Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Negeri Semarang (FISIP UNNES) melalui Program Studi Sosiologi dan Antropologi mengembangkan program pemberdayaan masyarakat berbasis urban farming untuk membantu keluarga memanfaatkan lahan terbatas sebagai sumber pangan produktif.
Program bertajuk “Penguatan Edufarm untuk Ketahanan Pangan Keluarga pada Kelompok Dawis Amarilis 4 Perumahan Green Village, Kelurahan Ngijo, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang” dilaksanakan oleh tim yang diketuai Fulia Aji Gustaman, S.Pd., M.A., bersama Didi Pramono, S.Pd., M.Pd. dan Farida Rahmawati, S.E., M.M., serta melibatkan tiga mahasiswa FISIP UNNES. Mitra utama kegiatan adalah Kelompok Dasa Wisma Amarilis 4.
Kegiatan pelatihan dilaksanakan pada Minggu, 21 September 2025, mulai pukul 07.30 WIB di lingkungan Perumahan Green Village, Ngijo. Program ini dikembangkan untuk menjawab persoalan keterbatasan lahan dan pengetahuan bercocok tanam yang dihadapi masyarakat perkotaan. Tim FISIP UNNES mendorong agar ruang yang selama ini belum produktif dapat dimanfaatkan untuk membantu memenuhi kebutuhan pangan keluarga.

Bantuan yang diberikan tidak berbentuk uang tunai. Masyarakat memperoleh bantuan non-tunai berupa instalasi vertical garden, bibit tanaman, pelatihan bercocok tanam, edukasi ketahanan pangan, serta pendampingan pengelolaan urban farming. Tim juga merevitalisasi area taman toga dengan menambahkan tanaman pangan seperti cabai dan sayuran sehingga lahan yang tersedia memiliki fungsi yang lebih produktif. Instalasi vertical garden telah mulai dipasang pada Agustus 2025 dengan melibatkan masyarakat secara partisipatif.
Sebagai simbol dimulainya kegiatan, tim FISIP UNNES juga menyerahkan bibit tanaman kepada Ketua Dawis Amarilis 4. Penyerahan dilakukan oleh Didi Pramono sebagai perwakilan tim pengabdian. Bibit tersebut selanjutnya digunakan dalam praktik dan pengembangan Edufarm bersama masyarakat.
Tidak berhenti pada pemberian sarana, masyarakat mendapat penguatan pengetahuan mengenai pengembangan Edufarm dan ketahanan pangan keluarga. Peserta diperkenalkan pada cara memanfaatkan pekarangan dan ruang terbatas untuk menghasilkan bahan pangan yang dapat dikonsumsi secara mandiri.
Dalam sesi praktik, warga belajar menanam berbagai jenis sayuran, antara lain pakcoy, bayam, daun bawang, dan seledri. Peserta mempraktikkan secara langsung proses penanaman, pemberian pupuk, penyiraman, hingga penataan tanaman pada media bertingkat sehingga keterbatasan lahan tidak menjadi penghalang untuk melakukan kegiatan pertanian rumah tangga.
Program juga memanfaatkan vertical garden sebagai salah satu solusi bagi kawasan permukiman dengan ketersediaan lahan yang terbatas. Setelah pendampingan, tanaman tidak hanya ditempatkan pada lahan horizontal, tetapi juga disusun pada struktur vertikal sehingga ruang yang sempit dapat tetap dimanfaatkan untuk menghasilkan tanaman pangan.
Kegiatan ini memperoleh dukungan pendanaan sebesar Rp7.000.000 dari DPA FISIP UNNES Tahun 2025. Nilai tersebut merupakan nilai keseluruhan program pemberdayaan, bukan uang tunai yang dibagikan kepada warga. Penerima manfaat yang dapat diverifikasi dalam laporan adalah satu kelompok mitra, yakni Kelompok Dawis Amarilis 4. Laporan tidak mencantumkan jumlah individu anggota Dawis yang hadir, sehingga jumlah penerima dalam satuan orang tidak saya tambahkan agar datanya tetap valid.
Melalui kegiatan tersebut, masyarakat diharapkan tidak hanya memperoleh keterampilan bercocok tanam, tetapi juga semakin mandiri dalam memenuhi sebagian kebutuhan pangan keluarga. Pendampingan dilanjutkan melalui pemantauan, fasilitasi, pembimbingan perawatan tanaman, serta dorongan agar kegiatan dapat terus dijalankan setelah program pengabdian selesai.
Program Edufarm menjadi bagian dari upaya FISIP UNNES menghadirkan pemberdayaan yang menyentuh kebutuhan dasar masyarakat. Pemanfaatan lahan secara produktif dapat membantu keluarga memperkuat ketersediaan pangan sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap seluruh kebutuhan pangan dari pasar.




