Universitas Negeri Semarang (UNNES) kembali meluluskan mahasiswa berprestasi pada Wisuda Periode ke-140. Salah satu lulusan terbaik tersebut adalah Atikah Junelsya dari Program Studi Pendidikan Bahasa Arab, Fakultas Bahasa dan Seni (FBS), yang berhasil meraih predikat wisudawan terbaik dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,98.
Capaian tersebut menjadi hasil dari perjalanan akademik yang dijalani secara konsisten selama menempuh pendidikan di UNNES. Bagi Atikah, belajar tidak hanya berorientasi pada pencapaian nilai, tetapi juga bagaimana ilmu yang diperoleh dapat menghadirkan manfaat bagi orang lain.
Berangkat dari kepeduliannya terhadap pembelajaran bahasa Arab, Atikah mengembangkan berbagai media pembelajaran berbasis digital yang lebih menarik, interaktif, dan mudah diakses oleh siswa. Inovasi tersebut melahirkan website Qirama, platform ItsmuWeb, serta buku panduan Lumio sebagai media pembelajaran.
Ketiga karya tersebut telah memperoleh Hak Kekayaan Intelektual (HKI). Selain itu, penelitian Atikah mengenai media pembelajaran berbasis website berhasil dipublikasikan pada jurnal nasional terindeks Sinta 2. Ia juga mendapat kesempatan menjadi pemateri dalam pelatihan pengembangan media pembelajaran.
Selama menjadi mahasiswa, Atikah aktif mengikuti berbagai organisasi kemahasiswaan. UNNES juga menjadi ruang baginya untuk terus bertumbuh melalui kegiatan perkuliahan, penelitian, pengabdian, serta berbagai pengalaman yang mendukung pengembangan kompetensi.
Tidak hanya berprestasi di bidang akademik, Atikah juga menyeimbangkan pencapaiannya dengan pengembangan diri. Ia telah menyelesaikan hafalan sepuluh juz Al-Qur’an, menguasai bahasa Arab dan bahasa Inggris, serta kini mengabdikan diri sebagai wali kelas sekaligus guru bahasa Arab di SD IT Al-Khoir Bogor yang menerapkan pembelajaran bilingual.
Dalam pidatonya sebagai perwakilan wisudawan pada Wisuda Periode ke-140 UNNES, Atikah mengajak para lulusan untuk menghargai setiap proses dalam perjalanan hidup.
“Pohon tak pernah membandingkan tinggi dahan yang sejajar. Ia hanya sibuk menumbuhkan akarnya agar terus melebar. Sebab ia tahu, makin tinggi pucuknya ingin berpijar, makin dalam pula fondasi yang harus menghujam terhampar,” ungkap Atikah.
Menurutnya, setiap orang memiliki proses bertumbuh yang berbeda. Keberhasilan bukan hanya ditentukan oleh siapa yang paling cepat mencapai tujuan, tetapi juga oleh kesabaran dan ketekunan dalam membangun fondasi diri.
Atikah juga mengutip ungkapan, “Laisal ‘ilmu ma hufidzo, innamal ‘ilmu ma nafa’a,” yang berarti ilmu bukanlah apa yang dihafal, melainkan apa yang memberi manfaat.
Ia berharap ilmu yang diperoleh para wisudawan tidak berhenti sebagai gelar di belakang nama, tetapi diwujudkan melalui setiap keputusan, kebaikan, dan manfaat yang diberikan kepada masyarakat. Sebab, pada akhirnya seseorang dikenang bukan semata karena pencapaiannya, melainkan karena manfaat yang ditinggalkan bagi sesama.




