Di banyak desa di Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat, keberangkatan perempuan menjadi pekerja migran telah menjadi bagian dari upaya keluarga untuk memperbaiki kehidupan ekonomi. Uang yang dikirim dari luar negeri mampu membiayai pendidikan anak, memperbaiki rumah, hingga menjadi modal investasi keluarga.
Namun, di balik keberhasilan ekonomi itu, tersimpan persoalan lain yang tidak selalu tampak: bagaimana anak-anak tumbuh ketika figur ibu hadir dari kejauhan. Pertanyaan itulah yang mengantarkan Nahrul Faidin meraih gelar doktor dalam sidang terbuka Program Doktor Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial Universitas Negeri Semarang (UNNES), di Aula FISIP UNNES, Sekaran, Gunungpati Semarang, Selasa, 9 Juni, 2026.
Melalui disertasinya yang berjudul Strategi Pembentukan Perilaku Sosial Anak dalam Interaksi Keluarga Pekerja Migran Perempuan di Kecamatan Langgudu, Kabupaten Bima, ia berupaya memahami kehidupan sosial keluarga pekerja migran perempuan sekaligus merumuskan strategi pembentukan perilaku sosial anak.
Penelitian dilakukan di Kecamatan Langgudu, wilayah yang menjadi penyumbang pekerja migran perempuan tertinggi di Kabupaten Bima. Sepanjang 2021–2025, tercatat 524 perempuan dari kecamatan tersebut bekerja di luar negeri. Kondisi itu menghadirkan perubahan besar dalam pola pengasuhan keluarga.
Temuan Nahrul menunjukkan bahwa kehidupan sosial keluarga pekerja migran perempuan ditandai oleh keterbatasan pendidikan orang tua, menurunnya kualitas interaksi keluarga akibat minimnya kehadiran ibu, serta ketergantungan ekonomi pada remitansi atau uang yang dikirim oleh pekerja pekerja migran ke negara asalnya. Meski kebutuhan keluarga relatif terpenuhi, proses pembentukan karakter anak menghadapi tantangan yang tidak ringan. “Perilaku sosial anak dalam keluarga pekerja migran perempuan belum berkembang secara optimal,” ujar Nahrul saat memaparkan hasil penelitiannya.
Dalam aspek ketaatan, sejumlah anak cenderung mengabaikan perintah orang tua dan kurang konsisten menjalankan aturan rumah. Pada aspek disiplin, mereka mengalami kesulitan mematuhi jadwal belajar, beribadah, maupun menjalankan aktivitas harian secara teratur. Sementara dalam aspek tanggung jawab, sebagian anak belum mampu menyelesaikan tugas rumah tangga maupun kewajiban pribadi secara mandiri.
Menurut Nahrul, kondisi tersebut berkaitan dengan berkurangnya intensitas pendampingan dan keteladanan akibat perubahan pola pengasuhan. Ketika ibu bekerja di luar negeri, peran pengasuhan sering kali dialihkan kepada kakek, nenek, paman, bibi, atau anggota keluarga lain.
Dalam sidang terbuka, sejumlah penguji menyoroti dinamika sosial yang muncul dalam keluarga pekerja migran. Penguji Prof. Tri Marhaeni Pudji Astuti, misalnya, mempertanyakan konstruksi sosial yang berkembang ketika perempuan menjadi penyumbang utama ekonomi keluarga melalui remitansi, sementara suami tetap bekerja di daerah asal.
Menurut Marhaeni, fenomena itu menarik karena tidak selalu sesuai dengan asumsi umum mengenai keluarga migran. Dalam banyak kasus yang ditemuinya, para suami tetap bekerja keras meskipun kebutuhan ekonomi keluarga sebagian besar ditopang oleh penghasilan istri di luar negeri.
Faktor harga diri, gengsi sosial, hingga posisi laki-laki sebagai kepala keluarga dinilai menjadi aspek penting yang memerlukan pembacaan sosial lebih mendalam.”Data sosial baru bisa dipahami jika konteks sosialnya dipahami,” jelas Tri Marhaeni.
Nahrul menambahkan pentingnya memahami figur keteladanan yang hadir dalam kehidupan anak-anak keluarga migran. “Ketika ibu berada di luar negeri, anak tetap membutuhkan model perilaku yang dapat ditiru dari lingkungan terdekat,”kata dosen Prodi Pendidikan Sejarah STKIP Taman Siswa Bima ini.
Untuk menjawab persoalan itu, Nahrul menggunakan metode Analytical Hierarchy Process (AHP) guna menentukan prioritas strategi pembentukan perilaku sosial anak. Hasilnya menunjukkan bahwa pendidikan agama menjadi strategi utama dengan bobot 47,5 persen. Strategi ini mencakup penanaman nilai-nilai keagamaan, pembiasaan ibadah, serta penguatan pemahaman ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari.
Prioritas berikutnya adalah pendidikan keteladanan dengan bobot 29,4 persen. Keteladanan dipandang penting melalui pemberian contoh perilaku positif, komunikasi yang baik, sikap hormat, kerja keras, dan empati dalam kehidupan keluarga. Adapun pendidikan kejujuran menempati urutan ketiga dengan bobot 28,5 persen, terutama melalui konsistensi antara ucapan dan tindakan serta keberanian mengakui kesalahan.
Bagi putra pasangan Ridwan Tance dan Hasiah, temuan ini menunjukkan bahwa pengasuhan anak dalam keluarga migran tidak dapat hanya mengandalkan komunikasi jarak jauh atau dukungan ekonomi. Anak-anak membutuhkan kehadiran figur yang mampu menjadi teladan dan membangun interaksi sosial yang bermakna dalam kehidupan sehari-hari.
Sidang terbuka yang dipimpin Ketua Sidang Fadly Husain itu akhirnya menetapkan Nahrul Faidin lulus sebagai doktor dengan Indeks Prestasi Kumulatif 3,71 dan predikat sangat memuaskan. Anak bungsu dari empat bersaudara ini menjadi Doktor ke-10 lulusan Pendidikan IPS FISIP UNNES
Di ruang sidang, rasa haru keluarga tidak dapat disembunyikan. Ridwan Tance mengaku bersyukur atas keberhasilan putranya menempuh pendidikan hingga jenjang doktoral. “Alhamdulillah, Nahrul satu-satunya di keluarga kami yang kuliah sampai setinggi ini,” ujarnya.
Keberhasilan tersebut sekaligus menandai lahirnya doktor baru yang membawa pulang persoalan penting dari kampung halamannya: bagaimana menjaga tumbuh kembang generasi muda di tengah arus migrasi tenaga kerja yang terus berlangsung. Sebab, sebagaimana ditunjukkan penelitian Nahrul, kesejahteraan keluarga tidak hanya diukur dari besarnya remitansi yang dikirim pulang, melainkan juga dari kemampuan keluarga membentuk karakter anak-anak yang akan menentukan masa depan mereka.



