Semarang – Setelah sebelumnya mengangkat tema literasi finansial, Tim Pelaksana PPK Ormawa SGL PGSD Universitas Negeri Semarang kembali menghadirkan materi baru yang tidak kalah menarik dalam rangkaian Pojok Literasi Tunas Ngrembaka. Pada Jumat,
17 Juli 2026, tim melaksanakan Pertemuan IV Pojok Literasi Tunas Ngrembaka di Madrasah Diniyah (Madin) RW 6, Kelurahan Podorejo, wilayah yang menjadi Titik Sasaran II (perkampungan) dalam program NGREMBAKA AKSARA. Kegiatan yang diikuti oleh 30 peserta anak usia sekolah dasar ini mengangkat tema Literasi Sains: Penjernihan Air, sebuah materi yang memadukan pengetahuan ilmiah dengan keterampilan praktik langsung.
Pemilihan tema penjernihan air ini menjadi bagian dari upaya memperluas cakupan literasi yang dikenalkan kepada anak-anak Kelurahan Podorejo, tidak hanya berhenti pada literasi bahasa dan finansial, tetapi juga merambah pada literasi sains sebagai bekal pengetahuan dasar mengenai lingkungan dan sumber daya air. Kegiatan ini menjadi kontribusi nyata terhadap SDGs 6: Air Bersih dan Sanitasi Layak, mengingat materi yang disampaikan secara langsung mengajarkan anak-anak mengenai pentingnya air bersih serta cara sederhana untuk memperoleh air yang lebih layak digunakan, sekaligus SDGs 4: Pendidikan Berkualitas, melalui pendekatan pembelajaran berbasis eksperimen yang mendorong anak berpikir ilmiah sejak usia dini.
Mengenal Air Bersih dan Air Kotor melalui Media Poster

Rangkaian kegiatan diawali dengan presensi peserta, sebelum dilanjutkan dengan sesi pengenalan materi bersama tim pelaksana. Pada tahap ini, anak-anak diajak mencermati materi melalui media ajar berupa poster edukatif, yang memuat penjelasan mengenai fungsi air bagi kehidupan, definisi air bersih dan air kotor, serta perbedaan karakteristik antara keduanya. Media visual ini dipilih agar anak-anak lebih mudah memahami konsep abstrak mengenai kualitas air melalui gambar dan ilustrasi yang konkret dan mudah dicerna sesuai tahap perkembangan kognitif mereka.
Selain memaparkan konsep dasar, tim pelaksana turut memperkenalkan berbagai bahan-bahan persiapan praktik yang akan digunakan pada sesi eksperimen, sehingga peserta memiliki gambaran awal mengenai proses yang akan mereka lakukan sebelum memasuki tahap praktik secara langsung. Pendekatan ini bertujuan membangun rasa ingin tahu sekaligus kesiapan peserta dalam mengikuti kegiatan eksperimen sains yang akan berlangsung selanjutnya.
Praktik Penjernihan Air: Belajar Sains melalui Pengalaman Langsung

Memasuki sesi inti, peserta dibagi ke dalam beberapa kelompok kecil yang didampingi oleh tim pendamping dan Ormawa sebagai fasilitator kelompok. Setiap kelompok kemudian melakukan praktik penjernihan air sederhana menggunakan susunan bahan yang telah disiapkan secara berurutan dan sistematis, yaitu: kerikil, pasir halus, pasir kasar, kapas di bagian paling bawah, kapas di bagian paling atas, serta arang, dengan air keruh sebagai bahan uji coba proses penyaringan.
Melalui susunan lapisan bahan tersebut, peserta dapat mengamati secara langsung bagaimana proses penyaringan sederhana mampu mengubah tampilan air keruh menjadi lebih jernih ketika melewati setiap lapisan media penyaring. Pengalaman belajar berbasis eksperimen nyata ini memberikan pemahaman yang jauh lebih bermakna dibandingkan penjelasan teori semata, karena anak-anak dapat menyaksikan sendiri proses perubahan kualitas air secara bertahap. Selama proses praktik berlangsung, tim pelaksana dan Ormawa mendampingi setiap kelompok secara saksama, memastikan seluruh peserta memahami fungsi dari masing-masing lapisan bahan penyaring serta terlibat aktif dalam setiap tahapan eksperimen.
Kegiatan praktik semacam ini tidak hanya melatih kemampuan sains dasar anak, tetapi juga menanamkan kesadaran sejak dini mengenai pentingnya menjaga kualitas air sebagai sumber daya vital bagi kehidupan sehari-hari, sebuah nilai yang relevan dengan kondisi lingkungan tempat tinggal anak-anak di wilayah perkampungan Kelurahan Podorejo.
Pendampingan Kelompok dan Pengerjaan Lembar Kerja Murid

Setelah sesi praktik selesai, tim pelaksana dan Ormawa membimbing masing-masing kelompok untuk mengerjakan Lembar Kerja Murid (LKM) sebagai instrumen evaluasi pemahaman peserta terhadap materi yang telah dipelajari. Melalui LKM ini, peserta diajak merefleksikan kembali proses praktik yang telah dilakukan, mulai dari susunan bahan penyaring, perubahan yang teramati pada air uji coba, hingga pemahaman mengenai pentingnya air bersih bagi kehidupan. Pendampingan yang dilakukan secara intensif oleh tim memastikan setiap peserta memperoleh kesempatan belajar yang merata sesuai dengan kemampuan masing-masing.
Ice Breaking dan Refleksi sebagai Penutup Kegiatan

Untuk menjaga semangat dan kegembiraan peserta hingga akhir kegiatan, tim pelaksana menyisipkan sesi ice breaking setelah pengerjaan LKM selesai. Sesi ini menjadi jeda menyenangkan sekaligus penyeimbang setelah peserta berkonsentrasi mengikuti materi dan praktik sains. Rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan sesi refleksi bersama, di mana peserta diajak mengulas kembali pengalaman belajar yang telah mereka lalui sepanjang pertemuan, mulai dari pengenalan konsep air bersih dan air kotor hingga praktik penjernihan air secara langsung.
Madin RW 6 sebagai Ruang Belajar Sains yang Inklusif

Pemanfaatan Madin RW 6 sebagai lokasi pelaksanaan kegiatan kembali menegaskan bagaimana fasilitas sosial-keagamaan yang telah dimiliki masyarakat dapat dioptimalkan sebagai ruang belajar tambahan bagi anak-anak, sejalan dengan semangat SDGs 11: Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan. Keberlangsungan kegiatan yang berjalan lancar dari awal hingga akhir juga tidak lepas dari dukungan pengurus Madin dan masyarakat RW 6, yang mencerminkan SDGs 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan melalui kolaborasi erat antara mahasiswa, perguruan tinggi, dan masyarakat di tingkat akar rumput.
Menumbuhkan Kesadaran Sains dan Lingkungan Sejak Usia Dini
Pertemuan IV Pojok Literasi Tunas Ngrembaka dengan tema Literasi Sains Penjernihan Air berjalan dengan lancar dan penuh antusiasme. Peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan baru mengenai konsep air bersih dan air kotor, tetapi juga mendapatkan pengalaman belajar sains yang konkret melalui praktik langsung penjernihan air sederhana. Pendekatan pembelajaran berbasis eksperimen ini terbukti efektif dalam menumbuhkan rasa ingin tahu, kemampuan berpikir ilmiah, serta kesadaran lingkungan anak sejak usia dini.
Melalui rangkaian pertemuan yang terus berkembang dari penguatan multibahasa, literasi finansial, hingga literasi sains Pojok Literasi Tunas Ngrembaka semakin menegaskan perannya sebagai ekosistem pembelajaran nonformal yang komprehensif dan lintas disiplin.
PPK ORMAWA SGL PGSD Universitas Negeri Semarang Bersama Berdaya, Mencerdaskan Bangsa. Ngrembaka Aksara, Tumbuh Menginspirasi.




