Tim dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Negeri Semarang (FISIP UNNES) memperkuat konservasi tanah dan air di Desa Wiru, Kecamatan Bringin, Kabupaten Semarang, melalui kegiatan edukasi pemanenan air hujan, pembuatan biopori, dan penyediaan sumber air alternatif bagi masyarakat.
Kegiatan pengabdian dipimpin Prof. Dr. Dewi Liesnoor Setyowati, M.Si. dan melibatkan dosen FISIP UNNES, di antaranya Prof. Dr. Tri Marhaeni Pudji Astuti, M.Hum., Prof. Dr. Puji Hardati, M.Si., Jamhur, S.T., M.T., dan Ervando Tommy Al-Hanif, M.Si. Program dilaksanakan bersama Pemerintah Desa Wiru dengan Dusun Jrebeng sebagai lokasi utama karena wilayah tersebut mengalami kondisi kekeringan paling berat dibandingkan dusun lainnya.
Rangkaian kegiatan dimulai dengan survei lapangan dan koordinasi bersama Pemerintah Desa Wiru pada 27 Mei 2025. Tim melakukan identifikasi kondisi lingkungan sekaligus menentukan lokasi yang membutuhkan intervensi konservasi dan penyediaan air. Dusun Jrebeng kemudian dipilih sebagai lokasi pelaksanaan program tahun 2025.
Salah satu bentuk intervensi yang dilakukan adalah pembangunan sumber air berupa sumur gali. Persiapan kegiatan dimulai pada 10 Juni 2025, sedangkan proses penggalian sumur dimulai pada 3 Juli 2025 dengan melibatkan tenaga lokal Desa Wiru. Tim FISIP UNNES kemudian melakukan monitoring pada 30 Juli 2025 bersama Kepala Desa Wiru dan perangkat Dusun Jrebeng.
Selain menyediakan sumber air alternatif, program menekankan pentingnya menjaga kemampuan tanah dalam menyerap dan menyimpan air. Masyarakat memperoleh edukasi dan praktik mengenai lubang resapan biopori, pemanfaatan air hujan, serta penggunaan sistem pemanenan air hujan sederhana. Melalui biopori, air hujan dapat lebih banyak masuk ke dalam tanah sehingga membantu mengurangi limpasan permukaan sekaligus mendukung konservasi air tanah.
Pada 3 Agustus 2025, tim melaksanakan sosialisasi konservasi air di RT 02 RW 03 Dusun Jrebeng. Prof. Dewi Liesnoor Setyowati menyampaikan pelaksanaan program pengabdian, sedangkan Prof. Puji Hardati memberikan materi mengenai pentingnya praktik konservasi air. Masyarakat juga diperkenalkan pada pemanfaatan air hujan sebagai cadangan air, penanaman vegetasi penyimpan air, serta pengelolaan lingkungan untuk mempertahankan fungsi resapan.
Desa Wiru memiliki luas wilayah sekitar 4,14 km² atau 414 hektare, setara dengan sekitar 6,69 persen luas Kecamatan Bringin. Luas tersebut merupakan luas administratif Desa Wiru dan digunakan sebagai konteks wilayah pelaksanaan program, bukan sebagai luas khusus lokasi pembuatan biopori atau sumur.
Kondisi lingkungan Desa Wiru turut menunjukkan pentingnya konservasi sumber daya daratan. Penggunaan lahannya meliputi sekitar 157,10 hektare sawah, 47,82 hektare tegalan, dan 4,16 hektare perkebunan. Kondisi geologinya juga menyebabkan sebagian wilayah memiliki daya serap air yang tinggi tetapi kemampuan penyimpanan air relatif terbatas, sehingga masyarakat membutuhkan strategi konservasi yang mampu meningkatkan ketersediaan air pada musim kemarau.
Program ini tidak berhenti pada pemberian materi. Tim melakukan demonstrasi dan praktik pembuatan biopori, percontohan pemanenan air hujan, pendampingan, serta pembangunan sumber air alternatif. Sumur yang dibangun kemudian dapat berfungsi sebagai tambahan sumber air bersama bagi warga, terutama ketika kebutuhan air meningkat pada musim kemarau.
Kolaborasi antara UNNES dan Pemerintah Desa Wiru juga diperkuat melalui Implementation Arrangement (IA). Kerja sama tersebut menjadi landasan bagi keberlanjutan kegiatan konservasi dan pendampingan masyarakat setelah program utama selesai.




