Universitas Negeri Semarang (UNNES) kembali menyelenggarakan Wisuda ke-139 dengan melepas sebanyak 1.500 lulusan dari berbagai jenjang pendidikan. Para lulusan tersebut terdiri atas Program Diploma, Sarjana, Magister, dan Doktor.
Berdasarkan data rekapitulasi wisuda, Program Sarjana menjadi penyumbang lulusan terbanyak dengan 1.167 lulusan. Selanjutnya, Program Magister meluluskan 287 orang, Program Doktor 42 orang, dan Program Diploma 4 orang.
Dalam pidatonya, Rektor UNNES menyampaikan ucapan selamat kepada seluruh wisudawan atas capaian yang telah diraih. Menurutnya, kelulusan merupakan prestasi yang layak dibanggakan dan disyukuri. Namun, ia menegaskan bahwa wisuda bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan awal dari pengabdian yang lebih besar bagi masyarakat, bangsa, dan negara.
“Capaian yang saudara raih hari ini merupakan prestasi yang layak dibanggakan dan layak disyukuri. Namun, di sisi lain, kita harus memahami bahwa ini bukanlah akhir, melainkan awal dari pengabdian yang lebih besar, yaitu pengabdian untuk mengimplementasikan ilmu pengetahuan bagi kemaslahatan masyarakat, bangsa, dan negara,” ujarnya.
Pada kesempatan tersebut, Rektor juga mengingatkan bahwa Indonesia saat ini tengah menghadapi berbagai tantangan yang tidak ringan. Sejumlah tantangan di bidang moneter dan fiskal, menurutnya, berpotensi memberikan dampak terhadap kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat. Meski demikian, ia optimistis bangsa Indonesia memiliki ketangguhan untuk menghadapi berbagai dinamika tersebut.
“Sebagai sebuah bangsa, kita terlatih untuk menghadapi berbagai tantangan, baik dari dalam maupun dari luar. Dan ketika kita berhasil menghadapinya, kita tumbuh menjadi bangsa yang lebih kuat di masa mendatang,” katanya.
Rektor menjelaskan bahwa tantangan dan perubahan dapat dipandang secara berbeda oleh setiap orang, tergantung pada latar belakang pendidikan yang dimiliki. Bagi sebagian masyarakat, perubahan dan ketidakpastian dapat menimbulkan kekhawatiran maupun keraguan. Namun, bagi kaum terdidik, tantangan merupakan realitas yang harus dipahami dan dihadapi dengan ilmu pengetahuan.
Menurutnya, pengetahuan memungkinkan seseorang memahami akar persoalan, mempertimbangkan berbagai pilihan yang rasional, serta menentukan langkah terbaik dalam merespons situasi yang dihadapi. Karena itu, lulusan perguruan tinggi diharapkan memiliki cara pandang yang lebih luas dan sikap yang lebih bijaksana dalam menghadapi perubahan.
“Pendidikan tinggi yang saudara tempuh telah membekali saudara dengan kemampuan menganalisis masalah secara mendalam, mempertimbangkan berbagai sudut pandang, serta tidak mudah terjebak dalam simplifikasi maupun generalisasi,” tuturnya.
Ia juga mengingatkan nilai-nilai kearifan yang dikenal dalam budaya Jawa, yakni ojo gumunan, ojo kagetan, dan ojo dumeh. Nilai tersebut, menurutnya, relevan dalam menghadapi berbagai tantangan yang muncul di tengah masyarakat.
Lebih lanjut, Rektor menekankan bahwa ilmu pengetahuan harus diwujudkan dalam praktik dan tindakan nyata. Kemauan untuk menerapkan ilmu menjadi faktor penting yang akan memperkuat daya juang seseorang dalam menghadapi berbagai persoalan.
“Ilmu terwujud ketika dipraktikkan. Untuk mempraktikkan, kita harus memiliki kemauan. Dan kemauan inilah yang membuat kita kuat dan memiliki daya juang,” ujarnya.
Ia menambahkan, ilmu yang diwujudkan melalui karya, gagasan, kebijakan, maupun tindakan nyata akan menjadi kontribusi berarti dalam membantu menyelesaikan berbagai persoalan bangsa. Oleh karena itu, para lulusan diharapkan mampu mengaktualisasikan kompetensi yang dimiliki dan membawa pola pikir logis serta solutif dalam kehidupan bermasyarakat.
Di akhir pidato, Rektor UNNES menyampaikan apresiasi kepada orang tua dan keluarga yang telah memberikan dukungan serta doa selama para mahasiswa menempuh pendidikan. Rektor berharap para lulusan dapat mengaktualisasikan ilmu dan kompetensi yang dimiliki serta menjadi pemimpin di berbagai bidang pada masa mendatang.




