Pura Mangkunegaran di Solo, Jawa Tengah tak pernah sepi pengunjung. Kompleks istana yang berada di dekat Kali Pepe ini menjadi magnet wisata sejarah karena menyuguhkan gambaran langsung kehidupan bangsawan Mangkunegaran, dari tata busana raja hingga ruang-ruang penting di lingkungan kerajaan.
Pemandu wisata Dodik Ari Syafrudin menjelaskan, pengunjung dapat mempelajari tata cara kehidupan di lingkungan kerajaan Mangkunegaran. “Di sini bisa dilihat bagaimana pakaian batik seorang raja, tata ruang, dan kebiasaan hidup di dalam istana,” ujarnya.
Pura Mangkunegaran merupakan pusat pemerintahan Kadipaten Mangkunegaran yang didirikan Raden Mas Said atau Pangeran Sambernyawa, yang kemudian bergelar KGPAA Mangkunegara I dan memerintah pada 1757–1795. RM Said dikenal sebagai tokoh perlawanan terhadap VOC. Ayahnya, Pangeran Arya Mangkunegara, dibuang ke Ceylon (kini Sri Lanka) hingga Afrika Selatan. Peristiwa pembuangan ke Ceylon itu bahkan melahirkan istilah “diselong” di masyarakat jajahan Belanda kala itu.
Sejarah berdirinya Mangkunegaran tak lepas dari Perang Geger Pecinan (1740–1743). Setelah perang berlarut dan perjuangan gerilya yang panjang, Kadipaten Mangkunegaran berdiri melalui Perjanjian Kalicacing di Salatiga, yang mengakhiri konflik di wilayah Mataram dan mengakui kekuasaan RM Said sebagai Pangeran Adipati Mangkunegara.

Di dalam kompleks Pura Mangkunegaran terdapat sejumlah bagian penting, seperti pringgitan, dalem sebagai tempat hunian penguasa, serta keputren yang menjadi tempat tinggal putri-putri Mangkunegaran.
Kamis pekan lalu, sebanyak 142 orang yang terdiri dari dosen dan tenaga kependidikan dari FISIP UNNES berkunjung ke Pura Mangkunegaran. Salah satunya, Dosen Ilmu Sejarah Ufi Saraswati, menilai banyak perubahan yang terjadi. “Ada banyak area yang kini tertutup, tetapi koleksi seperti kereta dan benda-benda Mangkunegaran justru memperlihatkan sisi eksklusivitas kehidupan bangsawan yang berbeda dengan rakyat kebanyakan,” katanya.
Antusiasme serupa disampaikan Dosen Pendidikan Gografi Mohammad Syifauddin. Ia menyoroti pentingnya melihat langsung sejarah pecahnya Mataram dan kehidupan keraton di era modern. “Melihat langsung membuat cerita sejarah terasa lebih nyata, terutama bagaimana keraton beradaptasi hingga sekarang,” ujarnya.
Pura Mangkunegaran sendiri selalu ramai dikunjungi wisatawan, baik dari dalam maupun luar negeri. Dalam hari biasa, jumlah pengunjung mencapai sekitar 700 orang per hari. Sementara saat akhir pekan atau hari libur, angkanya bisa melonjak hingga mendekati 2.000 orang.




