati, konsumsi sayur dan buah, serta pemantauan pertumbuhan anak. Inovasi tersebut dirancang agar pangan lokal tidak sekadar tersedia, tetapi dapat diolah menjadi makanan yang lebih menarik bagi anak. Dalam satu porsi berisi 2–3 buah, KELORITA tercatat mengandung 214,70 kilokalori energi, 7,71 gram protein, 10,55 gram lemak, dan 23,29 gram karbohidrat.
Selain memperkenalkan menu, mahasiswa juga mendampingi kader posyandu dalam pengukuran antropometri balita di Posyandu Melati, Mawar, Kamboja, dan Puncak. Pendampingan tersebut diarahkan untuk meningkatkan ketepatan pengukuran dan kualitas data pertumbuhan anak. Di Posyandu Kamboja, yang berdasarkan informasi bidan desa memiliki jumlah balita stunting relatif lebih tinggi, KELORITA diperkenalkan sekaligus dengan resep dan informasi kandungan gizinya agar dapat dibuat kembali oleh keluarga secara mandiri.
Pemanfaatan pangan lokal sebagai bagian dari strategi pemenuhan gizi keluarga mendukung SDGs 2: Tanpa Kelaparan (Zero Hunger) melalui peningkatan kualitas konsumsi pangan dan gizi, sekaligus SDGs 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera (Good Health and Well-being) melalui pencegahan stunting dan penguatan pemantauan tumbuh kembang anak. Inisiatif tersebut menunjukkan bahwa upaya perbaikan gizi dapat dimulai dari bahan pangan yang dekat dengan kehidupan masyarakat dan dikembangkan menjadi pilihan makanan yang lebih mudah diterima anak. #UNNESSDGs02 #UNNESSDGs03




