
GROBOGAN — Pencegahan Demam Berdarah Dengue (DBD) dapat dimulai dari tempat-tempat sederhana di sekitar rumah. Mahasiswa KKN UNNES GIAT 16 Kesehatan mengajak warga RT 1 Dusun Krajan, Desa Putatsari, Kecamatan Grobogan, Kabupaten Grobogan, mengenali potensi perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti melalui program SI JENTIK (Siap Pantau Jentik Nyamuk). Pemantauan dilakukan secara door to door selama tiga minggu dengan menyasar 25 rumah warga.
Pendekatan langsung ke rumah warga digunakan untuk mengubah pemberantasan sarang nyamuk dari sekadar imbauan menjadi kebiasaan. Warga mendapat pemahaman mengenai siklus hidup Aedes aegypti serta pentingnya menerapkan PSN melalui 3M: menguras, menutup, dan mengubur barang yang berpotensi menampung air. Stiker pemantauan jentik juga ditempatkan di rumah warga sebagai pengingat agar pemeriksaan tempat penampungan air dilakukan secara rutin.
Pemeriksaan kemudian difokuskan pada bak mandi, ember, penampungan air, dan berbagai wadah lain yang berpotensi menjadi tempat berkembang biak nyamuk. Untuk penampungan yang sulit dikuras, warga diberikan abate disertai penjelasan penggunaannya sesuai anjuran. Model door to door sekaligus membuka ruang bagi warga untuk membicarakan kondisi lingkungan rumah masing-masing, sehingga langkah pencegahan dapat disesuaikan dengan persoalan yang mereka temui sehari-hari.
Program SI JENTIK mendukung SDGs 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui pencegahan penyakit menular, SDGs 6: Air Bersih dan Sanitasi Layak melalui pengelolaan tempat penampungan air dan kebersihan lingkungan, serta SDGs 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan melalui kolaborasi mahasiswa, pemerintah desa, dan masyarakat. Pencegahan DBD pada akhirnya tidak hanya bergantung pada tindakan saat kasus muncul, tetapi pada konsistensi warga menjaga rumah dan lingkungannya tetap bebas dari tempat berkembang biak nyamuk. #UNNESSDGs03 #UNNESSDGs06 #UNNESSDGs17




