Semarang— Air hujan yang jatuh di lingkungan Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Semarang (UNNES) tidak seluruhnya berakhir sebagai limpasan. Sebagian air diarahkan ke sumur resapan untuk dikelola sebagai bagian dari upaya konservasi air di lingkungan fakultas. Air yang tertampung kemudian dimanfaatkan untuk penyiraman tanaman, menciptakan siklus pemanfaatan air yang lebih efisien di kawasan kampus.
Pemanfaatan air hujan tersebut menjadi bagian dari pendekatan sederhana namun penting dalam pengelolaan sumber daya air. Sumur resapan membantu menahan air hujan agar tidak seluruhnya mengalir ke saluran pembuangan, sekaligus mendukung pengelolaan air yang lebih berkelanjutan. Air yang kemudian digunakan untuk kebutuhan penyiraman juga mengurangi ketergantungan terhadap sumber air lain untuk pemeliharaan vegetasi kampus.
Tujuan pengelolaan ini adalah mengoptimalkan pemanfaatan air hujan sekaligus menjaga keberlangsungan ruang hijau di lingkungan Fakultas Kedokteran. Manfaatnya tidak hanya berupa efisiensi penggunaan air, tetapi juga mendukung keberadaan tanaman yang berperan dalam menciptakan lingkungan kampus yang lebih hijau dan nyaman. Dengan demikian, infrastruktur sederhana seperti sumur resapan dapat memberikan manfaat ekologis sekaligus menjadi bagian dari pembelajaran nyata mengenai pengelolaan sumber daya secara berkelanjutan.
Praktik tersebut memperlihatkan bagaimana perguruan tinggi dapat menghadirkan dampak lingkungan melalui pengelolaan sumber daya yang dilakukan dari lingkup kampus. Dalam perspektif THE Impact Rankings dan UI GreenMetric, pemanfaatan air hujan untuk mendukung ruang hijau memperkuat komitmen perguruan tinggi terhadap keberlanjutan. Upaya ini paling relevan dengan SDG 11 (Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan) melalui pengelolaan lingkungan kampus, serta SDG 6 (Air Bersih dan Sanitasi Layak) melalui konservasi dan pemanfaatan sumber daya air secara berkelanjutan.


