Perbedaan praktik keagamaan di kalangan remaja masjid di Kota Semarang tidak serta-merta memicu konflik. Justru, kedekatan nilai antara Muhammadiyah (MU) dan Nahdlatul Ulama (NU) dinilai menjadi faktor penting dalam menjaga harmoni antar komunitas Islam.
Hal itu terungkap dalam disertasi Saka Mahardika Oktav Nugraha, mahasiswa Program Doktor Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (PIPS) Pascasarjana Universitas Negeri Semarang (Unnes). Disertasi tersebut dipresentasikan dalam sidang terbuka yang digelar Rabu (14/1) di Aula C7 FISIP Unnes, Sekaran, Gunungpati, Semarang.
Penelitian Saka mengkaji kehidupan beragama empat komunitas remaja masjid, yakni Muhammadiyah, NU, Jamaah Tabligh, dan Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII). Hasilnya menunjukkan bahwa meski terdapat perbedaan praktik ibadah, gaya hidup, hingga simbol keagamaan, konflik terbuka relatif jarang terjadi.“Muhammadiyah dan NU memiliki kedekatan secara sosial dan kultural. Perbedaan tidak dipahami sebagai ancaman, tetapi sebagai variasi cara beragama,” ujar Saka dalam pemaparannya.
Dalam praktik ibadah, perbedaan seperti bacaan basmalah dalam shalat, qunut, hingga jumlah rakaat tarawih menjadi penanda identitas masing-masing komunitas. Namun, menurut Saka, potensi konflik lebih sering muncul dari pemahaman agama yang dangkal di kalangan remaja awam, bukan dari kader atau elit yang memiliki literasi keagamaan kuat.
“Kedekatan Muhammadiyah dan NU terlihat dari sikap saling menghormati di ruang sosial. Perbedaan fikih tidak dibawa ke ranah saling menyalahkan,” jelasnya.
Dari sisi gaya hidup, remaja masjid menunjukkan perbedaan dalam fesyen, budaya konsumsi, dan aktivitas sosial. Namun perbedaan tersebut lebih sering menjadi simbol identitas ketimbang sumber konflik. Konflik baru muncul ketika simbol keagamaan dimaknai secara eksklusif dan kaku.
Penelitian ini juga menemukan dua model komunikasi efektif untuk meredam potensi konflik, yakni komunikasi formal melalui diskusi, seminar, dan forum lintas komunitas, serta komunikasi informal lewat interaksi keseharian, dakwah sebaya, hingga humor.
Kolaborasi lintas organisasi juga tampak dalam gerakan sosial seperti Germas Berkat di Semarang yang melibatkan kader NU, Muhammadiyah, dan LDII. “Identitas organisasi dilebur. Fokusnya pada pemberantasan penyakit masyarakat, bukan perbedaan mazhab,” kata Saka.
Ketua Dewan Penguji yang juga Dekan FISIP Unnes, Prof. Arif Purnomo, menyatakan Saka dinyatakan lulus dan berhak menyandang gelar Doktor Pendidikan. Saka tercatat sebagai doktor ke-8 lulusan FISIP Unnes dengan masa studi 4 tahun 5 bulan.
“Disertasi diberi nilai A dengan IPK 3,96 dan predikat kelulusan sangat memuaskan,” ujar Prof. Arif.
Promotor disertasi, Prof. Juhadi, M.Si., mengapresiasi kepekaan Saka terhadap nilai kemanusiaan, toleransi, dan kebinekaan. Menurutnya, perbedaan keberagamaan di kalangan remaja masjid bukan ancaman, melainkan sumber pembelajaran kontekstual bagi Pendidikan IPS. “Ini IPS yang reflektif dan relevan dengan tantangan kebangsaan. Jangan berhenti di disertasi, tapi kembangkan untuk perumusan kebijakan publik,” pesannya.
Sementara itu, Saka menyampaikan terima kasih kepada dosen, keluarga, dan kolega yang telah mendukung proses akademiknya. “Hidup harus memberi kebermanfaatan. Gelar doktor ini adalah tanggung jawab moral untuk terus menguatkan dialog dan toleransi,” pungkasnya.




