Permasalahan sampah yang belum terkelola dengan baik seringkali menjadi tantangan di beberapa tempat di Indonesia seperti daerah pedesaan, termasuk di Desa Brangkal, Kabupaten Klaten. Kebiasaan membuang sampah di satu lokasi terbuka serta pembakaran sampah terpapar kerap kali menimbulkan pencemaran lingkungan, terutama pencemaran udara yang berdampak pada masyarakat.
Merespons kondisi tersebut, mahasiswa Universitas Negeri Semarang (UNNES) yang mengikuti program GIAT 14 yang didampingi Dosen Pendamping Lapangan, Ibu Septina Sulistyaningrum, S.Pd., M.Pd., menghadirkan inovasi incinerator sebagai solusi alternatif pengelolaan sampah di desa tersebut.
Incinerator merupakan alat pembakaran limbah dengan sistem pembakaran terkontrol yang dirancang untuk mengurangi sampah dengan asap pembuangan yang minimal.
Koordinator mahasiswa GIAT 14 Desa Brangkal, Busyairi Majid, menyampaikan bahwa pembangunan incinerator ini dilatarbelakangi dari hasil diskusi dengan perangkat Desa Brangkal dan pantauan kondisi geografis desa yang berada dekat dengan Jalan Tol Klaten-Solo-Jogja.
Lokasi tersebut membuat kegiatan pembakaran sampah secara terbuka tidak memungkinkan karena berpotensi mengganggu visual pengendara dan membahayakan keselamatan lalu-lintas.
“Masalah sampah yang menumpuk dan pembakaran terbuka masih sering ditemukan di Desa Brangkal, padahal wilayah ini berada dekat dengan Jalan Tol Klaten-Solo-Yogyakarta. Melihat kondisi tersebut, kami membuat incinerator minim asap sebagai solusi pengelolaan sampah yang lebih aman untuk warga tanpa mengganggu pengendara di jalan Tol”. Ujar Majid, koordinator mahasiswa UNNES GIAT 14 Desa Brangkal
Pelaksanaan pembuatan incinerator dimulai pada 25 desember 2025 dengan menentukan tempat bangunan yang dipilih di dekat bank sampah dan kandang bebek. Pemilihan tempat ini dinilai cocok dan strategis dikarenakan lokasi tidak terlalu jauh dari pemukiman dan jalan Tol dengan pertimbangan aksesibilitas dan keamanan sehingga tidak mengpeganggu aktivitas warga sekitar.
Proses pembuatan incinerator dilakukan secara bertahap, diawali dengan pengecoran lantai pondasi sebagai dasar bangunan. Pembangunan kemudian dilanjutkan dengan pembuatan ruang pembakaran dan ruang sampah menggunakan material hebel dan besi sebagai tatakan sampah, serta pembangunan corong asap untuk menunjang sirkulasi udara saat proses pembakaran berlangsung.
Setelah struktur incinerator terbentuk, seluruh bagian bangunan diplester menggunakan semen guna mencegah kebocoran asap. Pada tahap akhir, incinerator dilakukan uji coba pembakaran menggunakan sampah kering sebagai materi pembakaran dan kayu bakar sebagai bahan bakar pemantik untuk memastikan kesiapan alat sebelum dimanfaatkan oleh warga setempat.
Dalam proses pembuatannya, mahasiswa pelaksana kegiatan dibantu dari perangkat dan warga desa dengan meminjamkan peralatan serta bahan pembangunan. Hal ini menunjukkan keterlibatan warga yang mendukung program kerja mahasiswa dalam menjalankan kegiatan di Desa Brangkal.
Sesudah incinerator selesai dan diuji coba, mahasiswa UNNES KKN GIAT 14 menggelar pemaparan pada 9 Januari 2026 dengan mengundang beberapa perangkat desa serta perwakilan RW/RT di Desa Brangkal. Kegiatan tersebut diisi dengan pemaparan mengenai materi berupa kegunaan, fungsi, dan manfaat incinerator, sekaligus praktik pembakaran sampah sebagai bagian dari pengelolaan sampah di tingkat desa.
Mahasiswa UNNES KKN GIAT 14 juga membagikan desain rancangan incinerator kepada pihak desa yang nantinya digunakan dan diaplikasikan oleh pemerintah desa di berbagai titik Dukuh atau RW sebagai upaya pengelolaan sampah yang merata di seluruh desa.
Dengan kegiatan ini, diharapkan dari mahasiswa UNNES KKN GIAT 14 keberadaan incinerator beserta desain rancangannya dimanfaatkan secara efektif dan dapat menjadi Langkah awal dalam meningkatkan pemahaman dan kesadaran masyarakat terhadap pengelolaan sampah sehingga dapat menjaga lingkungan tetap bersih dan sehat.




