Cahyo Budi Utomo, Guru Besar Pendidikan Sejarah, wafat di Rumah Sakit Dr. Kariadi, Semarang, Jawa Tengah pada Jumat (23/1/2026) setelah sekitar satu tahun menjalani pengobatan akibat kanker paru-paru. Almarhum meninggalkan istri dan tiga orang putri. Jenazah dimakamkan di Pekalongan, Jawa Tengah, Sabtu (24/1/2026), kota tempat ia dilahirkan.
Semasa hidupnya, Prof. Cahyo dikenal sebagai pendidik yang konsisten mendorong pembaruan pembelajaran sejarah. “Setiap manusia memiliki sejarahnya, setiap bangsa memiliki sejarahnya. Maka belajarlah dari sejarah sebelum sejarah menghukum manusia yang melupakannya,” demikian pesan Prof. Cahyo dalam pidato pengukuhan Guru Besarnya pada 2023 lalu.
Menurut Prof. Cahyo, praktik pendidikan sejarah masih cenderung berorientasi pada hafalan serta narasi politik, kekuasaan, dan perang. Pola semacam ini membuat sejarah terasa jauh dari realitas kehidupan peserta didik. Guru, menurutnya, kerap terjebak pada penyampaian materi yang tersedia tanpa ruang refleksi dan dialog kritis.
Karena itu, ia mendorong pembelajaran sejarah yang lebih humanis dan kontekstual. Sejarah tidak hanya dipahami sebagai cerita elite dan peristiwa besar, tetapi juga sebagai pengalaman sosial dan budaya masyarakat masa lalu. Dengan pendekatan tersebut, pembelajaran sejarah dapat bergerak dari pola doktriner menuju kerja akademik yang menekankan eksplorasi, diskusi, dan penemuan pengetahuan oleh peserta didik.
Salah satu perhatian utama penulis buku berjudul Dinamika pergerakan kebangsaan Indonesia : dari kebangkitan hingga kemerdekaan ini adalah penguatan sejarah lokal dalam pembelajaran. Ia menilai, sebelum membawa siswa pada sejarah nasional dan global, guru perlu menggali potensi sejarah di lingkungan sekitar. Kontekstualisasi sejarah lokal, menurutnya, dapat menumbuhkan patriotisme yang berangkat dari pengalaman sehari-hari, seperti sikap rela berkorban, toleransi, solidaritas sosial, kejujuran, dan disiplin.
Dalam sejumlah penelitiannya, Prof. Cahyo juga memaknai patriotisme secara luas. Patriotisme tidak semata-mata lahir dari simbol kebangsaan, melainkan dapat tumbuh dari lingkungan terdekat keluarga dan komunitas melalui dukungan emosional dan rasa memiliki. Nilai-nilai tersebut, menurutnya, dapat memperkuat motivasi dan partisipasi individu dalam kehidupan sosial.
Ia menegaskan, pembelajaran sejarah bermuatan patriotisme lokal hanya dapat berjalan jika memenuhi tiga syarat. Pertama, guru menguasai potensi sejarah di lingkungannya. Kedua, guru mampu mengoperasikan model pembelajaran alternatif dan inovatif. Ketiga, guru memberi otonomi kepada peserta didik untuk mengembangkan berpikir kritis secara kontekstual.

Pandangan tersebut juga dirasakan mahasiswa. Hani Muti’a Tanjung, mahasiswa Pendidikan Sejarah, mengatakan pernah diajar Prof. Cahyo pada semester awal dalam mata kuliah Sejarah Pergerakan Indonesia. Mahasiswa semester tujuh ini mengigat saat perkuliahan daring Prof. Cahyo berlangsung jelas dan mewajibkan mahasiswa menyalakan kamera. “Prof. Cahyo dalam perkuliahan memberi motivasi untuk belajar lebih rajin,” ucap Hani.
Dekan FISIP Prof. Arif Purnomo mengenang lelaki yang semasa hidupnya hobi menyanyi ini sebagai akademisi yang teguh dalam prinsip. “Prof. Cahyo sebagai sosok cendekiawan yang konsisten mengkritisi praktik pendidikan sejarah,” kata Prof. Arif.
Sementara itu, Guru Besar Pendidikan Sejarah Prof. Suwito Eko Pramono menilai Prof. Cahyo memiliki komitmen kuat dalam memahami sejarah, baik sebagai fakta maupun sebagai bidang ilmu, serta mampu menjelaskan relevansinya bagi kehidupan masa kini dan mendatang.
Dosen Pendidikan Sejarah Tsabit Azinar Ahmad menambahkan, Prof. Cahyo dikenal sebagai teladan bagi dosen muda, khususnya dalam pengembangan metode penelitian dan manajemen mutu pendidikan sejarah. Ia juga dikenal dekat dengan mahasiswa.




