SEMARANG – Upaya membangun lingkungan pendidikan yang aman dan tangguh terus dilakukan melalui penguatan sistem keselamatan di satuan pendidikan. Tim Pengabdian kepada Masyarakat Program Studi Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kedokteran, Universitas Negeri Semarang (UNNES), melaksanakan penguatan sistem keselamatan sekolah di Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri Semarang, pada 15 Mei 2025.
Kegiatan yang dipimpin Dr. Evi Widowati, S.K.M., M.Kes. tersebut melibatkan dr. Anik Setyo Wahyuningsih, M.Kes. dan Lutfi Muzaki, S.K.M., M.K.K.K. sebagai anggota tim, serta empat mahasiswa, yakni Ayu Fadilah Wahid, Risa Anggita Putri, Aza Putri Anisa, dan Hanif Satria Febriananda. Pelatihan diikuti lebih dari 30 peserta yang terdiri atas guru, tenaga kependidikan, dan petugas keamanan SLB Negeri Semarang.
Pemilihan SLB Negeri Semarang sebagai lokasi pengabdian didasarkan pada pentingnya membangun budaya keselamatan dalam lingkungan pendidikan yang inklusif. Sekolah luar biasa memiliki karakteristik dan kebutuhan yang lebih spesifik, sehingga sistem keselamatan perlu dirancang dengan mempertimbangkan kondisi peserta didik, aksesibilitas, potensi bahaya, serta kesiapsiagaan seluruh warga sekolah dalam menghadapi situasi darurat.
Program pengabdian tidak hanya dilakukan melalui penyampaian materi, tetapi juga diarahkan pada penguatan sarana dan prosedur keselamatan. Tim melakukan perbaikan jalur evakuasi, pembuatan rambu arah evakuasi, serta penyempurnaan dan pemasangan peta atau denah jalur evakuasi pada sejumlah gedung sekolah. Langkah tersebut diharapkan memudahkan warga sekolah mengenali jalur penyelamatan ketika terjadi kondisi darurat.
Selain itu, peserta mendapatkan edukasi mengenai keselamatan sekolah, termasuk simulasi penggunaan dan inspeksi Alat Pemadam Api Ringan (APAR). Tim juga menyusun leaflet mengenai evakuasi darurat dan praktik keselamatan di lingkungan sekolah, kartu kendali inspeksi APAR, serta prosedur mitigasi bencana kebakaran sebagai media pendukung penerapan sistem keselamatan secara berkelanjutan.
Selama kurang lebih 120 menit, peserta mendapatkan pemahaman mengenai pembangunan sistem keselamatan sekolah secara komprehensif. Materi mencakup identifikasi potensi bahaya dan kerentanan, pengendalian risiko, penerapan prosedur evakuasi darurat di SLB, hingga integrasi aspek keselamatan ke dalam bahan dan media pembelajaran. Pendekatan tersebut diarahkan agar keselamatan tidak hanya menjadi prosedur saat terjadi bencana, tetapi menjadi bagian dari budaya sekolah sehari-hari.
Dalam kegiatan tersebut, tim juga memperkenalkan pendekatan pentahelix yang melibatkan lima unsur, yaitu pemerintah, akademisi, dunia usaha, komunitas, dan media. Kolaborasi lintas sektor tersebut menjadi salah satu pendekatan untuk memperkuat upaya menciptakan lingkungan pendidikan yang aman, inklusif, dan tangguh dalam menghadapi berbagai kondisi kedaruratan.
Peserta juga diperkenalkan pada konsep Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) dan keterkaitannya dengan Desa Tangguh Bencana (Destana). Pengenalan tersebut diharapkan dapat memperluas perspektif warga sekolah mengenai pentingnya kesiapsiagaan, mitigasi, dan respons terhadap bencana sebagai bagian dari sistem keselamatan yang perlu dibangun secara berkelanjutan.
Pelaksanaan kegiatan berlangsung interaktif. Para peserta aktif berdiskusi dan mengikuti seluruh rangkaian pelatihan hingga selesai. Pihak sekolah menyambut baik kegiatan tersebut dan berharap pendampingan dapat dilanjutkan dengan penguatan aspek teknis keselamatan yang disesuaikan dengan karakteristik dan kebutuhan SLB.
Melalui kegiatan pengabdian ini, Tim Pengabdian kepada Masyarakat FK UNNES berharap penguatan sistem keselamatan di SLB Negeri Semarang tidak berhenti pada peningkatan pengetahuan, tetapi berlanjut pada penerapan prosedur, pengelolaan sarana, dan pembentukan budaya keselamatan dalam kehidupan sehari-hari. Upaya tersebut sekaligus menjadi bagian dari kontribusi perguruan tinggi dalam mendorong terwujudnya lingkungan pendidikan yang aman, inklusif, tangguh, dan berkelanjutan.

