Mahasiswa Genuine Fermentation Club (GFC) Rumpun Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Negeri Semarang (UNNES) melaksanakan kegiatan kunjungan edukatif ke Oemah Koro yang berlokasi di Bimardi Park and Farm, Desa Sendangijo, Kecamatan Selogiri, Kabupaten Wonogiri. Kegiatan ini dilakukan bersama Rumah Inovasi Tempe Sekar Sari sebagai bentuk kolaborasi dalam pengembangan inovasi pangan lokal berbasis fermentasi.

Program ini berfokus pada pemanfaatan koro pedang putih (Canavalia ensiformis) sebagai bahan baku alternatif pembuatan tempe dan produk olahan pangan lainnya. Koro pedang merupakan tanaman kacang-kacangan yang belum dibudidayakan secara optimal di Jawa Tengah, namun memiliki kandungan protein tinggi serta potensi besar dalam mendukung ketahanan pangan nasional.
Guru Besar Ilmu Bioteknologi FMIPA UNNES, Prof. Dr. Siti Harnina Bintari, M.S., menyampaikan bahwa pengembangan tempe non-kedelai menjadi langkah strategis di tengah meningkatnya ketergantungan terhadap kedelai impor. Menurutnya, pemanfaatan bahan pangan lokal seperti koro pedang dapat menjadi solusi inovatif untuk mewujudkan kemandirian pangan yang berkelanjutan.
Pemilik Oemah Koro, Ibu Sukesti Nuswantari, menjelaskan bahwa proses memperkenalkan koro pedang sebagai bahan pangan alternatif memerlukan waktu dan edukasi berkelanjutan kepada masyarakat. Melalui berbagai inovasi produk serta pelatihan kewirausahaan, saat ini koro pedang telah berkembang menjadi komoditas pangan bernilai ekonomi, dengan produk olahan seperti tempe dan keripik tempe yang telah dipasarkan oleh masyarakat setempat.

Dalam kegiatan ini, mahasiswa GFC memperoleh pembelajaran langsung mengenai budidaya koro pedang, proses fermentasi, hingga pengolahan hasil menjadi berbagai produk pangan. Selain tempe, koro pedang juga diolah menjadi produk lain seperti susu, keripik, sambal, hingga makanan olahan siap saji. Mahasiswa juga berkesempatan melakukan panen langsung serta mencicipi hasil olahan koro pedang, termasuk susu koro pedang segar.
Koro pedang (Canavalia ensiformis) merupakan tanaman yang mampu tumbuh pada lahan marginal dengan kondisi tanah kurang subur serta memiliki ketahanan tinggi terhadap lingkungan kering. Karakteristik tersebut menjadikannya berpotensi sebagai alternatif sumber pangan lokal yang adaptif dan berkelanjutan.
Proses pembuatan tempe koro pedang dilakukan melalui beberapa tahap, yaitu perendaman biji selama dua hari dua malam, perebusan, pengupasan kulit, pencampuran dengan tepung kanji dan ragi, kemudian fermentasi selama dua hari dua malam hingga menjadi tempe. Produk akhir dapat diolah lebih lanjut menjadi keripik tempe yang memiliki nilai jual tinggi.
Melalui kegiatan ini, GFC bersama Rumah Inovasi Tempe Sekar Sari berharap dapat mendorong pengembangan diversifikasi pangan lokal, meningkatkan nilai tambah hasil pertanian, serta membuka peluang usaha berbasis inovasi pangan di Indonesia. Kegiatan ini juga menjadi sarana edukasi bagi mahasiswa dalam pengembangan ilmu bioteknologi terapan di bidang pangan.


