Surabaya, 12 Juli 2026 — Program Pendidikan Profesi Guru (PPG) Universitas Negeri Semarang (UNNES) turut berpartisipasi aktif dalam Forum PPG Nasional yang diselenggarakan selama dua hari, pada 11–12 Juli 2026, di Hotel Mercure Surabaya. Kegiatan ini dihadiri oleh 168 perwakilan program studi PPG dari seluruh Indonesia dan menjadi ruang strategis untuk memperkuat koordinasi nasional antar Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK).
Forum PPG Nasional saat ini diketuai oleh Dr. Fathur Rohman Kafrawi dari Universitas Negeri Surabaya (UNESA). Dalam forum tersebut, berbagai isu strategis dibahas secara mendalam, mulai dari tata kelola keuangan, penguatan mutu, hingga tantangan rekrutmen calon peserta PPG di Indonesia.
Delegasi UNNES dipimpin oleh Dr. Ardhi Prabowo selaku Koordinator Program Studi PPG UNNES, didampingi oleh Daru Lestariningsih, S.E., CRP., CMA., serta Dina Puspaningrum, S.Pd., M.Kom. Kehadiran UNNES dalam forum ini menegaskan komitmen institusi dalam menjaga kualitas penyelenggaraan PPG yang unggul dan berdampak.
Salah satu isu yang menjadi perhatian dalam forum adalah tata kelola keuangan PPG yang dinilai harus tetap transparan dan akuntabel tanpa menimbulkan kesan berlebihan. Dalam konteks ini, UNNES dinilai telah menunjukkan praktik pengelolaan keuangan yang baik. Hal tersebut tercermin saat kunjungan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), di mana UNNES mampu menjalani proses tanpa pendampingan khusus dari Direktorat GTK, berbeda dengan beberapa perguruan tinggi lain.
Selain itu, forum juga menyoroti implementasi pembelajaran berbasis STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics) yang dinilai menarik minat guru, meskipun masih menghadapi tantangan dalam dukungan dari pihak sekolah. Riset dan praktik baik terkait STEM, termasuk integrasi robotika untuk mendukung wellbeing siswa, dapat diakses melalui SEAQIS dan menjadi referensi penting bagi pengembangan pembelajaran inovatif.
Dari sisi penjaminan mutu, forum menegaskan peran strategis 170 LPTK penyelenggara PPG dalam menjaga kualitas program melalui penguatan sistem seperti DTPS, kurikulum, microteaching, serta implementasi SPMI dan AMI. Namun demikian, tantangan besar masih dihadapi dalam hal pemerataan bidang studi di setiap provinsi. Sebagai contoh, Provinsi Banten yang saat ini hanya memiliki 18 bidang studi PPG dinilai belum mampu memenuhi kebutuhan guru secara menyeluruh.
Diskusi juga mengemuka terkait ketidaksinkronan antara perencanaan dan produksi guru di Indonesia. Meskipun LPTK menjadi satu-satunya lembaga yang bertugas menyiapkan guru, fakta di lapangan menunjukkan bahwa kebutuhan guru belum pernah sepenuhnya terpenuhi. Hal ini menandakan perlunya perbaikan sistem perencanaan berbasis data yang lebih akurat dan terintegrasi.
Dalam aspek rekrutmen PPG Guru Tertentu, data terbaru menunjukkan bahwa terdapat sekitar 400 ribu guru yang belum mengikuti PPG, dengan rincian sekitar 230 ribu telah berkualifikasi S1 dan 174 ribu belum S1. Namun demikian, minat mengikuti PPG baru mencapai sekitar 50 persen. Berbagai faktor menjadi penyebab, di antaranya data guru yang tidak aktif, pengunduran diri, mendekati masa pensiun, hingga kurangnya pemahaman terhadap pengembangan keprofesian berkelanjutan (PKB).
Forum ini juga mengidentifikasi sekitar 113 ribu calon peserta potensial, dengan 48 ribu di antaranya dinilai paling siap untuk mengikuti PPG Guru Tertentu tahap 3. Upaya penjaringan data secara intensif telah dilakukan sejak April hingga Juni untuk memastikan tidak ada guru yang tertinggal dalam proses sertifikasi.
Melalui forum ini, UNNES semakin memperkuat posisinya sebagai LPTK yang tidak hanya unggul dalam tata kelola, tetapi juga aktif berkontribusi dalam merumuskan arah kebijakan nasional PPG. Ke depan, sinergi antar LPTK, pemerintah, dan pemangku kepentingan pendidikan diharapkan mampu menghadirkan program PPG yang lebih adaptif, merata, dan berdampak nyata bagi peningkatan kualitas guru di Indonesia.


