Dosen Geografi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Negeri Semarang (FISIP UNNES), Prof. Dr. Juhadi, M.Si., menerapkan sistem Land Instability Detection Unit (LINDU) sebagai sarana pemantauan dan peringatan dini pergerakan tanah pada kawasan rawan longsor di Kota Semarang (19/08/2025).
Salah satu lokasi penerapan dan pemantauan berada di kawasan Trangkil, Kelurahan Sukorejo, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang, yang memiliki kondisi tanah relatif tidak stabil. Sensor LINDU ditempatkan di lapangan untuk membantu mendeteksi perubahan atau ketidakstabilan tanah sebelum berkembang menjadi ancaman longsor. Dokumentasi lapangan menunjukkan salah satu induk sensor LINDU telah ditempatkan pada lokasi pemantauan.
Sistem LINDU bekerja dengan memantau potensi pergerakan tanah dan menghubungkan hasil pemantauan dengan platform digital berbasis Android. Ketika sistem mendeteksi gejala ketidakstabilan tanah, informasi dapat diteruskan melalui perangkat digital sehingga masyarakat maupun pihak yang menangani kebencanaan mempunyai kesempatan lebih awal untuk mengambil langkah mitigasi.
Penerapan sistem peringatan dini menjadi penting bagi wilayah Gunungpati yang didominasi kawasan berlereng. Data BPS Kota Semarang menunjukkan bahwa 15 dari 16 kelurahan di Kecamatan Gunungpati berada pada topografi lereng atau puncak. Kondisi tersebut memperlihatkan pentingnya penguatan kesiapsiagaan terhadap bencana berbasis gerakan tanah di wilayah tersebut.
Kelurahan Sukorejo sendiri memiliki luas administratif sekitar 4,42 km² atau 442 hektare. Angka tersebut digunakan sebagai wilayah penerapan sistem LINDU.
Melalui LINDU, masyarakat dapat memperoleh peringatan lebih awal ketika terdeteksi gejala pergerakan tanah. Informasi tersebut diharapkan memberikan waktu tambahan bagi warga untuk melakukan evakuasi, menjauhi lokasi berbahaya, ataupun menjalankan tindakan mitigasi darurat sebelum kondisi berkembang menjadi bencana.
Sistem juga dirancang agar dapat dikembangkan sesuai karakteristik wilayah dan dioperasikan oleh petugas di tingkat lokal. Prof. Juhadi mendorong agar pemanfaatan teknologi peringatan dini diintegrasikan dengan pelatihan mitigasi bagi masyarakat, sehingga perangkat teknologi berjalan beriringan dengan peningkatan kesiapsiagaan warga.
Penerapan LINDU menunjukkan bentuk pemanfaatan teknologi secara langsung untuk memperkuat ketangguhan masyarakat di kawasan rawan bencana. Sistem peringatan dini tidak menghilangkan ancaman longsor, tetapi dapat membantu mengurangi kerentanan dengan menyediakan informasi lebih cepat mengenai perubahan kondisi tanah.




