
GROBOGAN — Lahan yang sebelumnya belum dimanfaatkan di lingkungan Balai Desa Lebengjumuk kini diubah menjadi ruang hijau yang sekaligus menjadi sarana edukasi kesehatan. Mahasiswa GIAT 16 Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Semarang (UNNES) mengembangkan TAMAN BASKARA (Budi Daya Tanaman Obat Keluarga Nusantara) di Balai Desa Lebengjumuk, Kecamatan Grobogan, Kabupaten Grobogan, pada 10 Juli 2026. Lima jenis tanaman, yakni sirih, kunyit, jahe, serai, dan jeruk nipis, ditanam untuk memperkenalkan kembali pemanfaatan tanaman obat keluarga kepada masyarakat.
Kehadiran taman tersebut tidak sekadar memperindah lingkungan balai desa. Setiap tanaman dilengkapi label berbahan bambu yang memuat namanya sebagai media pembelajaran sederhana bagi warga. Masyarakat juga diperkenalkan pada manfaat, cara budidaya, serta pemanfaatan tanaman obat secara aman dalam kehidupan sehari-hari. Dengan pendekatan tersebut, lahan desa diharapkan dapat berfungsi sebagai ruang belajar terbuka sekaligus sumber tanaman herbal yang mudah dikenali dan diakses masyarakat.
Keberlanjutan menjadi perhatian dalam pengembangan TAMAN BASKARA. Perangkat desa didorong untuk merawat dan mengembangkan tanaman setelah program mahasiswa berakhir, sehingga taman tidak berhenti sebagai proyek sesaat. Pemanfaatan potensi lokal tersebut juga membuka peluang bagi masyarakat untuk membangun kebiasaan menjaga kesehatan secara mandiri dengan tetap memperhatikan penggunaan tanaman herbal secara tepat dan aman.
Program TAMAN BASKARA mendukung SDGs 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera (Good Health and Well-being) melalui penguatan upaya promotif dan preventif berbasis potensi lokal. Inisiatif ini menunjukkan bahwa upaya meningkatkan kesehatan masyarakat dapat dimulai dari lingkungan terdekat, termasuk mengoptimalkan lahan desa menjadi ruang edukasi dan sumber daya kesehatan yang dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan. #UNNESSDGs03




