Semarang — Akses terhadap pendidikan tinggi di bidang kedokteran dan kesehatan terus diperluas bagi mahasiswa dari keluarga kurang mampu. Pada 2025, sebanyak 150 mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Semarang (FK UNNES) tercatat sebagai penerima Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah. Dukungan tersebut menjadi bagian dari upaya membuka kesempatan pendidikan yang lebih setara sekaligus mendorong lahirnya sumber daya manusia kesehatan yang berkualitas.
Penerima KIP Kuliah tersebut berasal dari tiga angkatan. Sebanyak 35 mahasiswa merupakan angkatan 2023, 59 mahasiswa angkatan 2024, dan 56 mahasiswa angkatan 2025. Mereka tersebar pada empat program studi, yakni S1 Kesehatan Masyarakat sebanyak 92 mahasiswa, S1 Gizi 43 mahasiswa, S1 Farmasi 14 mahasiswa, dan S1 Kedokteran satu mahasiswa. Data tersebut menunjukkan bahwa dukungan pembiayaan pendidikan tidak hanya membuka pintu masuk ke perguruan tinggi, tetapi juga membantu mahasiswa mempertahankan keberlanjutan studinya di bidang yang berkaitan langsung dengan kesehatan masyarakat.
Dari perspektif pembangunan berkelanjutan, pemberian KIP Kuliah memiliki irisan kuat dengan Sustainable Development Goals (SDGs), terutama SDG 1: Tanpa Kemiskinan dan SDG 4: Pendidikan Bermutu. Pendidikan tinggi yang lebih inklusif memberi kelompok rentan peluang untuk meningkatkan kapasitas, memperoleh pekerjaan yang lebih baik, serta memperbaiki kondisi ekonomi keluarga. Dalam kerangka SDG 4, akses yang setara terhadap pendidikan tinggi yang terjangkau merupakan bagian penting dari agenda pembangunan pendidikan yang inklusif dan berkeadilan.
Dampaknya juga bersinggungan dengan SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera. Mahasiswa yang memperoleh kesempatan menempuh pendidikan kesehatan pada akhirnya diproyeksikan menjadi bagian dari ekosistem tenaga kesehatan yang berperan dalam meningkatkan kualitas pelayanan dan derajat kesehatan masyarakat. Dengan demikian, bantuan pendidikan tidak berhenti pada manfaat finansial bagi penerima, tetapi menjadi investasi sosial jangka panjang—membuka kesempatan bagi generasi muda sekaligus memperkuat fondasi pembangunan kesehatan yang berkelanjutan.



