Di lereng Pegunungan Kendeng, pendidikan berlangsung tanpa papan tulis dan seragam sekolah. Anak-anak duduk bersila di rumah sederhana, mendengarkan kisah tentang alam yang disebut sebagai “Ibu Bumi”. Bagi masyarakat Sedulur Sikep, bumi bukan sekadar tanah pijakan, melainkan sumber kehidupan yang harus dirawat dan dihormati.
Gagasan itu menjadi napas film dokumenter Etnopedagogi Ibu Bumi: Suara Sedulur Sikep Kendeng, karya tiga mahasiswa Program Studi Sosiologi Antropologi FISIP. Film berdurasi 10 menit 24 detik tersebut merekam praktik etnopedagogi pendidikan berbasis nilai, pengalaman hidup, dan kearifan lokal yang tumbuh dalam komunitas Sedulur Sikep.
Tokoh sentral dalam film ini adalah Gunarti, pelopor perjuangan Kartini Kendeng sekaligus keturunan langsung Samin Surosentiko. Di rumahnya dan di Omah Kendeng, ia mengajarkan nilai-nilai lingkungan, tata krama, serta kesadaran hidup selaras dengan alam.
Dalam film, terlihat bagaimana anak-anak belajar memahami relasi manusia dan bumi melalui praktik sehari-hari. Pendidikan tidak dipisahkan dari kehidupan. Ajaran Samin tentang kejujuran, kesederhanaan, dan perlawanan tanpa kekerasan diwariskan secara lisan dan melalui keteladanan.
Film ini juga menegaskan bahwa melawan eksploitasi alam bukanlah sikap destruktif, melainkan bentuk keberanian menyuarakan kebenaran dan mempertahankan hak hidup yang adil.
Proses produksi film dilakukan pada 8–11 Mei, mencakup riset dan pengambilan gambar di Kendeng. Waktu yang singkat membuat tim harus menyusun jadwal secara ketat. Faktor cuaca turut menjadi kendala, sehingga sejumlah adegan yang telah direncanakan dalam skrip tidak seluruhnya terdokumentasikan secara optimal.
Setelah pengambilan gambar rampung, proses penyuntingan berlangsung lebih dari satu bulan. Potongan wawancara, gambar aktivitas belajar, dan lanskap Kendeng dirangkai menjadi narasi utuh tentang etnopedagogi dan kesadaran ekologis.
Salah satu pembuat film, Nadia, mengatakan tema Sedulur Sikep dipilih karena relevansinya dengan krisis lingkungan saat ini. “Nilai hidup Sedulur Sikep yang menekankan harmoni dengan alam menjadi sumber pembelajaran kontekstual dalam pendidikan lingkungan berkelanjutan,” ujarnya.
Upaya tersebut berbuah manis. Film ini meraih juara pertama dalam ajang Karni Ilyas Award pada 14 Februari 2026. Dekan FISIP, Arif Purnomo, menyebut capaian itu sebagai prestasi yang membanggakan. “Ini bukti bahwa mahasiswa FISIP bertalenta dan memiliki kompetensi unggul,” katanya.
Bagi tim pembuatnya, penghargaan itu bukan sekadar trofi. Yang lebih penting, kata mereka, adalah pesan yang sampai: bahwa pendidikan bisa tumbuh dari tanah sendiri, dari relasi yang intim antara manusia dan alamnya.




