
GROBOGAN — Pemantauan tumbuh kembang anak tidak cukup dilakukan ketika muncul masalah. Keterlibatan orang tua sejak dini menjadi kunci untuk mengenali potensi gangguan pertumbuhan maupun perkembangan. Melalui program TAMASYA (Taman Asuh Sayang Anak), mahasiswa KKN Universitas Negeri Semarang mendampingi keluarga di Desa Lebengjumuk, Kecamatan Grobogan, Kabupaten Grobogan, pada 3–4 Juli 2026.
Sebanyak 93,3 persen anak sasaran mengikuti pemantauan yang dilakukan di TK Anak Bintang melalui pengukuran antropometri dan skrining perkembangan menggunakan Kuesioner Pra Skrining Perkembangan (KPSP). Hasilnya, 85,70 persen anak memiliki status gizi normal, sementara 71,42 persen menunjukkan perkembangan sesuai usia. Data tersebut menjadi gambaran awal yang dapat dimanfaatkan orang tua untuk melakukan pemantauan kesehatan anak secara lebih terarah.
Pendampingan kemudian diperluas kepada orang tua melalui edukasi parenting di Balai Desa Lebengjumuk. Para ibu diajak memahami kesehatan mental anak, pola asuh positif, serta pentingnya menciptakan lingkungan keluarga yang aman dan mendukung proses tumbuh kembang. Pendekatan ini menempatkan keluarga bukan hanya sebagai penerima informasi, tetapi sebagai pihak utama yang dapat melanjutkan pemantauan anak di rumah.
TAMASYA menunjukkan bahwa deteksi dini akan lebih bermakna ketika diikuti dengan peningkatan kapasitas orang tua. Kolaborasi edukasi dan pemantauan tersebut menjadi bagian dari upaya membangun generasi yang sehat secara fisik maupun mental sejak usia dini, sekaligus mendukung SDGs 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui deteksi dini tumbuh kembang dan SDGs 4: Pendidikan Berkualitas melalui penguatan literasi pengasuhan bagi orang tua.
#UNNESSDGs03 #UNNESSDGs04




