SEMARANG – Labschool Universitas Negeri Semarang (UNNES) menggelar kegiatan pelatihan bertajuk “Safe School, Ready Teacher” sebagai upaya meningkatkan kesiapan dan kapasitas para pendidik dalam menangani situasi darurat serta cedera pada anak di lingkungan sekolah.
Dalam sambutannya Kepala Pusat Pengembangan Labschool UNNES, Dr. Indah Anisykurlilah, S.E., M.Si., Akt., C.A., menyampaikan melalui pelatihan “Safe School, Ready Teacher” ini, diharapkan para guru PAUD, SD, dan Day Care Labschool UNNES memiliki tanggap darurat yang tepat, terampil, dan berbasis pengetahuan medis yang benar dalam menciptakan lingkungan sekolah yang aman, nyaman, serta ramah anak.
Hadir sebagai narasumber utama, pakar penanganan cedera olahraga Dr. Arif Setiawan, S.Pd., M.Pd., AIFMO., memaparkan materi komprehensif mengenai pentingnya pemahaman anatomi dan pertolongan pertama pada cedera.
Dalam pemaparannya, Dr. Arif menekankan bahwa cedera merupakan suatu kondisi terjadinya kerusakan pada struktur atau fungsi tubuh akibat paksaan atau tekanan fisik. Oleh karena itu, tenaga pendidik wajib mencermati kondisi cedera secara teliti sebelum memberikan tindakan awal atau penanganan.
“Guru harus memahami klasifikasi cedera agar tidak salah mengambil tindakan. Penanganan cedera yang salah justru dapat berakibat fatal dan memperparah kondisi jaringan tubuh,” jelas Dr. Arif di hadapan para peserta pelatihan.
Lebih lanjut, ia menjelaskan klasifikasi cedera berdasarkan waktu terjadinya:
Cedera Akut (Baru): Terjadi secara tiba-tiba akibat trauma mendadak, yang terbagi dalam tingkat ringan (anak jatuh namun masih bisa berlari), sedang (jatuh dan tidak mampu bangun), hingga berat (membutuhkan pertolongan darurat/medis segera).
Cedera Kronis (Overuse): Terjadi secara bertahap akibat penggunaan atau beban berlebih dalam jangka panjang.
Dr. Arif juga merinci faktor penyebab cedera yang terdiri dari faktor internal (dari dalam tubuh seperti kondisi fisik, kelelahan, dan ketidakseimbangan otot) serta faktor eksternal (kondisi lingkungan, fasilitas, dan beban aktivitas). Secara jenisnya, cedera dapat menyerang otot (strain seperti memar dan luka gores), ligamen (sprain atau terkilir), tendon, hingga patah tulang (fracture).
Edukasi dan Pertolongan Pertama pada Cedera
Dalam sesi praktik dan diskusi, peserta sangat antusis sharing pengalaman tentang penaganan yang pernah mereka lakukan dan Dr. Arif menggarisbawahi beberapa poin krusial terkait penanganan pertolongan pertama:
Fase Akut & Penggunaan Es: Pada penanganan awal cedera akut, sangat dianjurkan menggunakan kompres es selama kurang lebih 30 menit untuk memicu vasokonstriksi (penyempitan pembuluh darah) guna mengurangi pembengkakan dan rasa nyeri. Tindakan kompres ini dapat dilanjutkan hingga masa akut berakhir (sekitar 10 hari). Jika kondisi belum membaik, pasien dianjurkan segera merujuk ke fasilitas medis.

Aturan Pijat/Urut: Pijat atau urut baru boleh dilakukan setelah melewati masa akut 10 hari. Pemijatan pun dilarang keras dilakukan pada bagian yang luka/cedera langsung, melainkan di area sekitarnya dengan arah pemijatan menuju ke atas (ke arah jantung)
Penanganan Cedera Leher & Tengeng: Cedera leher tergolong insiden serious yang tidak boleh ditangani sendiri secara sembarangan dan wajib ditangani oleh tenaga medis ahli. Sementara untuk kondisi leher kaku/tengeng, pemijatan atau pembebasan ketegangan otot (release) dapat dilakukan dengan aman.
Wawasan Pemulihan Saraf Terjepit: Dr. Arif juga membagikan wawasan mengenai kasus saraf terjepit (Herniated Nucleus Pulposus/HNP), di mana kasus berat membutuhkan tindakan operasi. Selain faktor fisik, masalah psikologis dan gaya hidup seperti tingkat stres yang tinggi, emosi/ego tinggi, beban pikiran berlebih, serta gangguan psikis turut menjadi faktor pemicu yang memperparah kondisi medis tersebut.
Melalui pelatihan “Safe School, Ready Teacher” ini, diharapkan para guru PAUD, SD, dan Day Care Labschool UNNES memiliki tanggap darurat yang tepat, terampil, dan berbasis pengetahuan medis yang benar dalam menciptakan lingkungan sekolah yang aman, nyaman, serta ramah anak.





