Mahasiswa Universitas Negeri Semarang (UNNES) menghadirkan Etno-Box, media pembelajaran berbasis jajanan tradisional untuk membantu siswa memahami geometri dan meningkatkan literasi numerasi.
Inovasi melalui Program Kreativitas Mahasiswa bidang Pengabdian kepada Masyarakat (PKM-PM) ini diterapkan kepada 32 siswa kelas IX B dan IX C MTs Amal Sholeh, Desa Sumogawe, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang, pada 2 Oktober 2026.
Tim yang terdiri atas Mayra Zhahra Shofya, Ghanis Pula Labdaghati Althaf, Ainun Mardiah, Nadhifa Rayya Fahrozi, dan Subekti Mugi Hutama, dengan dosen pendamping Adi Satrio Ardiansyah, S.Pd., M.Pd., mengembangkan media ini berdasarkan kebutuhan sekolah.
Data Rapor Pendidikan menunjukkan capaian numerasi siswa sebesar 62,78% dan geometri sebesar 64,79%. Hasil wawancara dengan guru matematika juga menunjukkan siswa masih kesulitan memahami soal cerita dan membayangkan bentuk bangun ruang, sementara media pembelajaran konkret masih terbatas.
Etno-Box berisi enam miniatur jajanan tradisional yang mewakili bangun ruang, yaitu sumpil sebagai prisma segitiga, kue lapis sebagai balok, lontong sebagai tabung, apem sebagai kerucut, kue bugis sebagai limas, dan onde-onde sebagai bola.
Miniatur tersebut dilengkapi kartu tantangan untuk membantu siswa menyelesaikan persoalan volume dan kapasitas melalui empat langkah pemecahan masalah Polya, mulai dari memahami masalah hingga memeriksa kembali hasil.
Selain mempelajari matematika, siswa diperkenalkan dengan tradisi Weh-wehan dari Kaliwungu, Kendal. Tradisi yang berarti saling memberi ini dilakukan dengan bertukar makanan atau barang saat memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Melalui pendekatan etnomatematika, tim menghubungkan konsep geometri dengan jajanan tradisional sekaligus mengenalkan konteks budaya kepada siswa.
Hasil evaluasi menunjukkan rata-rata skor siswa meningkat dari 61,56 pada pretest menjadi 83,28 pada posttest. Skor kelas IX B naik dari 70,94 menjadi 86,56, sedangkan kelas IX C meningkat dari 52,19 menjadi 80,00. Sementara itu, angket respons siswa memperoleh rata-rata 91,5%, dengan aspek tampilan dan daya tarik mencapai 97%.
Hasil tersebut menunjukkan peningkatan skor yang teramati selama program. Namun, karena kegiatan tidak menggunakan kelompok kontrol, peningkatan itu tidak dapat sepenuhnya dikaitkan dengan penggunaan Etno-Box. Tim juga belum mengukur perubahan pemahaman siswa terhadap tradisi budaya yang diperkenalkan.
Sebagai tindak lanjut, Etno-Box beserta buku pedoman diserahkan kepada MTs Amal Sholeh agar dapat digunakan kembali dalam pembelajaran. Tim berharap media ini dapat terus dikembangkan, terutama melalui penyempurnaan petunjuk penggunaan dan kartu tantangan penalaran.
Program ini mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) ke-4, yaitu Pendidikan Berkualitas (Quality Education), melalui penyediaan media belajar yang konkret dan kontekstual. Kolaborasi mahasiswa, guru, dan sekolah mitra juga sejalan dengan SDGs ke-17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.




