Semarang — Pengelolaan Alat Pelindung Diri (APD) menjadi salah satu aspek penting dalam penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3), khususnya pada industri galangan kapal yang memiliki berbagai potensi bahaya kerja. Melalui program Magang Berdampak SKM Penggerak Tahun 2026, mahasiswa Program Studi Sarjana Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Semarang, mengembangkan PPE SMART (Personal Protective Equipment Smart Management System) di PT Yasa Wahana Tirta Samudera (PT YWTS) pada Agustus–September 2026. Program ini dikembangkan untuk memperkuat pengelolaan permintaan dan peminjaman APD yang sebelumnya masih dilakukan secara manual.
Program ini berangkat dari kondisi pengelolaan APD di PT YWTS yang masih menggunakan pencatatan manual melalui buku oleh petugas HSE. Kondisi tersebut membuat proses pencarian data, pemantauan riwayat penggunaan APD, serta penyusunan rekap kebutuhan membutuhkan waktu lebih lama. Keterbatasan tersebut juga menyulitkan pemanfaatan data secara cepat sebagai bahan evaluasi dan perencanaan kebutuhan APD.
PPE SMART hadir sebagai solusi untuk mengubah proses tersebut menjadi sistem digital yang lebih terstruktur. Sistem ini dikembangkan melalui tahapan identifikasi kebutuhan, penyusunan alur, pengembangan website, pengujian, sosialisasi, simulasi penggunaan, hingga evaluasi. Fitur utamanya meliputi permintaan APD, peminjaman dan pengembalian APD, notifikasi ketersediaan, serta dashboard admin untuk membantu pemantauan data oleh HSE.
Melalui PPE SMART, pekerja dapat melakukan permintaan dan peminjaman APD secara digital, sementara tim HSE memperoleh data yang lebih terstruktur untuk memantau aktivitas pengelolaan APD. Dengan demikian, pencatatan yang sebelumnya bergantung pada buku mulai beralih menjadi dokumentasi digital yang lebih mudah dipantau dan dapat mendukung pengambilan keputusan K3.
Hasil implementasi menunjukkan bahwa PPE SMART tidak hanya dikembangkan sebagai sistem, tetapi telah digunakan dalam proses pengelolaan APD. Setelah implementasi, tercatat sebanyak 206 permintaan APD dan 45 peminjaman APD melalui sistem. Data tersebut menjadi indikator bahwa PPE SMART dapat digunakan sebagai media pencatatan digital untuk mendukung pengelolaan APD di lingkungan kerja.
Dampak program juga terlihat dari aspek pemahaman pengguna. Hasil evaluasi melalui pre-test dan post-test menunjukkan nilai rata-rata meningkat dari 81,82 menjadi 94,55. Dengan demikian, terjadi peningkatan pemahaman sebesar 15,56% setelah sosialisasi dan simulasi penggunaan PPE SMART. Hasil ini menunjukkan bahwa pengenalan sistem dapat mendukung pemahaman pengguna terhadap proses pengelolaan APD secara digital.
Keberlanjutan PPE SMART diharapkan tidak berhenti setelah kegiatan magang selesai. Sistem dapat terus dikembangkan sesuai kebutuhan operasional perusahaan, disertai pemeliharaan dan evaluasi berkala. Data yang dihasilkan juga dapat dimanfaatkan untuk membantu perusahaan menentukan kebutuhan pengadaan APD, memantau pola penggunaan, dan memperkuat evaluasi K3.
Penguatan pengelolaan APD melalui PPE SMART sejalan dengan tujuan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 tentang Good Health and Well-Being dan SDG 8 tentang Decent Work and Economic Growth. Inovasi ini menunjukkan bahwa kegiatan Magang Berdampak tidak hanya menjadi ruang pembelajaran bagi mahasiswa, tetapi juga dapat menghasilkan intervensi yang relevan dengan kebutuhan nyata di dunia kerja.
Pada akhirnya, APD bukan sekadar perlengkapan kerja, melainkan bagian dari perlindungan dasar pekerja. Karena itu, pengelolaannya perlu didukung oleh sistem yang memastikan proses permintaan, peminjaman, dan pencatatan berjalan secara tertib dan terdokumentasi. Melalui PPE SMART, transformasi dari buku catatan menuju data digital menjadi salah satu langkah nyata untuk memperkuat tata kelola APD dan penerapan K3 di industri galangan kapal.
Inisiatif ini mendukung SDGs 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera) melalui edukasi pencegahan dan penanggulangan TBC; SDGs 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui peningkatan literasi kesehatan masyarakat; SDGs 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur) melalui pemanfaatan media digital sebagai inovasi komunikasi kesehatan; SDGs 10 (Berkurangnya Kesenjangan) melalui perluasan akses informasi kesehatan dan upaya mengurangi stigma terhadap penderita; SDGs 11 (Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan) melalui penguatan kepedulian masyarakat terhadap kesehatan lingkungan sosial; serta SDGs 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) melalui kontribusi perguruan tinggi dalam mendukung upaya kesehatan masyarakat di daerah. #SDGs3 #SDGs4 #SDGs9 #SDGs10 #SDGs11 #SDGs17


