SAMBONGWANGAN, BLORA — Memastikan anak tumbuh sehat tidak cukup hanya dengan melihat pertambahan berat dan tinggi badan. Kemampuan anak berkembang, mengenali emosi, menjaga kebersihan diri, dan membangun relasi yang aman juga menjadi bagian penting dari masa tumbuh kembang. Perspektif tersebut dibawa mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Semarang (UNNES) melalui program Taman Asuh Sayang Anak (TAMASYA) di TK Pertiwi, Desa Sambongwangan, Kecamatan Randublatung, Kabupaten Blora, pada 20 Juli 2026.
Sebanyak 28 murid mengikuti pemantauan pertumbuhan melalui pengukuran berat dan tinggi badan serta skrining perkembangan menggunakan Kuesioner Pra Skrining Perkembangan (KPSP). Edukasi kemudian dikemas dengan pendekatan yang dekat dengan dunia anak. Poster, jingle, dan praktik enam langkah mencuci tangan digunakan untuk mengenalkan PHBS, sementara papan emoji dan kartu emosi membantu anak mengenali perasaan. Pesan mengenai anti-bullying disampaikan melalui media interaktif yang disesuaikan dengan karakter belajar anak usia dini.
Program tersebut tidak berhenti setelah kegiatan selesai. Poster enam langkah cuci tangan dan anti-bullying diserahkan kepada TK Pertiwi agar dapat digunakan kembali dalam proses pembelajaran, sementara hasil pemantauan tumbuh kembang diberikan kepada sekolah sebagai bahan pemantauan perkembangan anak. Langkah ini membuat edukasi kesehatan sekaligus deteksi dini memiliki manfaat yang lebih berkelanjutan bagi lingkungan sekolah.
TAMASYA mendukung SDGs 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera (Good Health and Well-being) melalui promosi kesehatan, deteksi dini tumbuh kembang, dan pembiasaan hidup bersih sejak usia dini. Edukasi mengenai emosi dan anti-bullying juga memperkuat terciptanya lingkungan belajar yang aman dan mendukung perkembangan anak. Dengan demikian, pendidikan kesehatan sejak dini tidak hanya membangun tubuh yang sehat, tetapi juga membantu anak tumbuh dengan kemampuan sosial dan emosional yang lebih baik. #UNNESSDGs03




