SEMARANG — Kesehatan masyarakat tidak hanya ditentukan oleh layanan medis. Pengetahuan, pendidikan, gizi, lingkungan, perlindungan kelompok rentan, hingga kemampuan menghadapi bencana turut menentukan kualitas hidup masyarakat. Berangkat dari pendekatan tersebut, Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Semarang (FK UNNES) menjalankan 29 kegiatan pengabdian kepada masyarakat sepanjang 2025.
Program-program itu menyasar berbagai kelompok, mulai dari siswa sekolah dasar hingga lansia, ibu dan balita, pelaku UMKM, kader kesehatan, pekerja, calon jemaah haji, komunitas, hingga masyarakat pedesaan. Mitranya pun beragam, mencakup sekolah, puskesmas, pemerintah daerah, organisasi masyarakat, pesantren, pelaku usaha, dan komunitas.
Tak hanya berorientasi pada penyelesaian persoalan kesehatan, rangkaian kegiatan tersebut juga berkelindan dengan Sustainable Development Goals (SDGs). Setidaknya 13 tujuan SDGs disentuh melalui kegiatan FK UNNES, dari SDG 2 tentang tanpa kelaparan hingga SDG 17 tentang kemitraan untuk mencapai tujuan.
Kesehatan dimulai dari pendidikan
Sebagian kegiatan FK UNNES berangkat dari sekolah. Pendidikan kesehatan diberikan sejak usia dini dengan harapan pengetahuan yang diperoleh tidak berhenti pada siswa, tetapi juga memengaruhi lingkungan keluarga dan masyarakat.
Melalui kegiatan “Peningkatan Pengetahuan Siswa Temanggung tentang Penulisan Karya Ilmiah di Bidang Kesehatan dan Lingkungan” bersama MTs Al-Mu’min, siswa didorong mengenali persoalan kesehatan sekaligus lingkungan melalui kemampuan menulis karya ilmiah. Program ini berkontribusi pada SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera), SDG 4 (Pendidikan Berkualitas), dan SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim).
Sementara itu, program “Petualangan Antibiotik: Program Edukasi Kesehatan untuk Siswa Sekolah Dasar di Kota Semarang” bersama Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Semarang berfokus pada peningkatan pemahaman anak mengenai kesehatan dan penggunaan antibiotik. Kegiatan ini mendukung SDG 3.
Upaya pencegahan penyakit juga dilakukan melalui “Optimalisasi Peran Dokter Kecil dalam Penerapan Pediatric Pneumonia Prevention di SD Negeri Sekaran 02 Semarang.” Dengan melibatkan siswa sebagai bagian dari lingkungan sekolah, program tersebut mendukung SDG 3 dan SDG 4.
Masih di lingkungan sekolah, “Generasi Sehat, Anak Hebat: Peningkatan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat pada Siswa Sekolah Dasar di Kota Semarang” bersama Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Semarang mendorong penerapan perilaku hidup bersih dan sehat. Program ini berkontribusi pada SDG 3, SDG 4, dan SDG 6 (Air Bersih dan Sanitasi Layak).
Kesehatan anak juga dikaitkan dengan aktivitas fisik. Program “Interpolasi Pembelajaran Berbasis Gizi dan Aktivitas Fisik Olahraga Permainan untuk Anak Usia Dini” bersama KB/TK Islam Al Mahira mendukung SDG 3 dan SDG 4.
Sementara itu, “Smart Kids, Strong Minds: Literasi Kesehatan Mental sebagai Upaya Preventif Bullying di Sekolah Dasar Wilayah Gunungpati Kota Semarang” bersama SDIT Mutiara Hati Semarang memperluas perhatian pada kesehatan mental anak. Program ini mendukung SDG 3, SDG 4, dan SDG 16 (Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Tangguh).
FK UNNES juga memperkuat kesiapsiagaan sekolah melalui “Peningkatan Kapasitas Keselamatan pada Sekolah Luar Biasa di Kota Semarang” bersama SLBN Semarang. Program tersebut mendukung SDG 3, SDG 4, dan SDG 10 (Berkurangnya Kesenjangan).
Gizi menjadi bagian dari pencegahan
Persoalan gizi menjadi salah satu benang merah pengabdian FK UNNES. Pencegahan dilakukan sejak anak-anak hingga keluarga, termasuk melalui peningkatan kapasitas pengelola pangan.
Program “Smart Breakfast: Kampanye Sarapan Sehat sebagai Langkah Awal Mewujudkan Generasi Cerdas dan Berprestasi pada Anak Sekolah” bersama SD Petompon 03 mendorong kebiasaan sarapan sehat. Program ini berkontribusi pada SDG 2 (Tanpa Kelaparan), SDG 3, dan SDG 4.
Di Posyandu Gunungbrintik, FK UNNES menjalankan “Peningkatan Pengetahuan dan Keterampilan Ibu tentang Makanan Pendamping ASI Berkualitas dan Biaya Terjangkau sebagai Upaya Pencegahan Gizi Kurang pada Balita.” Program tersebut mendukung SDG 2 dan SDG 3.
Upaya pencegahan stunting dikembangkan pula melalui “Diversifikasi Produk Olahan Lele sebagai Upaya Penurunan Angka Stunting di Kelurahan Kalisegoro Kota Semarang.” Bersama Kelurahan Kalisegoro, kegiatan ini menghubungkan pemenuhan gizi dengan potensi ekonomi lokal dan mendukung SDG 2, SDG 3, dan SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi).
Sementara itu, “Peningkatan Peran Kelompok UMKM dalam Produk Pangan Inovatif Berbasis Kearifan Lokal untuk Preventif Diabetes Melitus” bersama Usaha Boga Dapur Amalia menghubungkan pencegahan penyakit tidak menular dengan pengembangan usaha pangan. Kegiatan tersebut mendukung SDG 3, SDG 8, dan SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab).
Di dapur penyedia Makan Bergizi Gratis, FK UNNES menjalankan “Peningkatan Pengetahuan Pekerja dan Keterampilan Penyusunan Siklus Menu bagi Penjamah Makanan di Dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) Semarang” bersama PT Asha Pangan Nusantara. Program ini berkontribusi pada SDG 2, SDG 3, dan SDG 8.
Aspek keamanan dan kualitas pangan juga disentuh melalui “Membangun Kesadaran Kantin Sehat: Literasi Pencantuman Kandungan GGL pada Pangan Siap Saji di Kantin Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Semarang.” Kegiatan ini mendukung SDG 3, SDG 4, dan SDG 12.
Adapun “Peningkatan Literasi Produk Pangan Halal bagi Pelaku Usaha Mikro Kecil di Kota Semarang, Jawa Tengah” bersama Warung Bu Tik memperkuat pengetahuan pelaku usaha mengenai produk pangan sekaligus mendukung SDG 8 dan SDG 12.
Mencegah penyakit, memperkuat layanan
Pengabdian FK UNNES juga menyasar kelompok masyarakat di luar lingkungan pendidikan. Salah satunya adalah “Inisiasi Screening Penyakit Tidak Menular pada Lansia Pegiat ASKI Kota Semarang” bersama ASKI Kota Semarang. Kegiatan skrining tersebut mendukung SDG 3 melalui upaya deteksi dan pencegahan penyakit tidak menular.
Bagi calon jemaah haji, FK UNNES menjalankan “Penguatan Kesehatan Calon Jemaah Haji melalui Optimalisasi Edukasi di KBIHU Rahmatullah Kabupaten Demak.” Program tersebut berkontribusi pada SDG 3 dan SDG 4.
Di Saloka Theme Park, kegiatan “Go-First Aid: Pelatihan dan Peningkatan Kapasitas Kru dalam Penanganan Pertama pada Kegawatdaruratan” meningkatkan kemampuan pekerja menghadapi kondisi darurat. Program ini mendukung SDG 3 dan SDG 8.
Pendekatan berbasis data diterapkan melalui “Dashboard Phenome-wide Association (PheWAS) Peta Interaksi Penyakit sebagai Pendukung Pengambilan Keputusan Pelayanan Kesehatan di Puskesmas Kota Semarang.” Bersama Dinas Kesehatan Kota Semarang, kegiatan ini menghubungkan teknologi, data, dan pengambilan keputusan kesehatan. Kontribusinya mencakup SDG 3 dan SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur).
Di Puskesmas Kedungmundu, FK UNNES menjalankan “Optimalisasi Buku Monitoring Kesehatan: Meningkatkan Peran Kader untuk Mendukung Pengelolaan Data Komunitas Terintegrasi Layanan Primer di Puskesmas Kedungmundu Kota Semarang.” Kegiatan ini mendukung SDG 3, SDG 9, dan SDG 16.
Perlindungan kelompok rentan
Agenda kesehatan juga bersinggungan dengan perlindungan sosial dan kesetaraan. FK UNNES menjalankan “Peningkatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan Universitas Negeri Semarang dalam Pencegahan Kekerasan Seksual di Lingkungan Kampus” bersama USeCC. Program tersebut berkontribusi pada SDG 5 (Kesetaraan Gender) dan SDG 16.
Di Grobogan, pencegahan perkawinan anak menjadi perhatian melalui tiga kegiatan. Pertama, “Peningkatan Kapasitas Kepala Dusun sebagai Agent of Change dalam Pencegahan Perkawinan Anak di Masyarakat Pedesaan” bersama DP3AKB Grobogan yang mendukung SDG 5, SDG 10, dan SDG 16.
Kedua, “Kelas Ibu Anak untuk Edukasi Pencegahan Sejak Dini Risiko Bayi BBLR dan Balita Stunting pada Keluarga Rentan Perkawinan Usia Dini” yang juga bermitra dengan DP3AKB Grobogan. Program ini mendukung SDG 3, SDG 5, dan SDG 10.
Ketiga, “Social Support Tokoh Agama dan Tokoh Masyarakat dalam Intervensi Perubahan Norma Sosial terkait Perkawinan Usia Anak di Masyarakat.” Kegiatan tersebut memperkuat peran tokoh masyarakat dalam perubahan norma sosial dan berkontribusi pada SDG 5, SDG 10, dan SDG 16.
Kesehatan mental dan ketangguhan masyarakat
Kesehatan mental remaja menjadi perhatian melalui program “Sinergi Gizi dan Kesehatan Mental sebagai Upaya Mencegah Gangguan Emosional pada Remaja di Pondok Pesantren” bersama Pondok Yanbu’ul Qur’an 2 Muria. Kegiatan ini mengintegrasikan aspek fisik dan psikologis serta mendukung SDG 3 dan SDG 4.
Ketangguhan masyarakat juga dibangun melalui pendidikan kebencanaan. Program “Penguatan Kapasitas Siswa dalam Mitigasi dan Respons Bencana melalui Sekolah Siaga Bencana (SSB) Erupsi Merapi” bersama SDN Krinjing 2 membekali siswa dengan pengetahuan menghadapi risiko bencana. Program ini berkontribusi pada SDG 4, SDG 11 (Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan), dan SDG 13.
Lingkungan masuk ke ruang pengabdian
Sejumlah kegiatan memperlihatkan bahwa kesehatan manusia tidak dapat dipisahkan dari kondisi lingkungan.
Di Kelurahan Kalisegoro, FK UNNES menjalankan “Penguatan Kapasitas Sanitasi dan Pengelolaan Air Limbah Rumah Tangga untuk Mencegah Pencemaran Lingkungan.” Program ini memiliki cakupan SDGs yang luas, yakni SDG 6, SDG 11, SDG 12, SDG 14 (Ekosistem Laut), dan SDG 15 (Ekosistem Daratan).
Pendekatan ramah lingkungan juga diterapkan dalam “Workshop Inovatif bagi Siswa SMP: Pembuatan Insektisida Alami sebagai Pencegah Gigitan Nyamuk yang Ramah Lingkungan” bersama SMPIT Mutiara Hati. Kegiatan ini mendukung SDG 3, SDG 4, SDG 12, dan SDG 15.
Sementara itu, “Pengembangan Lotion Anti Nyamuk Herbal Kombinasi Daun Sereh dan Daun Pandan sebagai Upaya Perlindungan terhadap Gigitan Nyamuk pada Ibu PKK di Kelurahan Sukorejo Kota Semarang” bersama Ketua PKK Kelurahan Sukorejo menggabungkan perlindungan kesehatan dengan pemanfaatan bahan alami. Program ini berkontribusi pada SDG 3, SDG 12, dan SDG 15.
Pengelolaan air bersih menjadi bagian lain dari agenda tersebut. Melalui “Training Manajemen Pengelola Air Bersih melalui Edukasi Inovatif pada Dokter Kecil di SDN 02 Sekaran Semarang,” FK UNNES menghubungkan edukasi kesehatan anak dengan pengelolaan air bersih. Kegiatan ini mendukung SDG 3, SDG 4, dan SDG 6.
Kemitraan sebagai penggerak
Jika ditarik lebih luas, 29 kegiatan tersebut menunjukkan satu pola: persoalan masyarakat jarang berdiri sendiri. Gizi berkaitan dengan kesehatan dan ekonomi. Pendidikan kesehatan bersinggungan dengan lingkungan. Pencegahan perkawinan anak membutuhkan perubahan norma sosial. Sementara kesehatan masyarakat membutuhkan dukungan data, layanan primer, dan partisipasi komunitas.
Karena itu, kemitraan menjadi salah satu fondasi utama pengabdian FK UNNES. Sekolah, pemerintah daerah, puskesmas, organisasi masyarakat, pesantren, pelaku usaha, kelompok PKK, hingga komunitas dilibatkan sesuai dengan kebutuhan masing-masing program.
Ke-29 kegiatan tersebut berkontribusi pada SDG 2, SDG 3, SDG 4, SDG 5, SDG 6, SDG 8, SDG 9, SDG 10, SDG 11, SDG 12, SDG 13, SDG 14, dan SDG 15. Dari keseluruhan rangkaian itu, kesehatan menjadi benang merah utama, tetapi pendekatannya meluas hingga pendidikan, kesetaraan, ekonomi, inovasi, ketahanan bencana, serta keberlanjutan lingkungan.
Dengan demikian, pengabdian FK UNNES pada 2025 tidak sekadar menjadi rangkaian kegiatan transfer pengetahuan. Ia menjadi bagian dari upaya membangun kapasitas masyarakat agar lebih sehat, berdaya, tangguh, inklusif, dan mampu menjaga lingkungan.
Pada akhirnya, keberhasilan pengabdian tidak hanya ditentukan oleh berapa banyak kegiatan yang dilaksanakan, tetapi oleh sejauh mana pengetahuan dan keterampilan yang dibangun dapat terus digunakan masyarakat. Di situlah hubungan antara pengabdian perguruan tinggi dan SDGs menemukan maknanya: pengetahuan akademik diterjemahkan menjadi tindakan yang memberi manfaat bagi masyarakat dan keberlanjutan.



