UNNES – Kualitas pendidikan anak usia dini tidak hanya ditentukan oleh proses pembelajaran di kelas, tetapi juga oleh kemampuan guru dalam memahami tumbuh kembang anak secara menyeluruh. Menyadari pentingnya hal tersebut, Tim Pengabdian kepada Masyarakat Dosen Universitas Negeri Semarang (UNNES) menyelenggarakan kegiatan bertajuk “Penguatan Self-Awareness Guru PAUD tentang Stimulasi Fisik Motorik dan Kesehatan THT sebagai Fondasi Perkembangan Holistik Anak Usia Dini” pada Sabtu (4/7/2026) di Pos PAUD Siwi Raharjo 4, Kecamatan Bawen, Kabupaten Semarang.
Kegiatan yang bekerja sama dengan HIMPAUDI Kabupaten Semarang tersebut diikuti oleh sekitar 50 guru dan tenaga kependidikan PAUD dari berbagai kecamatan di Kabupaten Semarang. Program ini menjadi bagian dari upaya meningkatkan kapasitas pendidik agar mampu memberikan stimulasi yang tepat sejak masa awal kehidupan anak, ketika berbagai aspek perkembangan berlangsung sangat pesat.
Ketua HIMPAUDI Kabupaten Semarang, Ulfa Maria, S.E., M.Pd., mengapresiasi pelaksanaan kegiatan yang dinilai relevan dengan kebutuhan guru PAUD di lapangan. Menurutnya, peningkatan kompetensi pendidik merupakan investasi jangka panjang dalam menciptakan layanan pendidikan yang berkualitas bagi anak usia dini.
“Kegiatan seperti ini sangat kami butuhkan untuk terus meng-upgrade pengetahuan dan keterampilan guru PAUD. Kami merasa perlu terus mendapatkan pembekalan agar mampu memberikan stimulasi yang tepat sesuai dengan kebutuhan dan tahap perkembangan anak-anak kami,” ujar Ulfa.
Sejalan dengan hal tersebut, Ketua Tim Pengabdian Dosen UNNES, Fatma Kusuma Mahanani, S.Psi., M.Psi., Psikolog, berharap kegiatan ini menjadi titik awal terbentuknya budaya pembelajaran yang lebih holistik di lingkungan PAUD. Ia menekankan bahwa sinergi antara perguruan tinggi dan para pendidik perlu terus diperkuat agar kualitas layanan pendidikan anak usia dini semakin meningkat.
“Kami berharap ilmu yang diperoleh hari ini tidak hanya menjadi tambahan pengetahuan, tetapi bisa diterapkan dalam proses pembelajaran sehari-hari. Guru PAUD memiliki peran strategis sebagai garda terdepan dalam menyiapkan generasi Indonesia yang sehat, cerdas, dan berkarakter. Semoga kolaborasi seperti ini dapat terus berlanjut sehingga manfaatnya semakin luas bagi masyarakat,” tutur Fatma.
Pelaksanaan program ini didasarkan pada hasil identifikasi kebutuhan yang menunjukkan bahwa pemahaman guru mengenai keterkaitan stimulasi fisik motorik dengan perkembangan psikologis anak masih perlu diperkuat. Selain itu, aspek kesehatan Telinga, Hidung, dan Tenggorokan (THT), yang berpengaruh terhadap kemampuan mendengar, berbicara, keseimbangan, hingga kesiapan belajar anak, juga belum banyak menjadi perhatian dalam praktik pembelajaran di PAUD. Berangkat dari kondisi tersebut, tim pengabdian menghadirkan materi yang mengintegrasikan perspektif psikologi, pendidikan anak usia dini, ilmu keolahragaan, dan kesehatan.
Untuk memberikan pemahaman yang komprehensif, kegiatan menghadirkan empat narasumber sesuai bidang keahliannya, yaitu Fatma Kusuma Mahanani, S.Psi., M.Psi., Psikolog sebagai psikolog pendidikan, Gustiana Mega Anggita, S.Pd.Jas., M.Or. pada bidang perkembangan fisik motorik anak, dr. Tyar Bhatara Putra, Sp.T.H.T.K.L. sebagai dokter spesialis Telinga, Hidung, dan Tenggorok (THT), serta Wantoro, M.Pd. sebagai akademisi Pendidikan Anak Usia Dini. Kegiatan juga didukung oleh tiga mahasiswa Psikologi UNNES, yaitu Nailah Rizkiyanti Salma, Vania Nazla Nurhaura, dan Nasywa Felycianandra Aurantiviola yang berperan sebagai asisten selama pelaksanaan program.

Sesi Pemaparan Materi (Sumber: Dokumentasi Tim Pengabdian Masyarakat)
Selama pelaksanaan kegiatan, peserta memperoleh materi yang disampaikan secara interaktif melalui paparan, diskusi, dan praktik simulasi. Berbagai topik yang dibahas meliputi pentingnya perkembangan otak dan sistem saraf anak, stimulasi fisik motorik sebagai fondasi perkembangan, deteksi dini gangguan kesehatan Telinga, Hidung, dan Tenggorok (THT), serta penerapan pendekatan holistik dalam pembelajaran anak usia dini. Seluruh materi dirancang secara aplikatif sehingga dapat langsung diadaptasi oleh guru dalam kegiatan pembelajaran.
Seluruh peserta kegiatan terlihat sangat antusias dalam setiap sesi kegiatan. Para guru PAUD terlibat aktif dalam sesi diskusi dengan mengajukan berbagai pertanyaan serta berbagi pengalaman mengenai tantangan yang mereka hadapi selama mendampingi tumbuh kembang anak di satuan pendidikan masing-masing. Interaksi yang berlangsung secara dua arah tersebut mencerminkan tingginya minat peserta terhadap materi yang disampaikan sekaligus memperkaya pembahasan melalui berbagai kasus nyata yang ditemui di lapangan.

Sesi Pre-Test dan Post-Test (Sumber: Dokumentasi Tim Pengabdian Masyarakat)
Sebagai bentuk evaluasi, tim pengabdian menerapkan pengukuran yang sistematis melalui pre-test sebelum kegiatan dimulai dan post-test setelah seluruh rangkaian materi selesai diberikan. Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan pemahaman peserta mengenai pentingnya stimulasi fisik motorik, kesehatan Telinga, Hidung, dan Tenggorok (THT), serta penerapan pendekatan holistik dalam pembelajaran anak usia dini. Temuan tersebut menunjukkan bahwa kegiatan ini tidak hanya menjadi sarana berbagi pengetahuan, tetapi juga mampu meningkatkan kapasitas guru secara terukur sebagai bekal dalam mengimplementasikan materi di lingkungan PAUD masing-masing.
Pelaksanaan pengabdian ini merupakan wujud komitmen Universitas Negeri Semarang dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDGs 3 (Good Health and Well-being) melalui penguatan upaya promotif dan preventif kesehatan anak sejak usia dini, serta SDGs 4 (Quality Education) melalui peningkatan kompetensi guru dalam menghadirkan layanan pendidikan yang berkualitas, inklusif, dan berkelanjutan.
Program ini juga selaras dengan implementasi Asta Cita Presiden Republik Indonesia, terutama pada agenda pembangunan sumber daya manusia yang unggul melalui penguatan kualitas pendidikan dan kesehatan. Melalui peningkatan kapasitas guru PAUD sebagai garda terdepan pendidikan anak usia dini, kegiatan ini diharapkan dapat berkontribusi dalam mewujudkan generasi Indonesia yang sehat, cerdas, tangguh, dan berkarakter sebagai fondasi menuju Indonesia Emas 2045.




