GROBOGAN — Pemberantasan Demam Berdarah Dengue (DBD) dapat dimulai dari langkah sederhana di rumah, yakni memastikan tidak ada tempat yang menjadi sarang jentik nyamuk. Kesadaran tersebut didorong mahasiswa KKN GIAT 16 Kesehatan Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Semarang melalui program SIRIH JENTIK (Sinergi Rumah Bersih Hilangkan Jentik) di Dusun Purwo, Desa Lebengjumuk, Grobogan, pada 6–13 Juli 2026.
Sebanyak 30 rumah warga di setiap RT menjadi sasaran pemantauan secara door-to-door. Mahasiswa memeriksa bak mandi, ember, drum, tempayan, dan berbagai tempat penampungan air lainnya yang berpotensi menjadi tempat berkembang biaknya Aedes aegypti. Pemeriksaan sekaligus disertai edukasi 3M Plus agar warga tidak hanya mengetahui keberadaan jentik, tetapi mampu melakukan pencegahan secara mandiri dan rutin.
Upaya tersebut diperkuat dengan pemantauan lanjutan untuk melihat perubahan kondisi tempat penampungan air setelah edukasi diberikan. Bagi rumah yang masih ditemukan jentik, mahasiswa mengenalkan larvasida alami berbahan daun sirih sebagai alternatif pengendalian larva yang lebih ramah lingkungan. Pendekatan ini diharapkan membuat pencegahan tidak berhenti pada pemeriksaan, tetapi berlanjut menjadi kebiasaan di tingkat keluarga.
SIRIH JENTIK menunjukkan bahwa pengendalian DBD membutuhkan keterlibatan masyarakat secara langsung dan berkelanjutan. Sinergi mahasiswa, pemerintah desa, dan warga menjadi bagian dari upaya membangun lingkungan yang lebih bersih sekaligus memperkuat pencegahan penyakit berbasis masyarakat. Program ini mendukung SDGs 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui pencegahan penyakit menular serta SDGs 6: Air Bersih dan Sanitasi Layak melalui penguatan kebersihan dan pengelolaan tempat penampungan air.
Bersama UNNES GIAT, Membangun Indonesia dari Desa.
#UNNESSDGs03 #UNNESSDGs06



