Semarang – Universitas Negeri Semarang (UNNES) melalui Sekolah Pascasarjana (SPs) sukses menyelenggarakan The 12th International Conference on Science, Education, and Technology (ISET) 2026 pada Kamis (25/6). Konferensi internasional ini menjadi wadah bagi akademisi, peneliti, pendidik, praktisi, mahasiswa pascasarjana, serta mitra dari berbagai negara untuk berbagi hasil penelitian, bertukar gagasan, dan memperkuat jejaring kolaborasi dalam bidang sains, pendidikan, dan teknologi guna menjawab berbagai tantangan global.
Sebagai salah satu konferensi internasional unggulan UNNES, ISET 2026 mencerminkan komitmen universitas dalam mendorong pengembangan ilmu pengetahuan, inovasi, dan kolaborasi akademik lintas negara. Melalui forum ini, UNNES terus memperkuat posisinya sebagai perguruan tinggi bereputasi internasional yang berkontribusi terhadap pembangunan berkelanjutan melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.
Rangkaian kegiatan diawali dengan upacara pembukaan yang dilanjutkan dengan laporan Ketua Panitia, Dr. Wahyu Beny Mukti Setiyawan, S.H., M.H. Dalam laporannya, ia menyampaikan bahwa ISET 2026 diikuti oleh 238 peserta, yang terdiri atas 184 peserta daring, 4 peserta luring, dan 50 pemakalah. Tingginya antusiasme peserta menunjukkan semakin besarnya perhatian komunitas akademik terhadap pentingnya kolaborasi internasional dalam menghasilkan riset yang berkualitas dan berdampak bagi masyarakat. Ia juga menyampaikan apresiasi kepada para keynote speaker, invited speaker, reviewer, moderator, mitra, sponsor, dan seluruh panitia yang telah mendukung terselenggaranya konferensi ini.
Konferensi secara resmi dibuka oleh Prof. Dr. Zaenuri, M.Si., Akt., Wakil Rektor Bidang Akademik Universitas Negeri Semarang yang mewakili Rektor UNNES. Dalam sambutannya, Prof. Zaenuri menegaskan bahwa perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam menghasilkan inovasi, memperkuat riset multidisiplin, serta membangun kolaborasi internasional untuk menjawab berbagai tantangan global. Menurutnya, kemajuan ilmu pengetahuan harus mampu melahirkan solusi nyata bagi masyarakat sekaligus mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) melalui pendidikan yang berkualitas, pengembangan teknologi, serta kemitraan yang berkelanjutan.
Sesi keynote disampaikan oleh Prof. Dr. Fathur Rokhman, M.Hum., Direktur Sekolah Pascasarjana UNNES. Dalam paparannya, ia menekankan pentingnya membangun budaya riset yang kuat, meningkatkan publikasi ilmiah bereputasi internasional, serta memperluas jejaring kerja sama dengan berbagai perguruan tinggi dan lembaga dunia. Menurutnya, pembangunan berkelanjutan tidak dapat dicapai hanya melalui kemajuan teknologi, tetapi juga memerlukan sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah, industri, dan masyarakat. Oleh karena itu, ISET 2026 diharapkan menjadi ruang strategis untuk melahirkan inovasi, memperkuat kolaborasi, dan menghasilkan solusi ilmiah bagi berbagai persoalan global.
Salah satu sesi yang mendapat perhatian besar adalah keynote lecture yang disampaikan oleh Dr. Raqib Chowdhury dari Monash University, Australia, dengan tema Who/What Is Reading You? Critical AI Literacy in an Age of Algorithms, Platforms, and Power. Dalam paparannya, Dr. Raqib mengajak peserta untuk melihat kembali makna literasi di era kecerdasan buatan. Menurutnya, tantangan terbesar dunia pendidikan saat ini bukan sekadar mengajarkan cara menggunakan teknologi Artificial Intelligence (AI), melainkan membangun kemampuan berpikir kritis terhadap informasi yang dihasilkan oleh algoritma.
Ia memperkenalkan konsep Critical AI Literacy, yaitu kemampuan untuk mempertanyakan asumsi, mengenali bias, mengevaluasi informasi yang dihasilkan AI secara kritis, serta menggunakan teknologi secara etis dan bertanggung jawab. Dengan berbagai contoh mengenai media sosial, algoritma digital, hingga budaya konsumsi berbasis AI, Dr. Raqib menunjukkan bahwa literasi digital saat ini tidak lagi cukup dimaknai sebagai kemampuan mengoperasikan teknologi, tetapi juga kemampuan berpikir kritis, memahami etika digital, dan mengambil keputusan secara bijaksana. Gagasan tersebut selaras dengan SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) dan SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur).
Pada sesi berikutnya, Dr. (HC) Gunawan Tjokro, MBA dari PT Gunanusa Eramandiri menyoroti pentingnya memperkuat sinergi antara perguruan tinggi dan dunia industri. Ia menegaskan bahwa hasil penelitian harus mampu menghasilkan inovasi yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat sekaligus meningkatkan daya saing bangsa. Menurutnya, perguruan tinggi memiliki tanggung jawab untuk menyiapkan lulusan yang adaptif, inovatif, dan memiliki jiwa kewirausahaan sehingga mampu menghadapi dinamika dunia kerja global. Paparan tersebut menunjukkan kontribusi dunia pendidikan terhadap pencapaian SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi).
Konferensi juga menghadirkan Dr. Suryadi dari Leiden University, Belanda, yang membahas pentingnya pelestarian warisan budaya di tengah pesatnya perkembangan teknologi. Ia menjelaskan bahwa naskah kuno, kearifan lokal, dan kekayaan budaya Indonesia merupakan sumber pengetahuan yang tetap relevan dalam menjawab tantangan masa depan. Integrasi antara pelestarian budaya dan inovasi ilmiah menjadi salah satu strategi penting dalam mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan, sejalan dengan SDG 11 (Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan).
Sesi pleno kedua menghadirkan Xiao Jin, Ph.D. dari Fujian Polytechnic Normal University, Tiongkok, serta Prof. William Bradley Horton dari Akita University, Jepang. Keduanya membahas transformasi pendidikan, pemanfaatan teknologi digital dalam pembelajaran, serta pentingnya kolaborasi internasional dalam meningkatkan kualitas pendidikan tinggi. Paparan tersebut menegaskan bahwa perguruan tinggi harus mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi tanpa mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan, etika, dan inklusivitas.
Sesi pleno ditutup oleh Prof. Dr. Wasino, M.Hum., Wakil Direktur Bidang Akademik, Kemahasiswaan, dan Kerja Sama Sekolah Pascasarjana UNNES. Ia menegaskan bahwa kerja sama internasional perlu dibangun di atas fondasi kearifan lokal dan identitas budaya bangsa. Menurutnya, perguruan tinggi harus mampu menjadi jembatan antara pengetahuan global dengan nilai-nilai lokal sehingga inovasi yang dihasilkan tetap relevan dengan kebutuhan masyarakat.
Setelah sesi pleno, kegiatan dilanjutkan dengan parallel presentation yang berlangsung di lima ruang sidang. Para pemakalah mempresentasikan hasil penelitian dari berbagai disiplin ilmu, mulai dari pendidikan, kecerdasan buatan, teknologi pembelajaran, teknik, ilmu sosial, ekonomi, hingga isu-isu lingkungan. Diskusi yang berlangsung dalam setiap sesi memberikan kesempatan kepada peserta untuk memperoleh masukan akademik, memperluas jejaring penelitian, serta membuka peluang kolaborasi lintas institusi dan lintas negara.
Berbagai hasil penelitian yang dipresentasikan menunjukkan keterkaitan yang kuat dengan agenda Sustainable Development Goals (SDGs). Sebagian besar penelitian mendukung SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui inovasi kurikulum, pembelajaran digital, pengembangan profesional guru, dan pemanfaatan kecerdasan buatan dalam pendidikan. Penelitian mengenai transformasi digital dan inovasi teknologi berkontribusi terhadap SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur), sedangkan kajian tentang kewirausahaan dan pendidikan vokasi mendukung SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi).
Di sisi lain, berbagai penelitian mengenai pendidikan lingkungan, pemberdayaan masyarakat, pelestarian budaya, dan pembangunan berkelanjutan memberikan kontribusi terhadap SDG 11 (Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan) serta SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim). Lebih jauh lagi, penyelenggaraan ISET 2026 sendiri menjadi wujud nyata implementasi SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) melalui terbangunnya kolaborasi antara perguruan tinggi, dunia industri, peneliti, serta berbagai institusi dari Indonesia dan berbagai negara.
Keberhasilan penyelenggaraan ISET 2026 kembali menegaskan komitmen UNNES dalam memperkuat reputasi internasional melalui riset, inovasi, dan kolaborasi akademik. Lebih dari sekadar forum diseminasi hasil penelitian, ISET telah berkembang menjadi ruang strategis untuk mempertemukan gagasan, memperluas jejaring kerja sama global, serta mendorong lahirnya solusi inovatif bagi berbagai tantangan pembangunan berkelanjutan.
Melalui semangat kolaborasi yang dibangun selama konferensi, UNNES optimistis bahwa berbagai gagasan, hasil penelitian, dan kemitraan yang terjalin akan berlanjut dalam bentuk penelitian bersama, publikasi internasional, pertukaran dosen dan mahasiswa, serta berbagai program kerja sama akademik lainnya. Dengan demikian, ISET 2026 tidak hanya memperkuat posisi UNNES sebagai perguruan tinggi bereputasi internasional, tetapi juga menjadi kontribusi nyata universitas dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals di tingkat nasional maupun global.



