Model pembelajaran sejarah publik yang dikembangkan oleh dosen Prodi Ilmu Sejarah FISIP UNNES menarik perhatian akademisi internasional. Inovasi bertajuk “History on the Screen” yang dipresentasikan Bambang Rakhmanto mendapat apresiasi dari sejumlah pakar sejarah dunia, termasuk Mark Philip Bradley dari University of Chicago.
Bradley mengaku terkesan dengan pendekatan pembelajaran sejarah yang mendorong mahasiswa memproduksi film pendek sebagai media penyampaian sejarah kepada publik.“Saya sangat mengapresiasi dan kagum dengan produk film pendek yang dibuat oleh mahasiswa Anda,” ujar Bradley.
Ketertarikan serupa juga datang dari Li Na, perwakilan dari National University of Singapore (NUS). Ia melihat konsep pembelajaran tersebut berpotensi dikembangkan dalam kerja sama regional antar universitas di Asia.
Li Na mengaku ingin bekerjasama untuk mengembangkan metode pembelajaran sejarah publik tersebut. “Kita bisa mendiskusikan lebih lanjut untuk mengembangkan konsep pembelajaran sejarah publik ini. Kita dapat berkolaborasi untuk mewujudkannya,” kata Li Na.

Bagi Bambang Rakhmanto, pengakuan dari institusi internasional seperti NUS menjadi dorongan penting bagi pengembangan kompetensi mahasiswa Ilmu Sejarah. Ia menjelaskan bahwa keterbatasan pasar kerja membuat mahasiswa perlu memiliki keterampilan tambahan, seperti riset sejarah, penulisan skenario, hingga konsultan sejarah untuk produksi media.
Metode ini melatih para mahasiswa bekerja kelompok, dan mengasah kemampuan mereka dalam hal baru.“Melalui History on the Screen, mahasiswa bekerja sama memproduksi film pendek sejarah,” ujarnya di hadapan akademisi dan praktisi sejarah publik dari berbagai negara.
Dalam proses produksinya, mahasiswa dilatih berbagai keterampilan praktis seperti penyuntingan gambar, tata rias, hingga penyutradaraan. Dalam dua tahun terakhir, mahasiswa Prodi Ilmu Sejarah UNNES telah menghasilkan tiga film pendek sejarah.
Gagasan tersebut dipresentasikan dalam konferensi internasional “What Does It Mean to Do Public History in Asia?” yang berlangsung di University of Chicago Francis and Rose Yuen Campus, Hong Kong, pada 24–25 Februari 2026.
Inisiatif pembelajaran melalui produksi film sejarah ini juga sejalan dengan agenda global Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas. Pendekatan ini mendorong mahasiswa tidak hanya memahami sejarah secara akademis, tetapi juga mengembangkan kreativitas, literasi media, dan kemampuan komunikasi publik, sehingga pembelajaran menjadi lebih inovatif dan relevan dengan kebutuhan masyarakat.




