Kemudahan memperoleh jawaban melalui kecerdasan buatan mulai mengubah cara mahasiswa menghadapi tuntutan akademik. Ketika tugas terasa sulit atau waktu pengerjaan menipis, teknologi menjadi tempat yang menyediakan solusi dengan cepat. Kebiasaan ini pada awalnya mungkin membantu, tetapi jika terus berulang, muncul persoalan yang lebih dalam: apakah mahasiswa masih terbiasa mengandalkan kemampuan berpikirnya sendiri ketika menghadapi kesulitan?

Fenomena inilah yang menjadi perhatian Tim Program Kreativitas Mahasiswa Riset Sosial Humaniora (PKM-RSH) Universitas Negeri Semarang (UNNES). Tim mengkaji hubungan antara tingkat ketergantungan terhadap kecerdasan buatan dengan kemampuan penalaran matematis mahasiswa calon guru matematika. Penelitian ini tidak hanya melihat penggunaan teknologi dalam pembelajaran, tetapi juga fenomena yang berkaitan dengan psikologis mahasiswa, mulai dari mengkaji bagaimana tekanan akademik, rasa tidak yakin terhadap kemampuan diri, dan keinginan memperoleh solusi secara instan yang berpotensi memengaruhi pola penggunaan kecerdasan buatan.

Dari sisi psikologis, penggunaan kecerdasan buatan secara berulang tanpa diimbangi dengan proses berpikir mandiri berpotensi membuat mahasiswa ragu terhadap kemampuan dirinya ketika harus menyelesaikan persoalan tanpa bantuan kecerdasan buatan. Ketika jawaban selalu tersedia secara instan, mahasiswa dapat terbiasa meninggalkan proses berpikir kritis dan merasa kurang percaya diri saat menghadapi kesulitan secara mandiri. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa persoalan penggunaan kecerdasan buatan tidak hanya berkaitan dengan kemampuan akademik, tetapi juga dengan keyakinan mahasiswa terhadap kemampuan dirinya sendiri.
Mahasiswa calon guru matematika menjadi kelompok yang penting untuk dikaji karena kemampuan bernalar secara mandiri merupakan bekal dalam menghadapi masalah pembelajaran di masa mendatang. Jika teknologi digunakan tanpa disertai kemampuan memahami dan menjelaskan kembali informasi yang diperoleh, pola tersebut berpotensi terbawa ketika mereka menjalankan peran sebagai pendidik.

Penelitian ini dilakukan pada mahasiswa Program Studi Pendidikan Matematika di Universitas Negeri Semarang (UNNES), Universitas PGRI Semarang (UPGRIS), dan UIN Walisongo melalui kolaborasi multidisiplin dengan pendampingan dosen pembimbing, Dr. Nuriana Rachmani Dewi (Nino Adhi), M.Pd. Kolaborasi ini mempertemukan perspektif psikologi, pendidikan matematika, dan sosial budaya untuk melihat penggunaan kecerdasan buatan secara lebih mendalam.

Penelitian ini tidak menempatkan kecerdasan buatan sebagai ancaman bagi pendidikan. Teknologi tetap dapat menjadi sarana pendukung belajar selama digunakan secara tepat. Yang perlu dijaga adalah agar kemudahan memperoleh jawaban tidak menggantikan proses berpikir, memahami, dan mengembangkan pengetahuan secara mandiri. Hal ini sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) ke-4 tentang Pendidikan Berkualitas dan Asta Cita keempat yang menekankan pembangunan sumber daya manusia melalui penguatan pendidikan, sains, dan teknologi. Melalui penelitian ini, Tim PKM-RSH UNNES berupaya mengambil bagian dalam mencerdaskan kehidupan bangsa dengan tetap menempatkan kemampuan manusia untuk berpikir sebagai bagian penting dari pendidikan.




