Dosen FMIPA Universitas Negeri Semarang (UNNES) mengembangkan pemanfaatan sereh wangi (Cymbopogon nardus) sebagai antijamur alami pada kain ecoprint dan batik.
Tanaman ini diketahui kaya senyawa sitronelal, sitronelol, dan geraniol yang memiliki aktivitas antijamur dan antibakteri.
Dengan begitu efektif menghambat pertumbuhan Candida albicans, Aspergillus niger, Trichophyton rubrum, hingga Penicillium sp.
Salah satu perajin menyebut pemakaian sereh wangi tidak mengubah warna kain dan memberi aroma segar.
Penggunaan ini dinilai membuat ecoprint dan batik lebih tahan lama, terutama saat musim hujan.
Salah satu perajin menyebut pemakaian sereh wangi tidak mengubah warna kain dan memberi aroma segar.
Penggunaan ini dinilai membuat ecoprint dan batik lebih tahan lama, terutama saat musim hujan.
Selain efektif untuk ecoprint, metode serupa juga menjanjikan untuk batik warna alam yang lebih rentan terhadap jamur selama penyimpanan.
Inovasi berbasis sumber daya lokal ini dinilai mendukung produksi tekstil berkelanjutan, pengurangan limbah kimia, serta kontribusi terhadap tujuan SDGs.
Termasuk industri kreatif ramah lingkungan (SDG 9), keanekaragaman hayati (SDG 15), dan pengurangan jejak karbon (SDG 13).
Hasil penelitian tersebut kini dihilirisasi melalui program Transformasi Teknologi dan Inovasi Kemendiktisains 2025.
Tim pengabdian Unnes menerapkan inovasi ini pada kelompok perajin batik dan ecoprint di Desa Ngesrepbalong.
Desa ini merupakan wilayah yang kerap mengalami kondisi lembap sehingga produk kain mudah ditumbuhi jamur, menimbulkan bintik hitam, bau apek, dan memudarkan warna.
Tim pengabdi yang juga penanggung jawab PUI Botanical Eco Creation terdiri atas Prof. Dr. Margareta, Dra. Widowati, M.Pd., Karsinah, S.E. M.Si, Dante Alighiri, S.Si. M.Si., dan Godham Adi Saputro, S.Sn. M.Ds.
Mereka memanfaatkan sereh wangi yang telah dibudidayakan warga setempat sebagai alternatif lebih aman dibanding bahan kimia sintetis.




