Sekolah Pascasarjana Universitas Negeri Semarang (UNNES) bersama Petugas Pemberantasan Jentik Nyamuk (PJN) RW X Kelurahan Sukorejo menyelenggarakan inspeksi mendadak pemantauan jentik nyamuk di wilayah RW X pada Minggu, 19 Juli 2026 pukul 07.00 sampai selesai. Kegiatan tersebut dilaksanakan secara rutin setiap bulan untuk memantau keberadaan jentik nyamuk sekaligus mencegah penyebaran demam berdarah dengue (DBD). Pemantauan tetap dilakukan karena wilayah Kelurahan Sukorejo masih rawan terhadap penyebaran DBD, dengan tiga kasus yang telah terdeteksi. Meskipun di wilayah RW X yang terdiri atas sembilan RT tidak ditemukan kasus DBD sepanjang tahun ini, kegiatan pemantauan jentik nyamuk tetap dilaksanakan secara rutin sebagai langkah pencegahan.

Kegiatan diawali dengan apel, pengarahan, dan doa bersama di halaman rumah Ketua RW X Sukorejo. Wakil Direktur II Sekolah Pascasarjana UNNES, Prof. Dr. Eko Handoyo, M.Si., didampingi Ketua RW X, Wagiran, dan Ketua PKK RW X, Catur Rahmawati, memberikan pengarahan sekaligus terjun langsung mendampingi para petugas PJN. Setiap RT mengirimkan dua orang petugas yang kemudian menyebar ke seluruh wilayah RW X untuk memeriksa rumah, halaman, dan pekarangan warga. Para petugas mencatat jumlah jentik nyamuk yang ditemukan serta memberikan penjelasan dan saran secara langsung kepada warga, khususnya kepada penghuni rumah yang di lingkungan tempat tinggalnya masih ditemukan jentik nyamuk.
Pendampingan kegiatan PJN tersebut merupakan wujud kepedulian Sekolah Pascasarjana UNNES terhadap kesehatan masyarakat RW X yang menjadi salah satu wilayah binaannya. Melalui kegiatan ini, Sekolah Pascasarjana UNNES bersama masyarakat berupaya membangun kesadaran mengenai pentingnya kebersihan lingkungan dan pencegahan penyakit menular. Kegiatan tersebut juga mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs) poin 3, yaitu Kehidupan Sehat dan Sejahtera (Good Health and Well-being), khususnya dalam meningkatkan kesehatan masyarakat, mengendalikan penyakit menular, menurunkan angka kematian, serta memperluas akses terhadap layanan dan informasi kesehatan.

