Tim Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) dari Prodi Pendidikan Matematika S1 Universitas Negeri Semarang (UNNES) menghadirkan inovasi media pembelajaran yang memadukan teknologi dan kearifan lokal.
Tim COMA mengembangkan media pembelajaran berbasis e-komik yang diberi nama COMA (Comic Mathematics).
COMA dirancang sebagai e-komik interaktif berbasis masalah, yang bertujuan untuk membantu siswa meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematika melalui cerita yang lebih menarik dan mudah dipahami.
Tim PKM beranggotakan Hayu Dhiya Rahmadhani, Aulia Faiqoh, Khansa’ Hanun Nabilah, dan Riska Marselina. Mereka dibimbing oleh Adi Satrio Ardiansyah, M.Pd.
Pengembangan COMA juga menjadi bentuk dukungan terhadap SDG 9 tentang Industri, Inovasi, dan Infrastruktur. Hal ini terlihat dari penggunaan teknologi pembelajaran melalui Articulate Storyline sebagai alat bantu pembuatan e-komik, sehingga media yang dihasilkan tidak hanya berupa bacaan, tetapi juga dapat diakses secara digital dan memberi pengalaman belajar yang lebih interaktif.
Dengan cara ini, pembelajaran matematika dapat dibuat lebih modern tanpa meninggalkan konteks budaya di sekitar siswa.
COMA kemudian diimplementasikan di SMP Negeri 9 Semarang. Dalam kegiatan ini, siswa diajak menyelesaikan berbagai soal matematika yang disajikan dalam alur cerita komik. Cerita tersebut dibuat dekat dengan keseharian siswa dengan mengangkat ikon kuliner khas Semarang, seperti lumpia rebung, soto bangkong, wingko babat, babat gongso, dan tahu petis.
Penggunaan tema makanan khas ini membuat siswa lebih mudah membayangkan situasi soal, sehingga pembelajaran terasa lebih nyata dan tidak sekadar angka atau rumus.
Melalui pengalaman belajar berbasis cerita, siswa dapat mengasah cara berpikir dan mencoba menyusun langkah penyelesaian masalah dengan lebih terarah. Suasana belajar juga menjadi lebih menarik karena siswa merasa sedang mengikuti cerita, bukan hanya mengerjakan soal.
Dengan demikian, COMA dapat menjadi alternatif media pembelajaran yang membantu siswa lebih aktif dan percaya diri saat menghadapi soal matematika.
Selain berdampak pada kemampuan matematika, COMA juga memberi nilai tambah dalam memperkenalkan dan menjaga kuliner khas Semarang kepada generasi muda. Hal ini sejalan dengan SDG 11 tentang Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan, khususnya dalam upaya menjaga identitas budaya lokal.
Melalui media pembelajaran yang sederhana dan dekat dengan lingkungan, siswa tidak hanya belajar matematika, tetapi juga mengenal kekayaan daerahnya sendiri.
Ke depan, tim berharap COMA dapat menjadi solusi praktis yang dapat digunakan dalam pembelajaran matematika di sekolah.
Inovasi ini juga diharapkan mampu menginspirasi lahirnya media pembelajaran lainnya yang menggabungkan teknologi, budaya lokal, dan kebutuhan pendidikan, sehingga pembelajaran di sekolah semakin relevan dan memberi manfaat yang lebih luas.




