Semarang, 6 November 2026 — Fakultas Teknik Universitas Negeri Semarang (FT UNNES) menyelenggarakan Seminar Geoteknik dengan mengangkat tema “Earthquake Disasters in Indonesia: Community Resilience in Banda Aceh and Liquefaction in Petobo, Palu” pada Jumat (6/11/2026). Kegiatan ini berlangsung pukul 07.30–10.00 WIB di Gedung Dekanat Fakultas Teknik UNNES lantai 3, dengan menghadirkan dua narasumber yang memiliki kompetensi dan pengalaman dalam bidang kebencanaan serta geoteknik, yaitu Prof. Franck Lavigne dan Togani Cahyadi Upomo, S.T., M.Eng., Ph.D.
Seminar ini diselenggarakan sebagai sarana pengembangan wawasan akademik mahasiswa, khususnya dalam memahami fenomena gempa bumi, dampak bencana geologi, serta pentingnya ketahanan masyarakat dalam menghadapi risiko kebencanaan. Melalui pembahasan kasus bencana gempa bumi di Banda Aceh dan fenomena likuefaksi di Petobo, Palu, peserta diajak untuk memahami bahwa bencana alam tidak hanya berkaitan dengan fenomena geologi, tetapi juga melibatkan aspek kondisi tanah, infrastruktur, mitigasi, dan kesiapsiagaan masyarakat.
Pemilihan tema tersebut menjadi relevan mengingat Indonesia merupakan negara yang berada di kawasan Cincin Api Pasifik (Ring of Fire), sehingga memiliki tingkat kerawanan terhadap berbagai bencana geologi, termasuk gempa bumi dan likuefaksi. Kondisi ini menuntut penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, khususnya di bidang geoteknik, agar risiko bencana dapat dipahami dan dikelola melalui pendekatan ilmiah serta perencanaan infrastruktur yang tepat.
Menghadirkan Perspektif Akademik dan Pengalaman Kebencanaan
Dalam seminar ini, Prof. Franck Lavigne hadir sebagai narasumber untuk memberikan perspektif akademik mengenai bencana gempa bumi di Indonesia, khususnya pembelajaran dari peristiwa bencana di Banda Aceh. Pembahasan mengenai ketahanan masyarakat (community resilience) menjadi salah satu aspek penting untuk memahami bagaimana masyarakat dapat menghadapi, beradaptasi, dan bangkit setelah mengalami bencana besar.
Pengalaman bencana di Banda Aceh memberikan pelajaran penting mengenai dampak gempa bumi dan tsunami terhadap kehidupan masyarakat, lingkungan, serta infrastruktur. Peristiwa tersebut menunjukkan bahwa upaya pengurangan risiko bencana tidak cukup hanya mengandalkan pembangunan fisik, tetapi juga membutuhkan kesiapsiagaan masyarakat, pemahaman terhadap risiko, serta kemampuan untuk melakukan pemulihan secara berkelanjutan.
Sementara itu, Togani Cahyadi Upomo, S.T., M.Eng., Ph.D. turut memberikan pemaparan mengenai aspek geoteknik, khususnya fenomena likuefaksi yang terjadi di Petobo, Palu. Likuefaksi merupakan fenomena ketika tanah jenuh air mengalami penurunan kekuatan dan kekakuan akibat guncangan gempa bumi sehingga berperilaku menyerupai cairan. Fenomena ini dapat menyebabkan pergerakan tanah, kerusakan bangunan, serta kerusakan infrastruktur di wilayah terdampak.
Kasus likuefaksi Petobo menjadi salah satu pembelajaran penting dalam bidang geoteknik, terutama mengenai karakteristik tanah, kondisi geologi setempat, pengaruh muka air tanah, serta respons tanah terhadap beban dinamis akibat gempa bumi. Pemahaman terhadap aspek-aspek tersebut sangat diperlukan dalam proses investigasi tanah, analisis potensi bahaya, perencanaan fondasi, dan pengembangan infrastruktur yang lebih aman terhadap risiko bencana.
Melalui kedua perspektif tersebut, seminar memberikan gambaran yang lebih komprehensif kepada peserta mengenai keterkaitan antara fenomena geologi, rekayasa geoteknik, ketahanan infrastruktur, dan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi bencana.
Memperluas Wawasan dan Kompetensi Mahasiswa
Penyelenggaraan Seminar Geoteknik ini memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk memperoleh pengetahuan yang lebih luas melalui pembelajaran langsung dari narasumber yang memiliki keahlian di bidangnya. Materi yang disampaikan tidak hanya memperkaya pemahaman teoritis yang diperoleh selama perkuliahan, tetapi juga memberikan gambaran nyata mengenai penerapan ilmu geoteknik dalam menghadapi persoalan kebencanaan di Indonesia.
Melalui pembahasan studi kasus Banda Aceh dan Petobo, Palu, mahasiswa dapat memahami bagaimana suatu peristiwa gempa bumi dapat menimbulkan dampak yang berbeda berdasarkan kondisi geologi, karakteristik tanah, serta faktor lingkungan dan sosial di wilayah terdampak. Hal ini menjadi bekal penting bagi mahasiswa untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis, melakukan analisis permasalahan, serta memahami pentingnya pendekatan multidisipliner dalam bidang teknik sipil dan geoteknik.
Selain menambah wawasan akademik, kegiatan ini juga diharapkan dapat meningkatkan kesadaran mahasiswa mengenai tanggung jawab profesi insinyur dalam menciptakan lingkungan binaan yang aman dan tangguh terhadap bencana. Mahasiswa sebagai calon tenaga ahli di bidang teknik perlu memiliki pemahaman bahwa perencanaan dan pembangunan infrastruktur harus mempertimbangkan kondisi geologi serta potensi risiko kebencanaan agar dapat memberikan perlindungan dan manfaat jangka panjang bagi masyarakat.
Interaksi akademik melalui seminar juga membuka ruang pertukaran pengetahuan antara mahasiswa dan narasumber. Kesempatan tersebut menjadi sarana bagi mahasiswa untuk mengenal perkembangan keilmuan geoteknik, memperoleh perspektif yang lebih luas, serta menghubungkan teori dengan berbagai tantangan nyata dalam praktik rekayasa di lapangan.
Mendukung SDG 4: Pendidikan Berkualitas
Kegiatan Seminar Geoteknik ini sejalan dengan komitmen Universitas Negeri Semarang dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4: Pendidikan Berkualitas (Quality Education). Tujuan pembangunan berkelanjutan ini menekankan pentingnya penyediaan pendidikan yang inklusif, merata, dan berkualitas, serta kesempatan belajar sepanjang hayat bagi semua orang.
Dalam konteks pendidikan tinggi, seminar akademik menjadi salah satu bentuk pembelajaran tambahan yang dapat memperkaya pengalaman belajar mahasiswa di luar kegiatan perkuliahan reguler. Kehadiran narasumber dengan kompetensi dan perspektif yang beragam memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk memperoleh pengetahuan aktual, memahami persoalan berdasarkan studi kasus, serta meningkatkan kapasitas akademik dan profesional.
Secara khusus, kegiatan ini mendukung penguatan kompetensi mahasiswa dalam memahami risiko bencana dan penerapan ilmu pengetahuan untuk menyelesaikan permasalahan di bidang teknik. Pembelajaran mengenai gempa bumi, likuefaksi, dan ketahanan masyarakat juga mendorong mahasiswa untuk memiliki kepedulian terhadap keselamatan publik serta pembangunan infrastruktur yang berkelanjutan.
Melalui kegiatan seperti ini, Fakultas Teknik UNNES terus berupaya menciptakan lingkungan pembelajaran yang tidak hanya berorientasi pada penguasaan teori, tetapi juga memberikan pengalaman akademik yang kontekstual, aplikatif, dan relevan dengan tantangan pembangunan di masyarakat.

Membangun Generasi Insinyur yang Tanggap terhadap Tantangan Kebencanaan
Melalui penyelenggaraan Seminar Geoteknik, Fakultas Teknik UNNES berharap mahasiswa semakin memahami pentingnya ilmu geoteknik dalam mendukung pembangunan infrastruktur yang aman, andal, dan berkelanjutan. Pembelajaran dari bencana di Banda Aceh dan Petobo, Palu diharapkan dapat menjadi referensi akademik sekaligus pengingat bahwa penguasaan ilmu teknik memiliki peran penting dalam mengurangi risiko dan dampak bencana.
Kegiatan ini juga menjadi bagian dari upaya FT UNNES dalam memperkuat kualitas pendidikan melalui pengembangan wawasan, pertukaran pengetahuan, dan pengayaan pengalaman belajar mahasiswa. Dengan menghubungkan pembelajaran akademik dengan fenomena dan permasalahan nyata, mahasiswa diharapkan mampu mengembangkan kompetensi serta kepekaan terhadap kebutuhan masyarakat.
Ke depan, Fakultas Teknik UNNES berkomitmen untuk terus mendorong kegiatan akademik yang memberikan nilai tambah bagi mahasiswa, memperluas jejaring keilmuan, serta mendukung terciptanya lulusan yang kompeten, adaptif, dan memiliki tanggung jawab profesional dalam menghadapi berbagai tantangan pembangunan, khususnya di bidang teknik dan kebencanaan.




