Teknik shibori atau yang populer dengan sebutan tie-dye menjadi fokus utama dalam kegiatan pengabdian masyarakat kemitraan yang digelar di SMPN 10 Semarang.
Program ini melibatkan siswa, siswi, serta guru dengan tujuan meningkatkan kreativitas sekaligus menanamkan kepedulian terhadap lingkungan.
Dalam kegiatan tersebut, peserta diperkenalkan cara memanfaatkan pewarna alami yang berasal dari tanaman sekitar.
Dengan metode ini, sekolah diharapkan mampu melaksanakan kegiatan serupa secara mandiri di masa mendatang.
Program ini diselenggarakan oleh Tim Pengabdian Masyarakat Kemitraan Universitas Negeri Semarang (UNNES) sebagai wujud dukungan terhadap pengembangan media pembelajaran inovatif.
Mengusung pendekatan hands-on, kegiatan ini menggabungkan kearifan lokal, kreativitas seni, dan pendidikan karakter.
Semua konsep itu diadaptasi melalui teknik shibori yang dipadukan dengan elemen pewarna alami.
Tim pengabdian terdiri atas sejumlah dosen dan akademisi, antara lain Karsinah, S.E. M.Si., Dimas Wicaksono, S.T. M.Eng., Dra Widowati, M.Pd., Dr Wandah Wibawanto, S.Sn. M.Ds., serta Cepi Kurniawan, S.Si. M.Si. Ph.D.
“Kegiatan ini diharapkan mampu meningkatkan keterampilan dan kreativitas siswa,” ujar ketua tim pengabdi.
“Selain itu, program ini juga mendorong kolaborasi antara guru, siswa, dan orang tua dalam mengembangkan pembelajaran yang inovatif,” imbuhnya.
Kegiatan ini tak hanya memacu kreativitas, tetapi juga menanamkan nilai-nilai cinta lingkungan, kerja sama, gotong royong, dan kemandirian kepada para peserta.
Sebanyak 30 peserta tampak antusias mengikuti setiap tahapan, mulai dari persiapan, pengenalan teknik shibori, demonstrasi, hingga praktik langsung melipat dan menyelupkan kain pada pewarna alami.
Bahan pewarna yang digunakan berasal dari tumbuhan mahoni yang banyak dijumpai di sekitar sekolah.
Peserta diberi kesempatan mencoba berbagai teknik, seperti melipat, menjepit (Shibori Itajime), dan mengikat kain menggunakan tali (Shibori Kanoko).
Mereka juga belajar proses pewarnaan hingga menghasilkan motif unik khas shibori.
Acara ditutup dengan sesi diskusi dan evaluasi ringan, di mana para peserta berbagi pengalaman sekaligus menyampaikan ide pengembangan produk shibori untuk masa depan.




